Follow us

Pakar: Kelompok pro-ISIS Mencari Tempat Persembunyian di Papua

"Mereka (JAD) mencari alternatif," demikian kata sumber dari Densus 88.
Amy Chew
Kuala Lumpur
2019-12-23
Email
Komentar
Share
Densus 88 Polri mengawal ulama radikal Aman Abdurrahman saat kedatangan untuk persidangannya di pengadilan negeri Jakarta, 25 Mei 2018.
Densus 88 Polri mengawal ulama radikal Aman Abdurrahman saat kedatangan untuk persidangannya di pengadilan negeri Jakarta, 25 Mei 2018.
AP

Penangkapan delapan militan pro kelompok ekstrim Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di provinsi Papua baru-baru ini menandai para ekstremis telah menjauh dari basis mereka yang biasanya berada di Sumatra dan Jawa untuk menghindari kejaran polisi dan mencari lokasi kamp pelatihan paramiliter, demikian menurut pejabat dan pakar anti-terorisme.

Papua, kata pejabat dan analis kontra-terorisme, dipandang sebagai "tempat yang aman" untuk menghindari deteksi ketika pasukan khusus anti-terorisme polisi, Detasemen Khusus 88 (Densus 88) melakukan operasi.

Gagasan untuk mencari lokasi di Papua berasal dari sel dari Jemaah Ansharut Daulah (JAD) yang pro-ISIS, kelompok dibalik sebagian besar serangan teror Indonesia sejak 2016.

“Gagasan mencari lokasi pelatihan di Papua datang dari kepala JAD Lampung bernama Solihin. Dia merasa bahwa Papua akan aman karena belum disentuh oleh Densus selama ini,” demikian menurut seorang sumber dari Densus 88 kepada BeritaBenar.

“Mereka mencari alternatif. Poso tetap menjadi pilihan favorit untuk lokasi (untuk pelatihan paramiliter)," katanya tentang JAD.

Sumber itu mengatakan Solihin ditangkap pada Maret tahun ini.

Papua: Pilihan yang logis

Menurut sumber dari Densus 88, kedelapan orang itu ditangkap dalam dua minggu terakhir di beberapa lokasi di Jayapura, ibu kota provinsi Papua.

"Orang-orang itu tidak dapat menemukan lokasi sebelum mereka ditangkap," tambah sumber yang tidak mau disebut namanya itu.

Polisi menyita pisau, laptop, bahan peledak, dan bom dari tiga rumah yang disewa oleh para tersangka.

"Dari informasi awal yang kami terima, para tersangka yang ditangkap sudah dalam pelarian sejak kelompok mereka diekspos oleh polisi," kata Adhe Bakti, direktur eksekutif Pusat Radikalisasi dan Studi Deradikalisasi (PAKAR).

“Papua adalah pilihan logis karena letaknya terpencil dan kelompok JAD atau kelompok pro-ISIS itu berharap mereka tidak akan terdeteksi oleh polisi,” kata Adhe.

Menurut Adhe, penangkapan di Provinsi Papua adalah yang "pertama" tetapi sebelum ini, ada "tersangka pro-ISIS yang ditangkap di Provinsi Papua Barat."

Papua terbagi menjadi dua provinsi yaitu, Papua Barat dan Papua.

Pada bulan September tahun ini, juru bicara kepolisian Indonesia, Dedi Prasetyo, mengatakan kehadiran JAD telah terdeteksi di Papua sejak dua tahun lalu dan para anggotanya semakin aktif sejak tahun lalu.

Dedi mengatakan JAD telah merencanakan untuk mengebom markas besar kepolisian Manokwari di Papua Barat pada tahun 2018 tetapi Densus88 berhasil menangkap mereka sebelum serangan itu terjadi.

Adhe mengatakan ISIS telah menyebar ke hampir seluruh 34 provinsi di Indonesia, kecuali untuk tiga provinsi termasuk Papua, sebelum penangkapan baru-baru ini.

“Dua provinsi yang belum ketahuan ada anggota (pro-ISIS)nya adalah Sulawesi Utara dan Bangka Belitung berdasarkan penelitian pendahuluan oleh PAKAR pada tahun 2018," kata Adhe.

Meskipun ajaran ISIS belum tersebar di Sulawesi Utara oleh jaringan kelompok ekstremis, provinsi ini sering digunakan sebagai pintu gerbang untuk masuk ke Filipina selatan, terutama melalui pulau Sangihe.

Ekstremis Indonesia telah pergi ke pulau Mindanao di Filipina selatan untuk bertarung bersama kelompok-kelompok pro-ISIS seperti Kelompok Abu Sayyaf (ASG) yang terkenal sangat berbahaya dan Pejuang Kemerdekaan Islam Bangsamoro yang pro-ISIS.

Pulau Mindanao dipandang sebagai "zona jihad" di mana kelompok-kelompok pro-ISIS mengambil alih kota Marawi pada tahun 2017 dan mengepung kota itu selama lima bulan sebelum pasukan pemerintah mendapatkan kembali kendali. Itu adalah serangan ISIS yang paling serius di Asia Tenggara yang membuat pemerintah gelisah di kawasan itu.

Ekstremis asal Indonesia termasuk di antara pejuang asing yang berkumpul di sana dalam pengepungan Marawi.

Warga berkendara melewati gedung pemerintah yang terbakar saat protes yang berubah menjadi kerusuhan di Wamena, Provinsi Papua, 23 September 2019. (AP)
Warga berkendara melewati gedung pemerintah yang terbakar saat protes yang berubah menjadi kerusuhan di Wamena, Provinsi Papua, 23 September 2019. (AP)

Analis: JAD terpecah

JAD, yang dipimpin oleh ulama ekstrimis Aman Abdurrahman yang telah berjanji setia kepada IS, adalah afiliasi ISIS terbesar di Indonesia.

Akan tetapi, Adhe dari PAKAR lebih suka mendefinisikan JAD sebagai kelompok pro-ISIS karena tidak semua sel JAD dipimpin oleh Aman Abdurrahman, yang kini dibui dan sedang menunggu eksekusi hukuman matinya atas semua aksi terorisme yang didalanginya.

Dia memperingatkan bahwa dalam jangka pendek, JAD akan terus menjadi ancaman bagi Indonesia, terutama karena banyak dari mereka yang terpecah-pecah dan tersebar di seluruh negeri, sehingga sulit bagi polisi untuk mendeteksi mereka.

"Tapi tolong ingat, meskipun mereka tersebar luas, pro-ISIS di Indonesia tidak terkonsolidasi dengan baik dan terpecah menjadi beberapa kelompok," kata Adhe.

Adhe mengatakan di beberapa provinsi, mungkin ada 2-6 kelompok pro-ISIS.

"Kekuatan JAD atau pro-ISIS dalam terminologi saya cukup mengkhawatirkan dalam konteks seberapa luas operasi mereka," kata Adhe.

Mantan terpidana militan Yudi Zulfahri, yang dipenjara pada 2010 karena keterlibatannya dalam kamp pelatihan teror di Aceh, mengatakan dari pemantauan dan interaksinya di media sosial, ada orang-orang yang merupakan "kelompok pro-radikal" di Papua.

“Kelompok-kelompok ini adalah orang-orang yang saat ini tinggal di Papua. Sangat menarik untuk mempelajari jaringan JAD di Papua saat ini,” kata Yudi yang menjalankan organisasi deradikalisasi bernama Establish Peace.

Tampilan selengkapnya