Pakar: Indonesia Berpeluang Jadi Khilafah Jauh ISIS

Ismira Lutfia Tisnadibrata
Jakarta
2015-12-28
Share
terrorism-1000 Tim polisi mengecek keamanan sebuah katedral dibantu anjing pelacak menjelang diadakannya misa Natal di Jakarta, 24 Desember 2015.
AFP

Sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia dapat berpeluang untuk dijadikan sebagai khilafah jauh oleh kelompok garis keras Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS),  demikian dikatakan pejabat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan pakar terorisme lainnya.

Pernyataan tersebut adalah respons terhadap Jaksa Agung Australia George Brandis yang mengatakan “ISIS berambisi untuk meningkatkan keberadaan dan aksinya di Indonesia, baik secara langsung atau melalui perantara.”  Pernyataan tersebut disampaikan Brandis kepada The Australian minggu lalu.

“Anda pernah mendengar ungkapan ‘khilafah jauh’? ISIS telah mendeklarasikan keinginan mendirikan khilafah di luar Timur Tengah, tepatnya khilafah provinsi. Mereka telah mengidentifikasi Indonesia sebagai lokasi dari ambisi tersebut,” ungkap Brandis saat itu.

Staf ahli BNPT, Dr. Sri Yunanto mengatakan bahwa strategi ISIS ini bukan ide baru karena serupa dengan yang pernah diterapkan oleh Al Qaeda dulu dengan menjadikan Poso sebagai basis kuatnya di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. Apalagi dengan visi ISIS yang sudah global dengan memfokuskan serangan mereka di Eropa.

"Ide untuk menjadikan Indonesia sebagai khilafah jauh ISIS sangat mungkin," ujar Yunanto kepada BeritaBenar, Senin.

Kedekatan Poso dengan Filipina Selatan juga memungkinkan anggota  kelompok radikal untuk bergerak tanpa pengawasan ketat antar dua wilayah yang mudah ditembus oleh kaum militan Islam.

Yunanto, yang melaporkan langsung seluruh hasil risetnya kepada Ketua BNPT, Saud Usman Nasution, mengatakan bahwa ini juga karena Operasi Maleo yang dilancarkan oleh pasukan gabungan TNI dan Polri masih belum sepenuhnya mampu menangani masalah keamanan di wilayah tersebut.

"Hal ini juga karena belum ada hukum di Indonesia yang dapat menindak kelompok radikal sehingga mereka bebas bergerak," tambahnya.

‘Membakar paspor’

Pakar terorisme Rakyan Adibrata bahwa hal ini sudah bisa diprediksi sebelumnya saat terjadi gelombang keberangkatan warga negara Indonesia ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok militan Islam di sana.

Menurutnya, keberangkatan mereka saat itu bukan tanpa niat untuk kembali atau yang dikenal dengan istilah 'membakar paspor' karena setelah beberapa waktu di sana, mereka kembali ke Indonesia untuk membebaskan Indonesia dari kekafiran versi mereka.

"Menjadikan Indonesia sebagai khilafah jauh, itu memang yang mereka inginkan karena Indonesia mempunyai populasi Muslim terbesar di dunia," ujar Rakyan kepada BeritaBenar.

"Indonesia adalah pasar yang besar bagi mereka," tambahnya.

Hal ini karena proporsi jumlah orang Indonesia yang berangkat untuk bergabung sebagai anggota pasukan ISIS tidak sebanyak jumlah mereka yang berasal dari Eropa dimana Muslim adalah minoritas.

Rakyan mengatakan bahwa ide menjadikan Indonesia sebagai “khalifah jauh” ISIS akan memindahkan ladang untuk memperjuangkan apa yang mereka yakini sebagai jihad  ke Indonesia.

Hal ini juga disebarluaskan kemana-mana untuk menciptakan konflik horizontal yang akan menjadi ladang subur bagi mereka untuk merekrut simpatisan-simpatisan baru, katanya.

Juru bicara Mabes Polri Anton Charliyan mengatakan pemerintah meyakini ada sekitar 1000 lebih simpatisan ISIS di Indonesia.

Terus lancarkan operasi

Sementara itu, polisi terus melancarkan operasi untuk menangkap sejumlah orang yang diduga terkait jaringan terorisme dan akan melakukan serangkaian serangan pada perayaan Natal dan malam Tahun Baru.

Beberapa minggu lalu, pasukan khusus polisi anti terorisme Densus 88 menangkap sembilan orang terduga teroris di beberapa wilayah di Jawa.

Polisi juga menangkap Abu Muzad, terduga teroris warga China dari kaum minoritas Muslim Uighur, 23 Desember. Tertangkapnya Abu Muzad adalah hasil pengejaran Densus di Mojokerto, Tasikmalaya, Majenang, Jakarta hingga akhirnya tertangkap di Bekasi.

Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal (Irjen) Pol. Tito Karnavian menyebutkan Abu Muzad bukanlah tokoh sembarangan karena diduga memiliki kaitan dengan ISIS.

Tertangkapnya Abu Muzad alias Ali alias Fariz Kusuma oleh tim gabungan Densus 88 dengan Subdirektorat III Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya bukan berarti kerja polisi selesai. Apalagi masih ada ancaman keamanan yang disebar kelompok tersebut dan saat ini polisi terus mengejar anak buah Abu Muzad.

"Masih ada beberapa orang lagi (anak buah Abu Muzad), tim kami bergerak terus," kata Tito.

Rakyan mengatakan bahwa penangkapan sejumlah terduga terorisme ini bisa saja dilakukan secara diam-diam tanpa perlu publikasi besar-besaran di media.

Pemberitaan media yang luas mengenai penangkapan ini menimbulkan anggapan sejumlah kalangan bahwa Indonesia tidak aman, katanya. "Tapi, mungkin juga publikasi itu ditujukan untuk menciptakan efek pencegah dan unjuk kekuatan bahwa polisi mampu menangkap mereka," ujar Rakyan.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya