Serukan Boikot, Ormas Islam Demo Tolak Pernyataan Presiden Prancis

Sejumlah pemimpin Muslim Prancis kutuk seruan boikot produk Prancis oleh negara-negara Muslim dan menuduh mereka manfaatkan Islam untuk politik.
Tia Asmara
2020.11.02
Jakarta
201102_ID_macron_1000.jpg Pengunjuk rasa melakukan protes mengecam Presiden Prancis Emmanuel Macron di depan Kedutaan Besar Prancis di Jakarta, 2 November 2020.
AFP

Ribuan massa yang tergabung dari beberapa organisasi massa (ormas) Islam, Senin (2/11), melakukan aksi protes di depan Kedutaan Besar Prancis di Jakarta menuntut permohonan maaf Presiden Emmanuel Macron atas ucapannya yang dinilai menyudutkan umat Muslim menyusul adanya sejumlah aksi kekerasan yang dilakukan ekstrimis di negara tersebut.

Massa yang dimotori Front Pembela Islam (FPI) dan Persatuan Alumni (PA) 212 berkumpul di Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat - jalur utama di ibu kota dan meneriakkan takbir. Mereka juga berorasi mengajak massa untuk memboikot seluruh produk buatan negara Eropa tersebut.

“Kalau ada produk Prancis jangan dibeli, setuju?” demikian seruan pengunjuk rasa.

Dalam pidatonya 2 Oktober lalu, Presiden Emmanuel Macron menyebut Islam sebagai “agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia, seraya menambahkan bahwa dirinya perlu “membebaskan Islam di Prancis dari pengaruh luar” melalui rencananya menghentikan peraturan yang membolehkan para Imam belajar di luar negeri, mengurangi homeschooling dan mengontrol dana keagamaan.

Pernyataan Macron tersebut merespons aksi pemenggalan terhadap Samuel Paty (47), seorang guru di Paris yang dibunuh oleh remaja Muslim migran, Abdullah Anzorov (18), karena menunjukkan kartun Nabi Muhammad di kelas yang sedang diajarnya saat menerangkan soal kebebasan pada pertengahan Oktober lalu.

Dalam lanjutan pidatonya, Macron juga mengatakan tidak akan menghalangi penerbitan ulang karikatur Nabi Muhammad SAW oleh majalah Charlie Hebdo karena merupakan bagian dari kebebasan berpendapat.

Dua pekan setelahnya, serangan yang menewaskan tiga orang kembali terjadi di sekitar Gereja Notre Dame Basilica, Nice, Prancis, oleh remaja migran Muslim bernama Brahim Aouissaoui (21).

Merespons hal tersebut, Macron membuat pernyataan dengan mengatakan negaranya tengah dilanda serangan “teroris Islam”. “Sekali lagi, pagi ini, tiga rekan kita gugur di Nice di basilika Notre Dame, Nice. Dan jelas sekali Prancis sedang diserang,” ucapnya dalam konferensi pers di lokasi kejadian.

Koordinator lapangan aksi massa Islam, Ujang Supandi mengatakan aksi unjuk rasa ini dilakukan sebagai bentuk kemarahan umat Muslim atas serangkaian pernyataan yang dibuat Macron tersebut.

“Sebagai Muslim, siapapun yang merasa Muslim harus marah karena pernyataan Presiden Prancis sudah menghina kemuliaan Rasulullah,” ujar pria yang juga anggota ormas Laskar Pembela Islam (LPI) ini, kepada BenarNews.

“Kami berdemonstrasi sebagai bentuk cinta kami kepada Nabi Muhammad SAW, dan mewakili aspirasi umat Islam lainnya yang tidak berani bersuara,” lanjutnya.

Tim Hukum FPI, Aziz Yanuar, mengatakan massa juga menuntut permintaan maaf Presiden Macron. “Sebelum ada permintaan maaf kepada umat Islam, kita akan boikot terus, kita akan boikot produk Prancis,” kata Aziz.

Atase Pers Kedubes Prancis, Dominique Roubert mengatakan Kedubes Prancis tetap membuka layanan hingga siang hari. Namun ia tidak mengeluarkan komentar terkait demonstrasi tersebut.

“Demonstrasi berlangsung sangat damai. Sebuah pernyataan telah diserahkan pihak FPI kepada pihak Kedubes,” ujar dia, tanpa memberikan keterangan lebih lanjut.

Pemimpin Muslim Prancis kutuk seruan boikot

Sementara itu pada hari yang sama, beberapa pemimpin Muslim Prancis mengutuk seruan boikot produk-produk Prancis yang dilakukan sejumlah negara-negara Muslim sebagai "tidak bisa dibenarkan" dan sebaliknya menuduh mereka "memanfaatkan Islam untuk keuntungan politik", demikian disampaikan AP.

"Ada kalanya kami harus menunjukkan solidaritas dengan negara kami yang telah mengalami serangan yang tidak dapat dibenarkan dalam beberapa pekan terakhir," kata kepala tiga masjid besar dan tiga asosiasi Muslim di Prancis dalam sebuah pernyataan bersama.

Hukum Prancis, kata mereka, "memberi banyak ruang untuk kebebasan berekspresi" dan memberi warga hak "untuk percaya atau tidak percaya,” merujuk pada undang-undang negara tersebut yang membebaskan warganya untuk percaya atau tidak akan Tuhan.

Tokoh pimpinan dari Masjid Agung Paris, Lyon dan dari Kumpulan Pulau Mediterania Prancis, bersama dengan para pemimpin dari tiga kelompok Muslim di negara tersebut mengutuk terorisme "dan segala bentuk kekerasan atas nama agama kami", demikian pernyataan mereka.

Kecaman Jokowi

Dalam pidatonya pada Sabtu, Presiden Joko “Jokowi” Widodo mengutuk kekerasan yang terjadi di Paris dan Nice tersebut, dan pada saat yang sama ia juga mengecam pernyataan Presiden Macron dalam merespons kekerasan itu yang dinilai menghina Islam.

“Indonesia juga mengecam keras pernyataan Presiden Prancis yang menghina agama Islam yang telah melukai perasaan umat Islam di seluruh dunia yang bisa memecah-belah persatuan antar-umat beragama di saat dunia memerlukan persatuan untuk menghadapi pandemi COVID-19,” kata Jokowi dalam telekonferensi.

Dalam pernyataannya itu, Jokowi turut mengkritik kebijakan kebebasan berekspresi di Prancis.

“Kebebasan berekspresi yang mencederai kehormatan, kesucian, serta kesakralan nilai-nilai dan simbol agama sama sekali tidak bisa dibenarkan dan harus dihentikan,” kata Jokowi.

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga mengimbau kepada kaum Muslim di Presiden Macron. MUI menilai Macron tidak menggubris peringatan umat Islam di dunia, dan bersikap angkuh dibalik alasan kebebasan berekspresi.

“MUI juga mendesak pemerintah Indonesia untuk menarik sementara Dubes Indonesia untuk Prancis sampai Macron menarik perkataannya dan meminta maaf kepada umat Islam di dunia,” kata Wakil MUI, Muhyiddin Junaidi dalam surat yang beredar.

Menurutnya, himbauan memboikot produk Prancis merupakan hak pribadi dari masyarakat. “Umat Islam memiliki hak yang bersifat final untuk memboikot produk Prancis,” ujarnya.

Macron: Memahami kemarahan Muslim, tapi tak benarkan kekerasan

Pada Minggu (1/11), Presiden Macron angkat bicara terkait ucapannya yang memicu banyak kritik dari negara-negara Muslim di dunia.

Dalam sebuah wawancara dengan Al-Jazeera, Macron mengatakan bahwa dirinya memahami kemarahan umat Muslim atas kartun kontroversial yang menggambarkan Nabi Muhammad namun menegaskan bahwa dirinya tidak pernah bisa menerima pembenaran atas tindakan kekerasan.

Kendati demikian, Macron menyatakan bahwa perannya bukan untuk mendukung konten kartun tersebut, melainkan membela hak atas kebebasan berekspresi.

“Prancis berada dalam kondisi syok setelah serangan ini, dengan perasaan sedih dan marah,” kata Macron.

“Dan untuk pertama kalinya, saat kami mengalami serangan ini, ada reaksi kuat yang menyerang Prancis secara internasional atas dasar banyak kesalahpahaman dan itulah mengapa saya ingin meluruskannya,” tukasnya.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.