Satu Tewas, 1 Luka dalam Kekerasan Baru di Papua

Tim gabungan pencari fakta kasus penembakan di Intan Jaya bulan lalu, tiba di Papua.
Victor Mambor
Jayapura
2020-10-07
Share
201007_ID_IntanJaya_1000.jpg Agustinus Duwitau yang terkena luka tembak mendapatkan perawatan di RSUD Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua, 7 Oktober 2020.
Dok. Humas Pemda Intan Jaya, Papua

Satu orang tewas dan seorang lagi mengalami luka tembak dalam insiden kekerasan terbaru di Provinsi Papua, Rabu (7/10), kata pejabat setempat dan kelompok separatis.

Yulius Wetipo (34) meninggal dunia Rabu di rumah sakit Mitra Masyarakat di Timika setelah dirawat akibat luka tembak dalam kejadian di Keneyam, Kabupaten Nduga, sehari sebelumnya, kata Kabid Humas Polda Papua AKBP Ahmad Mustofa Kamal.

"Pukul 02.00 WIT korban meninggal dunia," kata Kamal kepada BenarNews.

Yulius tertembak di pinggang kiri tembus ke pinggang kanan saat ia melintas dengan sepeda motor di depan PT. Dolorosa, tempat dia bekerja, kata Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III (Kapen Kogabwilhan) Kol. I Gusti Nyoman Suriastawa.

Menurut Suriastawa, korban terkena tembakan dari Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) pimpinan Egianus Kogoya yang ditujukan ke Pos TNI di Pasar Baru Keneyam.

“Saat melintas pos, korban sudah diingatkan untuk berbalik arah karena sedang ada gangguan tembakan dari KKSB, namun korban tetap melanjutkan perjalanan,” ujarnya dalam keterangan tertulis. KKSB adalah sebutan petugas keamanan untuk kelompok separatis.

Namun tudingan ini dibantah oleh juru bicara TPNPB, Sebby Sambom, yang mengatakan bahwa kelompoknya tidak akan menembak orang Papua.

Dia menuduh anggota TNI yang menembak Yulius dan mengatakan ada seorang tentara di pos tersebut.

“Bukan kami yang tembak Yulius. Informasi itu tidak benar dan hanya propaganda TNI saja,” kata Sebby.

Sementara itu, seorang pewarta Alkitab bernama Agustinus Duwitau mengalami luka tembak di leher dalam insiden Rabu pagi di Intan Jaya, kata Bupati Intan Jaya, Natali Tabuni.

“Penembakan itu benar. Mungkin besok atau Jumat (Agustinus) akan dievakuasi ke Nabire,” kata Tabuni.

Thomas Sondegau, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) untuk Intan Jaya yang sedang berada di Sugapa mengatakan Agustinus ditembak dari jarak jauh oleh anggota TNI.

Agustinus hendak menuju kampung Emondi untuk melakukan pelayanan gereja. Ia berjalan kaki dari Sugapa menuju Emondi, ujarnya, merujuk pada dua wilayah di Kabupaten INtan Jaya tersebut.

“Dia jalan itu bawa senapan angin untuk berburu kuskus. Mungkin anggota TNI yang sedang bertugas itu mengira dia anggota TPNPB, lantas mereka menembak dia dari jarak jauh,” ujar Thomas kepada BenarNews.

Setelah tertembak, Agustinus sempat berlari ke kampung terdekat dan meminta pertolongan kepada masyarakat, kata Thomas.

Komandan TPNPB Kodap VIII Kemabu wilayah Intan Jaya, Rimba Lawingga, menegaskan bahwa pihaknya tidak berkaitan dengan penembakan Agustinus. Ia menuduh anggota TNI yang menembak Agustinus.

“Anggota kami tidak ada di di lokasi kejadian saat ini. Namun saya mendengar bunyi tembakan dari arah Bandar di Bilogai tadi pagi. Tapi saya pastikan itu bukan anggota kami yang tembak,” kata Lawingga.

Suriastawa mengatakan masih mengumpulkan informasi tentang penembakan Agustinus.

“Kemarin kan ada (upaya) penembakan pesawat. Jadi anggota kami berjaga di sekitar bandara,” kata Kolonel Nyoman.

Suriastawa mengatakan pasukan TNI menggagalkan upaya kelompok separatis yang diduga akan hendak menyerang Bandara Bilorai Sugapa.

“Sekitar pukul 08.22 WIT patroli melihat dua orang yang mencurigakan bergerak mengendap-endap keluar masuk semak-semak di sekitar Bandara. Diduga kedua orang tersebut merupakan bagian dari kelompok KKSB yang sedang persiapan untuk menyerang bandara Bilorai,” ujarnya.

Prajurit TNI memberikan tembakan peringatan ke udara dan kedua orang tersebut kemudian melarikan diri ke dalam hutan, kata Suriastawa.

Tim investigasi tiba

Dalam perkembangan lainnya, tim gabungan pencari fakta (TGPF) kasus penembakan di Intan Jaya bulan lalu tiba di Papua Rabu pagi.

Tim yang dibentuk pemerintah ini ditugaskan untuk menyelidiki  penembakan yang menewaskan dua warga sipil, termasuk pendeta Yeremia Zanambani, dan dua anggota militer di Intan Jaya pada pertengahan September.

Polri dan TNI menuduh kelompok separatis bersenjata sebagai oknum yang bertanggung jawab atas pembunuhan terhadap Yeremia, sementara Tentara Nasional Pembebasan Papua Barat (TPNPB) mengatakan penembakan dilakukan oleh TNI.

“TGPF Intan Jaya ini akan bekerja semaksimal mungkin untuk membuat terang kasus ini, supaya bisa memberikan laporan dan rekomendasi yang tepat kepada pemerintah,” kata ketua tim, Benny Mamoto dalam pernyataan tertulis.

Dia menjamin menjamin obyektivitas tim yang beranggotakan berbagai unsur masyarakat.

Tim ini diberi waktu dua minggu oleh Menkopolhukam Mohammad Mahfud MD untuk menjalankan tugas mereka.

Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua (PGBWP), Sokratez Sofyan Yoman, menyatakan keraguannya akan tim gabungan pencari fakta .

“Menolak dan tidak percaya 100 persen karena tidak independen untuk menyelidiki,” tegas Sokratez.

Lebih dari setengah komposisi tim pencari fakta tersebut diisi oleh anggota yang berasal dari unsur pemerintah seperti Kemenkopolhukam, Badan Intelijen Negara (BIN), Kepolisian, TNI, Kejaksaan Agung, serta dua lembaga non-struktural yakni Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) dan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Sisanya adalah kelompok sipil yang terdiri dari akademisi, tokoh pemuda Papua, tokoh masyarakat Papua, dan perwakilan Gereja Kemah Injil (GKI) Teologi di Timika.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya