Ditangkap Tanpa Proses Hukum, Seorang Warga Papua Tidak Diketahui Keberadaannya

Keluarga khawatir penangkapan Sem Kobagau berujung pada kematiannya seperti pernah terjadi sebelumnya pada warga lainnya di sana.
Victor Mambor
Jayapura
2021-10-12
Share
Ditangkap Tanpa Proses Hukum, Seorang Warga Papua Tidak Diketahui Keberadaannya Warga Papua pro-pemisahan diri dari Indonesia melakukan unjuk rasa di Jakarta, 1 Desember 2020.
AP

Seorang warga Papua dilaporkan ditangkap tanpa proses hukum yang jelas oleh terduga anggota TNI di Kabupaten Intan Jaya sementara aparat keamanan setempat mengatakan sedang menyelidiki hal tersebut, Selasa (12/10).

Kapolres Intan Jaya AKBP Sandi Sultan membenarkan warga melaporkan perihal penangkapan Sem Kobagau, 43, seorang yang disebut memangku jabatan bendahara di Kampung Bunaopa Distrik Sugapa pada 5 Oktober lalu.

“Polisi sudah mengambil langkah-langkah kordinasi dengan seluruh jajaran TNI dan Polri di Intan Jaya dan melaporkan ke Kapolda,” kata Kapolres kepada BenarNews.

Kapolres mengatakan pihaknya sedang melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi dan sedang melakukan pendalaman, namun belum bisa memastikan siapa yang menangkap Sem, dan menyebut bahwa ada saksi yang mengatakan pelaku penangkapan menggunakan pakaian preman.

Sem Kobagau disebut sedang duduk di depan sebuah warung ketika empat orang yang diduga sebagai anggota TNI membawanya minggu lalu.

“Pada saat itu Sem berteriak minta tolong. Mendengar teriakan Sem, ada tiga orang teman Sem keluar dari dalam rumah untuk menolong Sem,” jelas seorang warga yang tidak ingin disebutkan namanya karena alasan keselamatan.

Pemilik warung, Mathius Dosay, berusaha menolong Sem, tapi orang-orang yang diduga anggota TNI itu berhasil membawa Sem ke arah Kantor Bupati Intan Jaya, kata warga itu.

Esok paginya sejumlah warga datang ke Polsek Sugapa untuk mencari kejelasan soal penangkapan Sem dan mendesak polisi untuk mencari tahu keberadaannya, namun hingga malam tiba dan warga bubar, mereka tidak mendapatkan kejelasan tentang nasib Sem.

Warga dari tiga kampung yaitu Yoparu, Sambili dan Gamagae menduduki halaman Polsek Sugapa untuk meminta pihak Polres Intan Jaya mengungkap motif penangkapan dan menyerahkan Sem kepada keluarga, demikian kata Yohakim Mujizau, tokoh pemuda Intan Jaya yang mengaku ikut memediasi warga yang datang ke Polsek Sugapa.

“Warga menuntut agar pihak Polsek dan Polres mengembalikan Sem Kobagau kepada keluarga dalam keadaan hidup ataupun mati,” kata Yohakim Mujizau, tokoh pemuda Intan Jaya yang mengaku ikut memediasi warga yang datang ke Polsek Sugapa, kepada BenarNews.

“Ia ditangkap oleh pihak keamanan pada tanggal 5 Oktober 2021 dari tempat penjual togel di Sugapa,” ujarnya.

“Apakah masih ditahan ataukah sudah dibunuh? Karena sampai saat ini kami pihak keluarga masih cari tahu keberadaannya,” kata Titus Kobagau, keluarga Sem yang juga anggota DPRD Intan Jaya.

Menurut Titus, Sem datang dari Nabire ke Sugapa hari itu dengan tujuan mencairkan dana desa.

Pihak TNI mengaku belum mendapatkan informasi tentang penangkapan warga yang dilakukan

“Terima kasih informasinya. Saya akan cari informasi lebih lanjut, bila ada perkembangan akan disampaikan,” jawab Sementara Kapendam XVII Cenderawasih Letkol Reza Nur Patria saat diminta keterangan.

Khawatir kejadian berulang

Ditangkapnya warga tanpa alasan hukum yang jelas bukan hal yang baru di provinsi yang kerap diwarnai konflik antara aparat keamanan dengan kelompok separatis yang menginginkan kemerdekaan Papua dari Indonesia.

Pada April tahun lalu, dua bersaudara Luther Zanambani (23) dan Apinus Zanambani (22) ditahan di Koramil Sugapa, Intan Jaya, pada 21 April 2020 lantaran dicurigai sebagai anggota kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) saat petugas melakukan sweeping, demikian komandan polisi militer TNI AD Letjen Dodik Widjanarko pada Desember lalu.

Anggota TNI kemudian menyiksa mereka hingga tewas, membakar mayat mereka dan membuang debu mereka ke sungai, papar Dodik.

Sembilan anggota TNI ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan Zanambani bersaudara ini, yaitu dua personel Kodim Paniai dan tujuh personel Yonif Pararider 433 JSD Kostrad.

Para tersangka terancam hukuman paling lama 12 tahun penjara jika terbukti bersalah melakukan penganiayaan yang menyebabkan kematian.

Namun kasus hukumnya sampai saat ini tidak jelas dan dikritik tidak transparan oleh para aktivis hak asasi manusia Papua.

Penembakan Pendeta Yeremia Zanambani pada 19 September 2020 diduga terkait dengan tewasnya Zanambani bersaudara – yang merupakan keponakannya. 

Yeremia tewas setelah mengalami luka tembakan dan sabetan benda tajam di dekat kandang babi miliknya di Distrik Hitadipa.

Tiga tim investigasi terpisah -  Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) bentukan pemerintah, Tim Kemanusiaan untuk Intan Jaya yang terdiri dari sejumlah aktivis lokal, dan tim Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyebutkan dugaan keterlibatan anggota TNI atas terbunuhnya Yeremia. 

Sebelum Yeremia di tembak, keluarga Apinus dan Luther meminta tolong pendeta ini untuk ikut mengurus pencarian mereka.

Saat Bupati Intan Jaya menggelar pertemuan yang dihadiri para pejabat kepolisian dan TNI serta keluarga Apinus dan Luther, Yeremia menyampaikan permintaan agar para prajurit TNI memberitahukan keberadaan keponakannya yang ditangkap.

Tim Kemanusiaan Intan Jaya Provinsi Papua dalam laporannya menyebutkan Alpius Hasim Mahdi, anggota TNI pelaku penembakan Yeremia, dihadapan warga di depan Gereja Imanuel Hitadipa menegaskan bahwa Yeremia adalah musuh mereka karena menyampaikan pertanyaan tentang Apinus dan Luther.

Selang beberapa jam kemudian, Yeremia ditemukan tewas dengan luka tembak. 

John Gobay, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Papua dan perwakilan dari masyarakat adat Mee Pago, mengkhawatirkan nasib Sem.

“Hal seperti inilah yang dikhawatirkan terjadi. Jika Sem bernasib sama dengan Apinus dan Luther, bisa menimbulkan kekerasan baru lagi antara masyarakat dan aparat keamanan,” kata Gobay kepada BenarNews.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya