Diduga Diare, Puluhan Orang Meninggal Dunia di Papua

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua mengkritik kinerja Dinas Kesehatan setempat dalam menangani diare yang mewabah hampir setiap tahun.
Victor Mambor
2017.07.21
Jayapura
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
170721_ID_PapuaHealth_1000.jpg Seorang perempuan menggendong anaknya di Distrik Bomela, Kabupaten Yahukimo, Papua, 20 Maret 2017.
Victor Mambor/BeritaBenar

Puluhan orang – sebagian besar anak di bawah lima tahun (balita), dilaporkan meninggal dunia akibat diserang berbagai penyakit, terutama diare, dalam empat bulan terakhir di Kabupaten Deiyai, Papua.

Frater Santon Tekege, dari Gereja Katolik Dekenat Paniai, Keuskupan Timika, menyebut, informasi awal tentang kematian balita didapat dari Kepala Distrik Tigi Barat, Fransiskus Bobii, yang melaporkan ada 30 balita meninggal dunia di daerahnya sejak April lalu.

“Setelah dicek ke lapangan, ada 50 korban meninggal, termasuk orang dewasa,” ungkap Frater kepada BeritaBenar, Kamis, 20 Juli 2017.

Menurutnya, sesuai pendataan yang dilakukan gereja, para korban mengalami panas tinggi, mencret (diare), mulut luka-luka, mata merah, dan meninggal antara satu hingga empat hari kemudian.

Petugas Dinas Kesehatan Deiyai bersama dokter, perawat, dan mantri sudah datang ke kampung-kampung yang warganya menderita sakit seperti Kampung Ayatei, Digikotu, Piyakedimi, Yinudoba, serta Epanai untuk melakukan upaya penanganan.

“Menurut petugas medis, gejala penyakit warga di sana antara lain ISPA, campak, diare, dan disentri,” jelas Frater.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) asal wilayah tersebut, Laurens Kadepa, membenarkan kabar tentang kematian balita seperti disampaikan Frater. Dia mengaku sudah mengunjungi kampung-kampung tersebut.

“Sejak dua tahun lalu, ada sikap apatisme masyarakat terhadap pentingnya pelayanan kesehatan. Sikap itu muncul akibat image masyarakat terhadap pelayan kesehatan yang bertugas di wilayah ini,” kata Laurens.

Dia menjelaskan, ada empat Puskesmas di Tigi Barat yakni Puskesmas Tenedagi, Ayatei, Gakokebo, dan Wagomani, tapi tidak ada dokter.

Akibatnya masyarakat tidak mendapatkan pelayanan kesehatan. Selain itu, masyarakat setempat lebih percaya untuk berdoa dan minum ramuan tradisional daripada pergi ke Puskesmas.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Aloysius Giyai, mengaku timnya sudah berada di Deiyai.

“Tim yang dibentuk Unit Percepatan Pembangunan Kesehatan Provinsi Papua, sudah ke sana sejak beberapa hari lalu untuk melakukan penanganan,” katanya saat dikonfirmasi.

Ia menyebutkan Dinas Kesehatan Deiyai tak menjalankan fungsinya dengan baik. Bahkan menjadi dinas dengan rapor merah dalam setiap laporan tahunan kesehatan se-Papua.

Diare tahunan

Di selatan Papua, sejak awal Juni, puluhan warga Kimaam, Merauke, harus ditampung di Puskesmas dan rumah sakit karena menderita diare. Selain orang dewasa, sekitar 200 balita juga terkena diare di distrik terjauh Kabupaten Merauke itu.

Kepala Dinas Kesehatan Merauke, Adolf Bolang, membenarkan ratusan warga terserang diare.

“Info awal yang kami peroleh, 14 kampung di Distrik Kimaam terserang kasus diare. Tim Puskesmas sudah melayani beberapa kampung yang bisa dijangkau. Sedangkan daerah yang medannya sulit belum terjangkau,” katanya.

Ia menambahkan, jumlah total warga yang menderita diare hingga saat ini, mencapai 461 orang dari tiga kampung yakni Kampung Teri, Sabudom, serta Komolom.

“Dari jumlah itu, empat balita usia 8 bulan sampai 1,5 tahun meninggal dunia, setelah kekurangan cairan dalam tubuh,” jelasnya.

Adolf menyebutkan, penyebab diare di Kimaam karena warga mengonsumsi air mentah. Sebagian besar warga juga tak memiliki toilet di rumah, sehingga mereka membuang air besar sembarangan.

Menurut Kepala Pusat Kesehatan Reproduksi Dinkes Merauke, Inge Silvia, diare memang terjadi setiap tahun di Kimaam. Namun, tahun ini jumlah korbannya lebih banyak.

“Empat balita yang meninggal, terlambat dibawa ke Puskesmas,” katanya.

Kinerja Dinas Kesehatan Merauke dalam menangani penyakit diare yang terjadi hampir setiap tahun dikritik anggota DPRP, Maria Duwitau.

"Kalau sudah tahu diare itu, penyakit tahunan harusnya ada upaya pencegahan. Bukan menyalahkan masyarakat dengan menyebut mereka tidak bisa hidup bersih,” katanya.

“Seharusnya dinas kesehatan mensosialisasikan cara hidup bersih dan sehat kepada masyarakat," tambah Maria.

Sebelumnya, Januari – April 2017, sebanyak 37 warga Kampung Tinggira, Nambume, Eyumi, Uragabur, Yugimia, dan Indawa, Distrik Awena, Kabupaten Lanny Jaya, dilaporkan juga meninggal dunia karena terserang diare.

Kanker serviks

Sementara itu, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kabupaten Merauke pekan ini menyebutkan sekitar 542 perempuan setempat terdeteksi kanker serviks dalam tujuh bulan terakhir. Jumlah ini meningkat hampir 100 persen dari jumlah tahun lalu, 265 orang.

Peningkatan itu, menurut Kepala BPJS Perwakilan Merauke, Hendra Jemmy Rompas, karena masih banyak ibu-ibu yang enggan melakukan pemeriksaan dini dan rutin.

“Padahal, kita sudah bekerjasama dengan beberapa Puskesmas dengan harapan ibu-ibu tidak lagi sungkan periksa,” katanya.

Namun hal ini disanggah oleh Adolf.

“Penyebab kanker serviks atau kanker leher rahim karena sering gonta-ganti pasangan, tanpa menggunakan kondom,” pungkasnya.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.