Follow us

Jelang Pilkada, NU & Muhammadiyah Gelar Pertemuan Tertutup

Pertemuan tertutup ini bertujuan untuk membina silaturahmi dan bersatu untuk mencegah perpecahan bangsa.
Zahara Tiba
Jakarta
2018-03-23
Email
Komentar
Share
Ketua Umum PP Muhammadiyah Chaedar Nashir (dua dari kiri) dan Sekretarisnya, Abdul Mu’ti (kiri) dijamu makan siang oleh Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj (dua dari kanan) dan Sekretaris Jenderalnya, Helmy Faishal (kanan) di Jakarta, 23 Maret 2018.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Chaedar Nashir (dua dari kiri) dan Sekretarisnya, Abdul Mu’ti (kiri) dijamu makan siang oleh Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj (dua dari kanan) dan Sekretaris Jenderalnya, Helmy Faishal (kanan) di Jakarta, 23 Maret 2018.
Tyaga Anandra/BeritaBenar

Dalam menghadapi pesta demokrasi berupa Pilkada Juni mendatang serta Pemilu dan Pemilihan Presiden 2019, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj mengajak masyarakat untuk menikmati pesta demokrasi dengan gembira.

Ajakan ini disampaikan dalam acara pertemuan tertutup Pimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Pengurus Pusat Muhammadiyah di kantor pusat PBNU, Jakarta, Jumat, 23 Maret 2018.

"Masak hanya dengan 5 menit nyoblos, kita mau hancurkan persaudaraan 70 tahunan. Jahiliyah itu namanya," ujar Said.

Menurutnya, ulama adalah orang-orang pintar yang mampu me-manage kebersamaan, saling menghormati sesama muslim dan non-muslim.

“Di Irak dan Suriah, mereka saling menghancurkan. Di Mesir, shalat Jumat dibom. Mati 385. Islam apa itu?,” tegasnya.

Ia berharap hal seperti itu tak terjadi di Indonesia yang merupakan negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia karena “Kita punya keistimewaan.”

“Walau kita punya pilihan politik yang beda, kita tidak seperti di Irak, Iran dan Suriah," imbuhnya.

Didampingi beberapa orang pengurus lain, termasuk Sekretaris organisasi Abdul Mu'ti, Ketua Umum Muhammadiyah Chaedar Nashir disambut hangat oleh Said Aqil Siradj, dan mengajak mereka makan siang bersama.

Said mengatakan kunjungan pengurus PP Muhammadiyah ke kantor NU sebagai bentuk silaturahim.

"Seperti kakak tertua yang mengunjungi adiknya," ujarnya dalam jumpa pers bersama, yang langsung disambut keriuhan peserta.

Pertemuan pengurus kedua organisasi besar ini juga membahas sejumlah permasalahan yang dihadapi bangsa belakangan, termasuk menangkal hoax dan ujaran kebencian, serta membangun sikap bersama dalam menghadapi tahun politik 2018 dan 2019.

Said mengatakan silaturahim tersebut tak akan berarti tanpa menyamakan persepsi dan aksi dalam mencapai cita-cita bersama bangsa.

NU dan Muhammadiyah, lanjutnya, punya peran besar dalam memerdekakan Indonesia yang berkembang menjadi negara damai, bukan negara agama atau suku.

Untuk itu, kata Said, pada tahun politik ini seluruh elemen bangsa harus bergandengan tangan menjaga persatuan dan kesatuan, mengingat suasana politik mulai hangat.

"Kami sepakat membangun kenyamanan dan keamanan. Tunjukkan Indonesia bangsa yang beradab, bukan bangsa biadab. Karena sesuai Islam, yakni agama peradaban," ujar Said.

Merajut kebersamaan

Sementara itu, Chaidar mengatakan kebersamaan telah ditunjukkan para pendiri kedua organisasi serta tokoh-tokoh nasionalis lain.

"Kita menginginkan Islam yang rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam). Namun kita berharap juga Islam bersatu, terutama di masa kritis. Komitmen semua sebenarnya satu napas. Jadi sebenarnya tidak terlalu spesial silaturahim ini," paparnya.

Ditanya apakah dalam pertemuan sempat dibicarakan tentang pernyataan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang mengatakan Indonesia akan bubar tahun 2030, Said menimpali, "pernyataan bersama kami secara tidak langsung menjawab itu, bahwa Indonesia akan terus berdiri".

Dalam sebuah video yang diuggah Gerindra di laman Facebook, Senin lalu, Prabowo sempat menyinggung soal bubarnya Indonesia pada 2030.

Setelah mendapat beragam tanggapan dari berbagai kalangan, Prabowo menyebutkan bahwa pernyataannya itu bersumber dari sebuah novel fiksi.

Menurut Chaedar, Indonesia tetap eksis bila nilai-nilai kemerdekaan yang dicita-citakan para pendiri bangsa tetap hidup.

"Jika cita-cita ini luruh, baru Indonesia bubar," tegasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan Indonesia telah menjalani masa reformasi selama hampir dua dasawarsa, maka seharusnya semua pihak makin dewasa dalam berdemokrasi.

"Jangan terlalu cengeng terhadap realitas bahwa bangsa ini besar. Bangsa ini seperti rumpun bambu, terlihat besar tapi tetap ada pergesekan. Yang penting adalah dialog dan tetap terbuka pada pemikiran lain,” pungkas Chaedar.

Tampilan selengkapnya