Nusa Penida, Telur Emas Bali yang Baru Menetas

Anton Muhajir
2016.07.06
Nusa Penida
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
160706_ID_NusaPenida_1000.jpg Warga melintasi jalan raya yang sudah diaspal di Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali, 27 Juni 2016.
Anton Muhajir/BeritaBenar

Made Sutarsa (38) tersenyum optimis saat bercerita. Dia menunjuk penginapan yang baru dibangun tahun ini. Dengan modal Rp 400 juta, ia membangun tiga penginapan dengan lima kamar tersebut.

“Biar kami juga bisa menikmati kue pariwisata di pulau kami sendiri,” tuturnya ketika ditemui BeritaBenar, akhir Juni lalu. Saat itu, semua kamar di penginapannya penuh terisi dengan tamu turis dari Belgia, Perancis, dan Australia.

Lokasi penginapan Gepah Garden milik Sutarsa berada di Desa Majuh Batumupalan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali. Nusa Penida ialah kawasan tiga pulau di tenggara Pulau Bali. Selain Nusa Penida, ada juga Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan.

Terpisah oleh Selat Badung selebar kira-kira 10 km membuat Nusa Penida selama ini agak tertinggal pembangunannya dibandingkan daerah lain di Bali selatan, terutama Denpasar dan Badung. Begitu pula di bidang pariwisata.

Dibandingkan dua pulau lain yang lebih kecil, Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan, Nusa Penida belum terlalu dikenal. Pulau seluas 202,6 km persegi ini hanya dianggap daerah tandus. Kondisi geografis yang berbukit-bukit menjadi tantangan tersendiri.

‘Telur emas’

Mantan Gubernur Bali, Dewa Berata pernah menyatakan, Nusa Penida adalah “telur emas” Bali. Jika dilihat di peta, bentuk Pulau Bali memang menyerupai ayam dengan kaki di Bali bagian selatan. Nusa Penida pas di sisi tenggara serupa telur pulau ini.

Analogi lain, Bali sebagai daerah pariwisata utama di Indonesia adalah emas. Adapun Nusa Penida adalah telur emas tersebut.

“Mungkin hanya untuk memuji biar masyarakat Nusa Penida lupa bahwa ia miskin,” kata Wayan Sukadana, pendiri dan pembina Forum Diskusi Krama Muda Nusa Penida sambil tertawa.

Nusa Penida memang termasuk ketinggalan dalam pembangunan di Bali selama ini. Namun, sejak dua tahun terakhir, Nusa Penida terus menggeliat. Ini tak lepas dari komitmen Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta yang memang berasal dari Nusa Penida.

Saat Semarapura Festival di Klungkung, akhir April lalu, dia mengatakan Nusa Penida menjadi salah satu fokus pembangunan, termasuk sektor pariwisata. Dengan luas mencapai dua pertiga dari Klungkung, Nusa Penida berperan penting di kabupaten ini.

Pembangunan dipacu

Menurut Sukadana, sejak dua tahun terakhir pembangunan di Nusa Penida terasa geliatnya, terutama infrastruktur. Dia menyebutkan contoh pembangunan jalan raya sepanjang 42 km tahun lalu yang menghabiskan Rp 42 miliar.

Jalan cold mix itu amat penting bagi warga Nusa Penida yang jarak antar-desa agak berjauhan. “Tahun ini saya dengar akan dibangun lagi jalan cold mix hingga 60 km,” katanya.

Infrastruktur lain yang sedang dibangun adalah rumah sakit pratama, tanggul pantai, alat pengolahan air laut (seawater reverse osmosis) di Nusa Ceningan, dan akses dari Bali daratan menuju Nusa Penida.

“Mudahnya akses transportasi menuju dan di dalam pulau akan berdampak pada kemudahan mobilitas warga maupun turis,” lanjut Wayan.

Saat ini, akses menuju Nusa Penida dari Bali daratan terus bertambah. Selain dengan kapal cepat dari Sanur di Denpasar, kapal penyeberangan juga tersedia di Pelabuhan Padangbai, Karangasem, dan Goa Lawah serta Kusamba, Klungkung.

Seorang warga menyiapkan bibit rumput laut di Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali, 27 Juni 2016. (Anton Muhajir/BeritaBenar)

Meskipun masih mengandalkan pertanian rumput laut, perikanan, perkebunan, dan jasa, Nusa Penida juga mulai mendapatkan berkah dari kue pariwisata di Bali selatan.

Dampaknya terasa hingga ke desa-desa, seperti dialami Komang Setiabudi, seorang warga Desa Batumadeg. Pemilik warung makan di perbukitan ini bisa mendapatkan lebih banyak pembeli, terutama turis asing.

“Tiap hari ada saja turis asing yang mampir warung saya,” katanya.

Pariwisata rakyat

Banyaknya turis di Nusa Penida tak lepas dari gencarnya promosi pariwisata melalui media sosial. Pemuda lokal Gede Sukara, misalnya, lebih memilih menjadi pemandu perjalanan dibandingkan pekerjaan lamanya sebagai penjaga toko.

“Hasilnya lebih banyak,” ujarnya.

Dia mengelola media sosial, terutama Facebook dan Instagram, untuk mengenalkan lokasi-lokasi pariwisata di Nusa Penida. Di dua akun itu, ia juga memberikan layanan sebagai pemandu, termasuk mengurusi transportasi dan akomodasi.

Gepah Garden, penginapan milik Sutarsa, menjadi salah satu langganan tamu-tamu yang dipandu Gede.

Dengan model pariwisata berbasis kerakyatan begitu, Nusa Penida lebih berdampak terhadap warga lokal, seperti Sutarsa dan Gede.

“Biar nanti kami tak hanya menjadi penonton atas kemajuan pulau kami sendiri,” kata Sutarsa.

Wayan senada dengan Sutarsa. Menurut dia, pariwisata Nusa Penida memang harus menjadikan masyarakat sebagai obyek dan subyeknya.

“Masyarakat harus menjadi pelaku sekaligus yang terdampak oleh pariwisata,” tutur Wayan.

Dia menambahkan, langkah konkret yang bisa dilakukan pemerintah menjadikan pertanian rumput laut sebagai atraksi wisata, pengolahan rumput laut sebagai kuliner atau panganan bagi wisatawan.

“Jika nanti ada pembangunan hotel berbintang, sebaiknya tak lebih dari lima buah. Selebihnya masyarakat yang membangun penginapan sehingga duit dari pariwisata bisa langsung ke masyarakat,” ujarnya.

Sayangnya, tutur Wayan, pemerintah lokal belum merencanakan konsep pariwisata berbasis kerakyatan. “Saya justru mulai khawatir karena pemberian izin yang lebih didominasi investor besar,” pungkasnya.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.