Follow us

Buntut Konflik Bersenjata, Sekolah dan Layanan Kesehatan di Nduga Terhenti

TNI-Polri masih terus memburu kelompok separatis yang bertanggung jawab atas tewasnya 19 pekerja Desember lalu di sana.
Victor Mambor
Mbua, Papua
2019-01-10
Email
Komentar
Share
Warga duduk di halaman Gereja Imanuel di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga, 8 Januari 2019, untuk menerima bantuan logistik dari Pemerintah Provinsi Papua.
Warga duduk di halaman Gereja Imanuel di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga, 8 Januari 2019, untuk menerima bantuan logistik dari Pemerintah Provinsi Papua.
Victor Mambor/BeritaBenar

Sejumlah sekolah, layanan kesehatan, dan kantor pemerintahan di Kabupaten Nduga, Papua, hingga kini masih tutup sebagai akibat dari konflik bersenjata yang terus berlangsung antara kelompok separatis Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) dan TNI-Polri di wilayah tersebut.

Ketakutan masih membayangi warga Yigi, salah satu distrik di Nduga, lokasi dimana 19 pekerja rekonstruksi jembatan di wilayah tersebut tewas diserang oleh TPNPB pimpinan Egianus Kogoya pada 2 Desember 2018.

Sementara keadaan mulai kondusif di distrik tetangganya, Mbua, lokasi dimana sebuah pos TNI diserang sehari sesudahnya oleh kelompok TPNPB yang menewaskan seorang tentara, sekolah-sekolah dan klinik kesehatan di wikayah itu tetap tidak berjalan.

Beberapa warga Mbua mengatakan ratusan anggota TPNPB dengan beragam senjata, baik senjata api modern maupun tradisional seperti panah dan parang, mengepung dan menyerang pos TNI yang saat itu menjadi penampungan pekerja selamat.

“Mereka muncul dari gunung-gunung yang mengelilingi Mbua. Lalu menyerang pos TNI,” kata seorang warga Mbua yang menolak disebutkan namanya kepada BeritaBenar, Selasa, 8 Januari 2019.

Pembunuhan belasan pekerja konstruksi jalan Trans Papua dan serangan atas pos keamanan itu membuat pasukan TNI-Polri melakukan operasi untuk memburu anggota kelompok separatis yang menuntut Papua merdeka itu.

Operasi itu mengakibatkan ratusan warga di kabupaten pedalaman Papua tersebut mengungsi ke hutan karena mereka khawatir terjebak dalam kontak senjata antara TNI-Polri dan TPNPB.

Anak-anak terpaksa tak sekolah karena guru mereka pergi akibat kekerasan bersenjata di Kabupaten Nduga, Papua, 8 Januari 2019. (Victor Mambor/BeritaBenar)
Anak-anak terpaksa tak sekolah karena guru mereka pergi akibat kekerasan bersenjata di Kabupaten Nduga, Papua, 8 Januari 2019. (Victor Mambor/BeritaBenar)

Sekolah tutup

Di Mbua, aktivitas belajar mengajar di SD, SMP, dan SMA sudah tidak berlangsung sejak Juli tahun lalu, karena para guru telah meninggalkan tempat itu.

“Guru kasih tinggal begitu saja. Kami tidak tahu, ini libur kah atau apa. Sampai sekarang kami belum masuk sekolah,” kata Andius, seorang siswa SMA Mbua saat ditemui BeritaBenar.

Danrem 172/Praja Wira Yakthi, Kolonel Inf Binsar Sianipar, membenarkan perihal tak ada proses belajar-mengajar itu.

“Sekolah di Mbua ini sudah berhenti aktivitasnya sejak enam bulan lalu,” katanya saat mengunjungi Mbua untuk penyerahan bantuan kemanusiaan dari Pemerintah Provinsi Papua kepada warga setempat.

Enam bulan lalu, Mbua memang menjadi tempat mengungsi warga dari Kampung Alguru dan Keneyam, ibu kota Nduga, setelah konflik bersenjata pecah di dua tempat itu.

Kedatangan sejumlah warga dari Keneyam dan Alguru ke Mbua membuat masyarakat setempat khawatir bahwa konflik akan menyebar ke wilayah mereka.

Akibatnya, para guru, tenaga kesehatan serta aparat pemerintahan keluar dari Nduga ke utara menuju Wamena di Kabupaten Jayawijaya dan ke Kabupaten Asmat di selatan.

Binsar mengaku sudah mengimbau warga Mbua agar kembali ke kampung mereka dan menjalankan aktivitas seperti biasa.

“Kehadiran TNI kan untuk melindungi masyarakat,” ujarnya.

Namun warga mengaku trauma dengan kehadiran TNI-Polri di daerah mereka.

“Kami tidak pernah hidup dengan tentara dan polisi. Kami tidak tahu mereka siapa. Kami takut pada mereka,” ungkap seorang warga Mbua.

Saat ini, SMA Mbua dan rumah para guru SMA itu digunakan anggota TNI sebagai tempat tinggal.

Sementara kantor distrik dan rumah kepala distrik menjadi tempat tinggal anggota Polri selama mereka selama bertugas di Mbua sehingga aktivitas pemerintahan ikut terhenti.

Layanan kesehatan pun lumpuh karena tidak ada petugas.

Dampak langsungnya dirasakan ibu-ibu hamil dan balita.

“Minggu lalu, seorang ibu meninggal saat melahirkan karena ari-ari anaknya tersangkut. Bayinya juga meninggal,” ungkap Elias Tabuni, mantri yang ditugaskan oleh tim bantuan kemanusiaan Pemerintah Papua untuk memberikan pelayanan medis bagi warga Nduga.

Penembakan lagi

Tim kesehatan Pemerintah Papua yang dikawal anggota TNI untuk memberikan layanan bagi warga Nduga membatalkan perjalanan ke Distrik Yigi karena diserang kelompok separatis.

“Kami terpaksa balik ke Mbua karena ditembaki. Tentara bilang tidak aman dan sebaiknya kami kembali ke Mbua,” ujar Elias.

Dia menambahkan pihaknya sudah memberikan pelayanan kesehatan kepada 800 orang di Distrik Mbua, Dal dan Mbumuyalma di Nduga, sejak akhir bulan lalu.

Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Kol. Inf. Muhammad Aidi, menyatakan kelompok TPNPB kembali menghadang TNI di Kampung Gigobak, Distrik Sinak, Kabupaten Puncak Jaya, Rabu pagi, sehingga seorang tentara tertembak di lengan dan betis.

“Setelah dilakukan perlawanan, mereka melarikan diri. Lalu dilakukan pengejaran dan seorang anggota mereka tewas. Tidak ada identitas dan warga di sana tidak ada yang mengenal,” katanya.

Aidi menambahkan bahwa pasukan TNI-Polri masih terus memburu kelompok pimpinan Egianus.

“Anggota kelompok ini bisa bersembunyi sebagai masyarakat sipil, PNS, atau anggota DPRD hingga pemerhati HAM hingga membuat aparat kesulitan mendeteksi mereka. Akibatnya susah mengenali mereka,” ujarnya.

Namun, warga setempat mengatakan TNI-Polri kesulitan mengejar kelompok Egianus karena kondisi geografis di Mbua yang sangat berat.

Mbua dan distrik-distrik sekitarnya merupakan kawasan gunung, lembah, jurang serta sungai deras, ditambah cuaca dan suhu sangat dingin.

“Orang-orang Egianus bisa lima kali bolak-balik naik turun gunung. Kalau orang lain satu kali saja sudah hosa (capai),” ujar seorang warga Mbua.

Tampilan selengkapnya