Patmi, Gugurnya Seorang ‘Kartini Kendeng’

Kepergiannya dianggap simbol perlawanan petani terhadap kebijakan pemerintah Provinsi Jateng yang kembali memberikan izin pembangunan dan pertambangan bagi PT Semen Indonesia.
Zahara Tiba
2017.03.21
Jakarta
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
170321_ID_Kendeng_1000.jpg Para petani dari kawasan pegunungan Kendeng, Jawa Tengah, melakukan aksi cor kaki di depan Istana Negara, Jakarta, 14 Maret 2017, untuk memprotes pembangunan pabrik semen.
BeritaBenar/Afriadi Hikmal

Seratusan lebih aktivis duduk bersila di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Jakarta, Selasa malam, 21 Maret 2017. Sebagian dari mereka berdiri karena tidak kebagian tempat duduk.

Mereka menyalakan lilin, berdoa serta menabur bunga untuk mengenang Patmi (48), seorang peserta aksi cor kaki dengan semen, yang meninggal dunia diduga akibat serangan jantung.

Srikandi Kendeng itu gugur dalam memperjuangkan lestarinya kawasan Kendeng dari kehadiran pabrik semen di Kabupaten Rembang yang diyakini akan merusak lingkungan dan sumber mata air warga.

Tabur bunga menjadi acara penutup rangkaian doa bersama dan refleksi yang digelar berbagai kalangan masyarakat solidaritas perjuangan Kendeng terhadap Patmi.

Patmi meninggal dunia dalam perjalanan ke rumah sakit, Selasa dini hari, dari kantor YLBHI, tempat dia bersama rekan-rekannya menginap saat malam setelah siangnya menggelar aksi menyemen kaki.

Aksi cor kaki di depan Istana Negara, dengan harapan bisa bertemu Presiden Joko Widodo, dimulai Senin , 13 Maret 2017, dengan 11 peserta.

Patmi mulai ikut aksi cor kaki pada hari kedua. Dari hari ke hari, peserta aksi menyemen kaki terus bertambah. Bahkan, sejumlah aktivis ikut mencor kaki mereka.

Duka petani pegunungan Kendeng begitu luas mendapat simpati dari berbagai pihak. Kabar meninggalnya Patmi cepat beredar melalui media sosial dan jaringan komunitas.

Mokhamad Sobirin, seorang pendamping petani Kendeng dari Yayasan Desantara, menjelaskan kronologis kejadian hingga Patmi menghembuskan nafas terakhir.

Usai diterima oleh Kepala Staf Kepresidenan, Teten Masduki, Senin sore, para petani kembali ke kantor YLBHI, dan pasung semen yang mengekang kaki para petani, termasuk Patmi, diputuskan untuk dibongkar. Pembongkaran itu berlangsung dari Senin pukul 23.00 hingga 02.00 Selasa dini hari.

Saat itu, Patmi mengeluhkan perutnya sakit. Seorang dokter yang terus memantau para petani memberikan pertolongan pertama sebelum Patmi tak sadarkan diri. Dia pun segera dilarikan ke Rumah Sakit St. Carolus, pada pukul 02.30.

“Pihak rumah sakit menyatakan Patmi sudah meninggal dalam perjalanan,” ujar Sobirin kepada BeritaBenar.

Sobirin menambahkan selama aksi protes berlangsung, Patmi sama sekali tidak mengeluhkan kondisi kesehatannya.

“Tidak membutuhkan perhatian khusus dari tim medis kami,” ujarnya.

Sobirin mengatakan dalam menjalankan aksi protes itu pasti ada risiko yang harus ditanggung, meski tim kesehatan terus memantau kondisi peserta.

“Tapi resiko itu kami ambil karena kami merasa bahwa kebijakan (pembangunan pabrik semen) yang sangat tidak seharusnya diterapkan,” kata Sobirin.

Izin diberikan lagi

Kepergian Patmi, ujar Sobirin, adalah simbol perlawanan petani terhadap kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang memberikan kembali izin bagi PT Semen Indonesia, padahal sebelumnya sudah dicabut.

Pada Oktober 2016, Mahkamah Agung memenangkan gugatan petani Kendeng dan mencabut Izin Lingkungan Pembangunan dan Pertambangan Pabrik PT. Semen Indonesia di Kabupaten Rembang.

Sebelumnya pada Agustus 2016, Presiden Jokowi menerima para petani Kendeng dan memerintahkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan membuat kajian lingkungan dan menunda semua Izin tambang di Pegunungan Kendeng.

Hasil kajian tersebut menyebutkan bahwa kawasan cakungan air tanah Watu Putih di Kendeng merupakan kawasan karst yang harus dilindungi dan tidak boleh ditambang, seperti dikutip di Kompas.com. Namun demikian pada Februari 2017 Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo kembali memberi izin lingkungan pada PT Semen Indonesia.

Simbol perlawanan

“Patmi ibarat padma (bunga teratai). Dia adalah simbol perlawanan yang akan terus dilakukan oleh warga Kendeng,” ujar Sobirin.

Jenazah Patmi diberangkatkan ke kampung halamannya di Kabupaten Pati, Selasa pukul 09.00 pagi dengan didampingi peserta aksi lain. Sobirin mengatakan mereka akan kembali ke Jakarta, hanya saja belum tahu waktu pastinya.

Eko Arief Yanto dari Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) mengatakan para petani berduka atas kepergian Patmi.

Sedulur-sedulur tentu sangat bersedih, karena sebelumnya tak ada tanda dan firasat apapun. Semenjak ikut Aksi Dipasung Semen Jilid II, kesehatan Bu Patmi cukup baik,” tutur Eko kepada BeritaBenar.

Disebut Aksi Dipasung Semen Jilid II karena sebelumnya para petani Kendeng itu juga pernah melakukan aksi mencor kaki dengan semen di depan Istana Negara pada April 2016.

Perwakilan YLBHI, Muhammad Isnur mengatakan kepergian Patmi merupakan tragedi seorang pejuang.

“Walaupun dokter mengatakan ini sudden death yang menyangkut kardiovascular, kami sangat menyayangkan dan sangat marah kepada Presiden yang tak mau menemui rakyatnya, padahal aksi sudah delapan hari berjalan,” ujar Isnur kepada BeritaBenar.

Mereka, lanjutnya, hanya menagih komitmen yang pernah dijanjikan oleh Presiden. Pertemuan dengan Teten, Senin sore, menurut Isnur, tak memberikan hasil yang memuaskan kecuali PT Semen Indonesia akan menunda peresmian yang direncanakan pada April 2017 dan menghentikan sementara penambangan.

Untuk ke depannya, jelas Isnur, YLBHI siap memfasilitasi warga menempuh jalur hukum seperti sebelumnya menggugat ke pengadilan.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.