Follow us

Amankan Natal dan Tahun Baru, Polri Kerahkan Hampir 200.000 Personel

Sejumlah terduga militan anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD) ditangkap di Papua.
Tia Asmara
Jakarta
2019-12-17
Email
Komentar
Share
Seorang polisi anggota penjinak bom memeriksa keamanan sebuah gereja untuk mengantisipasi serangan teror saat perayaan Natal, di Medan, Sumatra Utara, 24 Desember 2016.
Seorang polisi anggota penjinak bom memeriksa keamanan sebuah gereja untuk mengantisipasi serangan teror saat perayaan Natal, di Medan, Sumatra Utara, 24 Desember 2016.
AP

Total hampir 200.000 personel aparat gabungan akan dikerahkan di seluruh Indonesia untuk mengamankan perayaan Natal 2019 dan Tahun Baru 2020, demikian disampaikan Polri, Selasa, 17 Desember 2019, sementara 92 orang terduga militan telah ditangkap pasca bom bunuh diri di Medan bulan lalu.

“Ada 191.807 personel gabungan dikerahkan. Mereka ditugaskan di beberapa lokasi penting,” kata Karo Penman Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Pol. Raden Prabowo Argo Yuwono kepada BeritaBenar di Jakarta.

Angka ini lebih besar dibandingkan dengan pengerahan pasukan tahun 2018 yang berjumlah 167.000 personel.

“Kami tempatkan di lokasi-lokasi penting seperti jalur mudik, tempat ibadah, pariwisata, pusat perbelanjaan stasiun, terminal, bandara dan pelabuhan,” jelasnya.

Pasukan gabungan TNI dan Polri, tambah Argo, juga disiapkan untuk bergerak jika diperlukan.

“Untuk di Jakarta sendiri akan dikerahkan 10.000 personel gabungan,” katanya.

Pasukan gabungan itu terdiri dari beberapa instansi seperti TNI, Polri, Dinas Perhubungan, Pemerintah Daerah, Pemadam Kebakaran dan Badan SAR Nasional.

Terkait pengerahan pasukan lebih banyak dari tahun lalu, pakar terorisme dari Universitas Indonesia, Stanislaus Riyanta, mengatakan itu adalah bukti keseriusan TNI dan Polri mengantisipasi serangan teror.

“Natal dan Tahun Baru menjadi salah satu momentum yang menarik bagi kelompok radikal untuk melakukan aksinya,” katanya.

Selama ini, tambahnya, kelompok radikal di Indonesia yang terafiliasi dengan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) seperti Jamaah Ansharut Daulah (JAD) – kelompok teroris yang disebut pemerintah dan para ahli sebagai organisasi yang berada di balik serangkaian aksi teroris di Indonesia, tercatat melakukan aksi menargetkan polisi, markas polisi dan tempat ibadah.

“Namun dengan kematian pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi yang diserbu oleh pasukan AS maka kemungkinan sasaran kelompok radikal bisa melebar ke simbol-simbol asing terutama Amerika. Ini perlu diwaspadai,” katanya.

Sebulan lalu, pada 13 November 2019, Rabbial Muslim Nasution (24), seorang militan anggota JAD melancarkan aksi bom bunuh diri di halaman markas Kepolisian Resor Kota Besar Medan, Sumatra Utara, dan melukai lima polisi dan seorang warga sipil.

Sejak itu, menurut Argo, polisi telah menangkap 92 terduga teroris di sejumlah daerah yang sebagian di antaranya terkait dengan serangan bom bunuh diri tersebut.

Sebelumnya, sepasang suami istri anggota JAD pada Oktober lalu, menyerang dan menikam Wiranto yang saat itu menjabat sebagai Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) di Pandeglang, Banten. Polisi mengatakan aksi teror tersebut sebagai balas dendam pelaku atas ditangkapnya pimpinan JAD beberapa minggu sebelumnya.

Pasca serangan atas Wiranto, puluhan terduga militan ditangkap di sejumlah wilayah.

Pengganti Wiranto, Menkopulhukam Mahfud MD, beberapa hari lalu mengatakan ia menjamin perayaan Natal dan akhir tahun akan berjalan aman.

“Pengamanan sudah sesuai standar. Yang rawan masalah terorisme, kecelakan lalulintas dan masalah bahan pokok itu sudah kami persiapkan agar tidak terjadi suatu apapun,” katanya.

Dia mengatakan penegakan hukum akan terhadap segala bentuk tindak pidana dalam perayaan Natal.

“Tidak boleh ada sweeping oleh pihak swasta, yang boleh sweeping itu Polri dan TNI saja, di luar itu kalau ada yang sweeping atas nama siapapun harus ditindak secara hukum,” ujarnya.

Papua

Kabag Penum Divisi Humas Polri, Kombes Asep Adi Saputra, menyebutkan Polri telah menangkap delapan terduga teroris di Kabupaten Jayapura, Papua, pada akhir pekan lalu.

Tujuh orang ditangkap pada Sabtu setelah sehari sebelumnya polisi menciduk terduga teroris berinsial KWN, katanya.

"Kami mendapatkan informasi bahwa adanya delapan terduga teroris ditangkap oleh Densus 88 di Kabupaten Jayapura, Papua," katanya, tanpa memerinci lebih detil identitas mereka.

"Kelompok ini semua terduga dalam jaringan JAD Lampung dan Medan. Jadi secara keseluruhan semuanya ada delapan terduga teroris yang ditangkap oleh Densus 88," jelasnya.

Polri juga telah menangkap enam terduga teroris yang juga disebut bagian dari JAD di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan tiga orang di Aceh, pada awal Desember.

Stanislaus Riyanta menyatakan kelompok radikal pelaku teror memang mencari daerah konflik untuk menjalankan aksinya.

“Sehingga tidak heran jika mereka menyasar Papua, karena sudah terjadi dulu di Ambon dan Poso. Mereka bisa memanfaatkan situasi itu untuk kebutuhan eksistensi,” katanya kepada BeritaBenar.

“Ini karena mereka tidak bisa hijrah ke Timur Tengah sehingga mencari daerah terdekat untuk menjalankan aksinya yang mereka percayai sebagai panggilan bagi kelompok lainnya.”

Sedangkan, pakar terorisme dari Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), Sidney Jones, mengatakan kelompok teroris yang pergi ke Sentani, Papua, hanya karena ada orang buron yang ingin cari tempat jauh untuk menghindari polisi.

“Kebetulan mereka ada kenalan di Sentani. Memang pernah ada yang melihat Freeport sebagai target yang menarik tapi sepertinya mereka tak pernah membuat suatu rencana yang matang, apalagi kemampuan mereka sangat low capacity, incompetent,” kata Sidney.

Tampilan selengkapnya