Follow us

MRT Jakarta Mulai Diuji Coba Publik

Masyarakat menyambut antusias angkutan cepat massal yang telah ditunggu puluhan tahun itu.
Ismira Lutfia Tisnadibrata
Jakarta
2019-03-12
Email
Komentar
Share
Rangkaian kereta MRT Jakarta berhenti di peron Stasiun Lebak Bulus, Jakarta Selatan, untuk memulai perjalanan menuju Bundaran HI pada hari pertama uji coba publik Moda Transportasi Massal, 12 Maret 2019.
Rangkaian kereta MRT Jakarta berhenti di peron Stasiun Lebak Bulus, Jakarta Selatan, untuk memulai perjalanan menuju Bundaran HI pada hari pertama uji coba publik Moda Transportasi Massal, 12 Maret 2019.
Ismira Lutfia Tisnadibrata/BeritaBenar

Warga Jakarta dan sekitarnya bisa mencoba naik moda transportasi massal baru berupa kereta Moda Raya Terpadu (MRT) dalam uji coba publik yang dimulai Selasa, 12 Maret 2019, sampai akhirnya dioperasikan secara resmi akhir bulan ini.

Sekretaris Korporat PT MRT Jakarta, Muhamad Kamaluddin, mengatakan ada kuota sebanyak 285.600 peserta untuk ikut uji coba publik yang akan berlangsung hingga 24 Maret.

Hingga Minggu malam, 10 Maret 2019, sudah ada 181.209 orang yang mendaftar untuk mencoba jalur kereta sepanjang 16 kilometer yang membentang antara Lebak Bulus di Jakarta Selatan dan Bundaran Hotel Indonesia (HI) di Jakarta Pusat.

Stasiun MRT Bundaran HI masih menjadi pilihan terbanyak untuk stasiun keberangkatan dengan 41.826 orang mendaftar untuk naik MRT melalui stasiun tersebut.

William Sabandar, Direktur Utama PT MRT Jakarta, mengatakan bahwa uji coba publik itu berlangsung mulai jam 8.00 hingga jam 16.00 WIB dan penumpang dapat menikmati naik MRT selama maksimal dua jam.

“Hari ini kita akan mengangkut 4.000 penumpang,” ujar William.

Masyarakat yang sudah mendaftar bisa menikmati perjalanan selama 30 menit antara Lebak Bulus dan Bundaran HI yang berjalan 6 kilometer di bawah tanah dan 10 kilometer di struktur layang.

Kereta berhenti selama satu menit di setiap stasiun, yang terdiri dari 6 stasiun bawah tanah dari Bundaran HI hingga Senayan dan 7 stasiun layang mulai Sisingamangaraja hingga Lebak Bulus.

William mengatakan pembangunan koridor pertama MRT ini menggunakan biaya Rp16 triliun yang bersumber dari Pemerintah Pusat sebesar 49 persern dan sisanya oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Untuk menggenjot pemasukan mereka, PT MRT Jakarta menawarkan skema sponsor kepada perusahaan-perusahaan untuk hak penamaan stasiun yang akan disematkan bersama nama asli stasiun tersebut.

Pada saat uji coba hari pertama, sudah ada tiga stasiun yang menggandeng nama korporat dan bank plat merah, yaitu stasiun Duku Atas BNI, Setiabudi Astra, dan Istora Mandiri.

“Ada pengecualian untuk stasiun Sisingamangaraja, yang akan dinamakan Sisingamangaraja ASEAN karena berada di dekat gedung Sekretariat ASEAN,” ujar William.

Dia menambahkan untuk pembangunan fase kedua MRT yang akan menghubungkan tengah kota dengan bagian utara Jakarta sudah tersedia dana pinjaman sebesar Rp25 trilliun dari Japan International Cooperation Agency (JICA).

Koridor kedua itu akan melintasi 8 stasiun dari Bundaran HI hingga Kampung Bandan di Jakarta Utara.

Sambut baik

Netty Siregar, seorang warga Depok yang ikut serta dalam uji coba publik hari pertama, menyambut baik adanya MRT di Jakarta untuk melengkapi kota metropolis yang belum memiliki angkutan publik massal yang memadai dan dapat diandalkan seperti kota-kota besar lain di dunia.

“Lebih baik telat daripada tidak sama sekali. Sudah waktunya kita punya MRT dan kita sudah menunggu selama puluhan tahun,” ujarnya kepada BeritaBenar.

Netty yang berprofesi sebagai tenaga pemasaran di bidang properti mengatakan MRT ini akan sangat berguna baginya saat beraktivitas di wilayah Sudirman – Thamrin dimana terdapat 6 stasiun bawah tanah.

“Yang penting juga adalah keretanya bisa tepat waktu dan penumpangnya tertib,” ujar Netty.

Yusuf Maulana, peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang juga ikut serta dalam uji coba publik mengatakan keberadaan MRT ini akan membentuk budaya publik baru untuk menggunakan kendaraan umum.

“Ini akan jadi pilihan, apakah kita akan tetap mau terjebak dalam kemacetan di jalan dengan mobil atau motor, atau gunakan transportasi umum yang efektif dan efisien,” ujarnya kepada BeritaBenar.

Yusuf mengatakan dia bisa menggunakan MRT untuk menuju kantornya di Jalan Gatot Subroto walau harus menyambung lagi dengan kendaraan lain dari stasiun Istora atau berjalan kaki, sehingga konektivitas di luar stasiun menjadi penting untuk dikembangkan.

“Trotoar untuk pejalan kaki harus diperbaiki, dan integrasi dengan kendaraan umum lain juga harus dibuat mudah,” ujarnya.

Pakar tata kota dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga mengatakan pekerjaan rumah untuk pemerintah ke depan adalah mengintegrasikan setiap stasiun MRT dengan kawasan sekitarnya sehingga benar-benar terasa manfaatnya bagi masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sepanjang koridor MRT.

Selain itu, walaupun di dalam stasiun dan rangkaian kereta MRT sudah tersedia sarana yang ramah bagi penyandang disabilitas, tapi medan untuk menuju stasiun MRT masih kurang ramah disabilitas.

“MRT jangan sekedar mengantar penumpang dari pinggir kota Jakarta ke tengah kota, namun harus menjadi roda penggerak ekonomi bagi masyarakat di sekitar setiap stasiun,” ujar Nirwono kepada BeritaBenar.

Tampilan selengkapnya