Nelayan Aceh Selamatkan Lima Muslim Rohingya di Selat Malaka

Menurut pejabat Kantor Imigrasi Langsa, warga Rohingya itu berangkat dari Myanmar dengan tujuan Malaysia.
Nurdin Hasan
Banda Aceh
2018-04-06
Share
180406-ID-rohingya-620.jpg Tiga dari lima warga etnis Rohingya yang diselamatkan nelayan saat terombang-ambing di Selat Malaka dievakuasi ke rumah sakit di Kabupaten Aceh Timur, 6 April 2018.
AFP

Nelayan Aceh menyelamatkan lima pengungsi Muslim Rohingya yang terombang-ambing dalam sebuah perahu kayu di Selat Malaka selama sekitar 20 hari, setelah lima pengungsi lainnya tewas dan telah dibuang ke laut, demikian kata pihak berwenang.

Kelima warga Rohingya itu terdiri dari dua perempuan dan tiga laki-laki termasuk seorang bocah lelaki 8 tahun.

Mereka segera dilarikan ke Rumah Sakit Zubir Mahmud, setibanya mereka di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Kuala Idi, Kabupaten Aceh Timur, Jumat dinihari, 6 April 2018, demikian disampaikan Sekretaris tim SAR Aceh Timur, Herman.

“Kondisi mereka ketika tiba di darat agak lemas meski telah diberi makan oleh nelayan setelah ditemukan. Mungkin karena sudah lama berada di laut,” kata Herman kepada BeritaBenar.

Panglima Laot Kuala Idi, Razali M Ali,mengatakan saat ditemukan nelayan Aceh kondisi kelima warga Rohingya itu cukup memprihatinkan “sebab sudah beberapa hari mereka tidak makan”.

Panglima laot merupakan lembaga adat tempat bernaungnya para nelayan di Aceh.

“Jika kita lihat perahu yang mereka pakai sangat tidak layak mengarungi lautan karena sangat kecil dan tidak ada mesin. Tapi, mereka betul-betul nekat,” katanya.

Razali menyebutkan, setelah kelima manusia perahu itu dinaikkan dalam kapal nelayan, perahu kayu mereka yang panjangnya hanya delapan meter juga ikut ditarik ke pelabuhan dan kini bersandar di TPI Kuala Idi.

Komandan Pos TNI Angkatan Laut Kuala Idi, H.B. Aris Santo, mengatakan keberadaan kelima Muslim Rohingya itu diketahui nelayan Aceh saat mereka berada di perairan sekitar 176 mil dari bibir pantai Aceh, pada Senin malam lalu

“Muslim Rohingya yang terdampar itu ditemukan kapal nelayan warga empat hari lalu di laut lepas,” tutur Aris kepada wartawan.

Dari pengakuan mereka meski dengan komunikasi terbatas, lanjutnya, warga Rohingya itu sudah terombang ambing di laut selama 20 hari setelah meninggalkan kampungnya di negara bagian Rakhine, Myanmar.

‘’Mereka awalnya berjumlah sepuluh orang dengan menggunakan sampan, tapi lima di antaranya telah meninggal dunia karena kekurangan makanan dan dibuang ke laut,’’ jelas Aris.

Dibawa ke Imigrasi

Afrizal, Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Langsa, menyatakan kelima warga Rohingya itu sudah dijemput petugas Imigrasi dari rumah sakit, Jumat siang.

“Kami belum periksa mereka. Kami sudah koordinasi dengan UNHCR dan IOM,” katanya kepada BeritaBenar mengacu pada badan PBB untuk urusan pengungsi dan organisasi internasional yang mengurus masalah migrasi.

“Mungkin besok kami akan mulai memeriksa dokumen identitas mereka setelah datang penerjemah dari IOM.”

Afrizal menambahkan berdasarkan pengakuan mereka kepada staf IOM yang berbicara melalui telepon, kelima manusia perahu Rohingya itu sudah sebulan setengah berada di laut sejak meninggalkan kampungnya di Myanmar.

“Mereka berangkat dari Myanmar dengan tujuan Malaysia,” pungkasnya.

Pada hari Selasa, otoritas Malaysia mencegat sebuah perahu yang membawa 56 orang Rohingya. Badan Penindakan Maritim Malaysia mendapati perahu tersebut mengangkut 36 orang dewasa dan sekitar 20 anak dari Pulau Langkawi.

Pejabat Malaysia mengatakan kapal itu berlayar dari Cox's Bazaar, Bangladesh, di mana sekitar 700.000 orang Rohingya telah mengungsi sejak Agustus 2017 setelah melarikan diri dari kekerasan di negara bagian Rakhine, Myanmar.

Pada 2015 lalu, sekitar 1.000 warga Rohingya sempat terdampar dan diselamatkan para nelayan Aceh.

Meski mendapat perlakuan baik dari warga Aceh, sebagian besar memilih melarikan diri ke Malaysia untuk mencari pekerjaan. Sisanya telah mendapatkan suaka politik di negara ketiga.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya