Follow us

Pengamat Yakini Walau Terdesak MIT Berhasil Rekrut Anggota Baru

Bergabung dengan Mujahidin Indonesia Timur dinilai menjadi salah satu pilihan bagi sel-sel pendukung ISIS di Indonesia.
Rina Chadijah
Jakarta
2019-03-25
Email
Komentar
Share
Dalam foto tertanggal 3 Juni 2013 ini, polisi mengeluarkan mayat seorang yang meledakkan dirinya di sebuah kantor polisi di Poso, Sulawesi Tengah, setibanya mayat itu di rumah sakit polisi di Poso.
Dalam foto tertanggal 3 Juni 2013 ini, polisi mengeluarkan mayat seorang yang meledakkan dirinya di sebuah kantor polisi di Poso, Sulawesi Tengah, setibanya mayat itu di rumah sakit polisi di Poso.
AP

Di tengah gencarnya operasi oleh aparat keamanan di Poso, Sulawesi Tengah, militan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) masih mampu merekrut anggota baru, demikian menurut pakar terorisme.

Sebelumnya pada Kamis minggu lalu, gabungan polisi dan TNI menembak mati tiga militan MIT dalam kontak senjata di Desa Marete, Kabupaten Parigi Moutong, Sulteng.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Dedy Prasetyo menyatakan tewasnya ketiga militan itu menyusutkan anggota MIT yang kini dipimpin oleh Ali Kalora ke jumlah tujuh orang.

Angka ini diragukan oleh Direktur Institute for Policy Analyst of Conflict (IPAC), Sidney Jones.

“Kalau ada tiga orang yang ditembak baru-baru ini, berarti tinggal 11, bukan tujuh. Tapi kita tidak bisa tahu pasti berapa jumlah mereka yang sebenarnya,” kata Sidney kepada BeritaBenar, Senin, 25 Maret 2019.

Sidney mengatakan sebelumnya ada informasi mengenai bergabungnya kelompok teroris lain dengan MIT, dengan menyamar sebagai relawan untuk membantu rehabilitasi dan rekonstruksi di Palu setelah terjadi gempa dan tsunami pada 28 September 2018.

Menurut Sidney, anggota militan yang bergabung dengan MIT berasal dari Ambon, Bima di Nusa Tenggara Barat, Banten dan Jawa Barat.

“Namun berapa jumlahnya sulit diprediksi, karena mereka bergerak di hutan dan berpindah-pindah,” ujarnya.

Bagi kelompok radikal, tambah Sidney, Poso menjadi daerah yang penting untuk mempertahankan eksistensi dan posisi tawar mereka di kalangan teroris internasional.

“Semenjak konflik Poso, kelompok pro-ISIS bisa mengklaim bahwa mereka menguasai tanah atau teritori. Jadi saya kira, walaupun sedikit jumlahnya masih tetap penting dari segi simbolisme kelompok ekstrim,” ujar Sidney.

Dari luar Sulteng

Peneliti terorisme dari Universitas Islam Syarif Hidayatullah Jakarta, Zaki Mubarak, juga mengatakan bahwa MIT mendapat dukungan dari Jamaah Ansharud Daulah (JAD) dan bekas anggota Jamaah Islamiah (JI).

“Beberapa unsur di MIT pernah ikut pelatihan militer di Filipina yang disponsori JI. Jadi hubungan JI, JAD dengan MIT seperti dua sisi mata uang, sangat dekat sekali,” ujarnya saat dihubungi.

Pendapat senada juga dikatakan Rakyan Adibrata, peneliti terorisme dari International Association for Counter-terrorism and Security Profesionals (IACSP) dengan menyebut, para militan dari luar Sulteng masih terdorong untuk bergabung dengan MIT.

“Ancaman terbesar bukan datang dari perekrutan oleh mereka terhadap orang-orang lokal. Orang-orang lokal bisa dipastikan potensi mereka terekrut amat minim. Potensi ancaman terbesar adalah orang-orang dari luar yang berusaha bergabung dengan MIT,” katanya.

Rakyan menambahkan tantangan terberat dalam memburu sisa-sisa militan MIT adalah densitas hutan dan luasnya wilayah pergerakan sehingga tak mungkin bisa diatasi hanya dengan mengandalkan human intelligence.

Sepeninggal tokoh utamanya, Santoso, yang tewas dalam baku tembak dengan TNI di Poso pada 18 Juli 2016, kata Zaki, memang sulit bagi MIT menyebarkan pengaruhnya sebab Ali Kalora bukanlah seorang idiolog.

Tetapi, sebagian masyarakat tetap bersimpati kepada kelompok ini dengan memberikan bantuan makanan dan merahasiakan keberadaan mereka kepada aparat.

“Karena histori masa lalu mereka pernah terlibat konflik Islam dan Kristen di daerah itu. Selama dukungan masyarakat cukup kuat, saya kira akan ada terus mereka,” ujarnya.

Bukti lain dukungan untuk MIT, kata Zaki, dapat dilihat dari setiap pemakaman militan yang tewas dalam Operasi Tinombala, yang disambut seperti seorang pahlawan.

“Santoso sendiri saat dimakamkan disambut ribuan orang, dianggap sebagai pahlawan, artinya di masyarakat Poso sendiri, ada dukungan dan simpati kepada mereka,” ujarnya.

Meskipun demikian, Sidney tidak yakin MIT akan membesar di bawah kepemimpinan Ali Kalora.

Apalagi dengan terbatasnya ruang gerak karena operasi pemburuan yang digelar polisi dan TNI.

“Terlalu banyak TNI-Polri di daerah itu. Saya kira mereka tidak mungkin menjadi besar seperti dua atau tiga tahun lalu,” ujarnya.

Sidney juga menyatakan bahwa dukungan persenjataan dari kelompok radikal di Filipina Selatan juga makin sulit karena gencarnya operasi gabungan di perbatasan Indonesia, Malaysia, dan Filipina.

Sepeninggal ISIS

Bergabung dengan MIT menjadi salah satu pilihan bagi sel-sel teroris pendukung ISIS di Indonesia, setelah kelompok teroris itu dinyatakan kalah di Suriah dan adanya seruan untuk melakukan jihad di negara masing-masing.

Zaki mengatakan, ada usaha kelompok teroris di Asia Tenggara yang sebelumnya sama-sama mendukung ISIS untuk membuat khilafah di Asia Tenggara dan Poso bisa menjadi salah satu lokasi strategis untuk dijadikan basis wilayah mereka.

“Peran untuk memproduksi ideologi bukan oleh Ali Kalora, tapi pihak luar yang selama ini masih mengikuti ideologi dari Aman Abdurrahman,” ujarnya.

Sidney juga mengatakan bahwa Poso masih menjadi tempat yang dianggap aman untuk menyebarkan paham radikal.

“Sebagaimana mereka sebut sebelumnya bahwa Poso itu menjadi Qoidah Aminah, atau tempat aman untuk orang-orang bergabung di sana. Tapi, saya kira jumlah yang begitu kecil, tidak mungkin mereka bisa menjadikan Poso sebagai wilayah atau negara Islam,” ujar Sidney.

Ami Afriatni di Jakarta turut berkontribusi dalam artikel ini.

Tampilan selengkapnya