Indonesia, Malaysia dan Thailand Didesak Selamatkan Manusia Perahu

Oleh Nurdin Hasan
2015.05.19
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
150519_ID_NURDIN_MANUSIA_PERAHU_700.jpg Seorang petugas menyemprotkan air ke arah warga pengungsi Rohingya saat mereka mandi di tempat penampungan Kuala Langsa, 16 Mei, 2015.
BeritaBenar

Berbagai kalangan di Provinsi Aceh mendesak Pemerintah Indonesia, Malaysia, dan Thailand agar segera melakukan operasi penyelamatan ribuan manusia perahu yang diduga masih berada di perairan Selat Malaka ketiga negara dan terancam mati kelaparan.

“Pemerintah Indonesia harus mengerahkan segala kekuatan untuk menyelamatkan ribuan manusia perahu yang diyakini masih berada di laut, atas nama kemanusiaan,” ujar Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Nahdhatul Ulama Aceh Tgk. Faisal Ali kepada BeritaBenar di Banda Aceh, 19 Mei.

“Sebagai negara mayoritas Muslim, Indonesia harus segera bertindak. Jangan sampai pemerintah dianggap telah buta rasa kemanusiaan karena membiatkan mereka mati kelaparan di tengah laut.”

Dalam seminggu terakhir, lebih dari 1.300 etnis Muslim Rohingya, termasuk anak-anak dan perempuan, serta warga Bangladesh diselamatkan oleh nelayan Aceh di perairan Selat Malaka.

Mereka ditampung di Kuala Cangkoi, Kabupaten Aceh Utara, bekas kantor imigrasi Lhokseumawe dan Pelabuhan Kuala Langsa, di Kota Langsa, Aceh bagian timur.

Seribu migran lebih berhasil mencapai Langkawi dan Penang, Malaysia.

Sebuah kapal membawa 300 migran terlihat di perairan Thailand, dengan kondisi sangat memprihatinkan. Setelah dibantu makanan dan minuman oleh Angkatan Laut Thailand, kapal itu disuruh pergi meninggalkan perairan Thailand, Reuters melaporkan.

Hingga kini keberadaan kapal kayu itu tidak diketahui.

Faisal menyebutkan rasa kepedulian Indonesia harus ditunjukkan dengan mengambil peran untuk bersama negara ASEAN menekan Pemerintah Myanmar agar mengakui etnis Rohingya sebagai warganegara dan memperlakukannya sama seperti warga lain.

“Saya khawatir jika tidak ada tindakan nyata secepatnya, muncul konflik di Indonesia karena bisa saja terjadi pembalasan terhadap umat Budha,” tegas Faisal, yang juga Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh.

“Jika konflik agama pecah, maka pemerintah harus bertanggungjawab telah membiarkan tragedi kemanusiaan terjadi di tengah laut,” katanya lanjut.

Tolak pengungsi Rohingya masuk Indonesia

Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia tak akan membiarkan wilayah lautnya dimasuki kapal-kapal pengangkut pengungsi Rohingya, tapi bantuan kemanusiaan tetap diberikan bagi mereka yang terusir dari negaranya.

"Untuk suku Rohingya, sepanjang dia melintas Selat Malaka, kalau dia ada kesulitan di laut, wajib dibantu …karena ini terkait human [kemanusiaan]. Tetapi kalau memasuki wilayah kita, tugas TNI untuk menjaga kedaulatan," tegasnya seperti dikutip Kompas.com, 15 Mei.

Untuk menjaga perairan Indonesia, TNI telah mengerahkan empat kapal perang dan satu pesawat jenis Cassa.

Kapal-kapal itu berpatroli rutin di sepanjang perairan Selat Malaka.

Menurut kesaksian sejumlah manusia perahu, beberapa hari sebelum diselamatkan nelayan Aceh, 15 Mei, mereka sempat dihalau kapal perang TNI Angkatan Laut saat memasuki perairan Indonesia.

“Setelah dibiarkan terombang-ambing di tengah laut, stok makanan kami mulai habis sehingga terjadi perkelahian antara Rohingya dan warga Bangladesh ketika berebut makanan,” kata Muhammad Amin, seorang etnis Rohingya yang ditampung di Kuala Langsa.

“Banyak dari kami lompat ke laut untuk menyelamatkan diri. Saya perkirakan sekitar 100 orang tewas dalam perkelahian yang memakai berbagai jenis senjata tajam atau tenggelam karena tidak bisa berenang setelah mereka lompat ke laut.”

Identifikasi oleh UNHCR

Komisi Tinggi untuk Urusan Pengungsi (UNHCR) dan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) telah memperingatkan bahwa sekitar 6.000 hingga 8.000 warga etnis Rohingya, Myanmar dan Bangladesh telah meninggalkan negara mereka dengan sejumlah perahu kayu untuk mencari kehidupan layak di Malaysia.

Sebelumnya, UNHCR telah menyerukan negara-negara kawasan Asia Pasifik supaya mengerahkan operasi penyelamatan ribuan warga muslim Rohingya dan Bangladesh yang diyakini masih berada di laut, tanpa makanan dan minuman yang cukup.

“Tapi, sejauh ini belum terlihat upaya negara-negara di Asia Pasifik untuk melakukan operasi search and rescue guna menyelamatkan yang terkatung-katung di laut,” kata jurubicara UNHCR, Mitra Salima Suryono, pada BeritaBenar di tempat penampungan pengungsi Kuala Cangkoi, Kamis, 14 Mei.

UNHCR sedang mengidentifikasi manusia perahu yang diselamatkan nelayan di Aceh, guna memastikan mana di antara mereka membutuhkan perlindungan internasional dan diberikan suaka politik.

Proses identifikasi dilakukan dengan mewawancara para migran satu persatu.

Galang dukungan peduli Rohingya

Sekitar 100 warga Aceh menggelar unjukrasa peduli Rohingya di ibukota Banda Aceh, 19 Mei.

Mereka menuntut pemerintah Indonesia dan negara-negara anggota ASEAN agar menyelamatkan pengungsi Rohingya dan Bangladesh sebagai wujud kepedulian pada kemanusiaan.

“Saat negara-negara lain menolak kehadiran mereka, Aceh menerima dengan lapang dada. Ini membuktikan Aceh adalah bangsa yang peduli kepada kemanusiaan. Mereka adalah orang Muslim yang merupakan saudara-saudara kita,” kata Darlis Azis, koordinator aksi.

Darlis juga mendesak Pemerintah Indonesia, Malaysia dan Thailand untuk menyelamatkan manusia perahu karena berbulan-bulan berada di laut dengan stok makanan dan minuman sangat sedikit.

“Sekarang saatnya membuktikan bahwa kita ada rasa kemanusiaan. Yang harus kita selamatkan adalah manusia, bukan binatang,” ujarnya.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.