Follow us

Penyidik: Korea Utara Bayar Pembunuh Kim Jong-Nam untuk Lakukan Prank

Siti Aisyah terima Rp1,38 juta beberapa minggu sebelum Kim terbunuh.
N. Nantha & Hadi Azmi
Shah Alam, Malaysia
2018-01-30
Email
Komentar
Share
Pengacara Siti Aisyah memperlihatkan foto pengemudi taxi Kamarudin Masyod (berkaca mata) berjalan bersama warga Korea Utara yang diidentifikasi sebagai James (juga dikenal sebagai Ri Ji U) dan terdakwa Siti Aisyah di sebuah mal di Kuala Lumpur, 30 Januari 2018.
Pengacara Siti Aisyah memperlihatkan foto pengemudi taxi Kamarudin Masyod (berkaca mata) berjalan bersama warga Korea Utara yang diidentifikasi sebagai James (juga dikenal sebagai Ri Ji U) dan terdakwa Siti Aisyah di sebuah mal di Kuala Lumpur, 30 Januari 2018.
Hadi Azmi/BeritaBenar

Siti Aisyah, warga Indonesia yang didakwa membunuh saudara tiri diktator Korea Utara di Kuala Lumpur pada Februari 2017 dibayar untuk melakukan kegiatan lucu-lucuan (prank) di sebuah mal beberapa minggu sebelumnya, demikian testimoni dari penyidik utama di pengadilan hari Selasa, 30 Januari 2018.

Aisyah bertemu dengan seorang supir taksi Malaysia yang mengenalkannya pada seorang warga Korea Utara yang diidentifikasi sebagai James (juga dikenal sebagai Ri Ji U), kata penyidik utama Wan Azirul Nizam Che Wan Aziz memberi kesaksian saat pemeriksaan silang.

Wan Azirul membenarkan bahwa James membayar Aisyah 400 ringgit (Rp1,38 juta) untuk sesi latihan dan Aisyah kemudian memberikan 100 ringgit (Rp345 ribu) kepada supir taksi itu.

"Di Mal Pavilion, Siti Aisyah diminta untuk menonton pertunjukan prank yang dilakukan oleh orang lain dan kemudian dirinya sendiri memperagakan prank tiga kali pada hari itu yang direkam oleh James," kata pengacara Aisyah, Gooi Soon Seng, kepada wartawan setelah kesaksian ditutup.

Siti dan warga Vietnam Doan Thi Huong terancam hukuman mati jika terbukti memoleskan agen saraf VX, zat beracun yang mematikan, ke wajah Kim Jong-nam di Bandara Internasional Kuala Lumpur 2 pada 13 Februari 2017.

Keduanya mengaku tidak bersalah, dengan mengatakan bahwa mereka ditipu untuk menyerang Kim. Mereka mengira bahwa mereka dibayar untuk melakukan prank untuk sebuah reality show TV.

Dalam kesaksiannya di hadapan jaksa bulan November lalu, Wan Azirul mengatakan bahwa dia meminta izin kedutaan Korea Utara untuk mewawancarai James, namun ia tidak mendapat jawaban.

James adalah satu dari tiga orang yang dideportasi ke Pyongyang pada bulan Maret 2017 dalam sebuah pertukaran diplomatik antara kedua negara dimana pada saat yang sama jasad Kim dikembalikan ke Korea Utara.

Empat pria Korea Utara lainnya yang terlihat di rekaman CCTV di bandara tersebut dan diidentifikasi sebagai tersangka, meninggalkan Malaysia beberapa jam setelah serangan yang membunuh saudara tiri diktator Kim Jong-un tersebut.

Kesaksian

Di pengadilan pada hari Selasa, Gooi memusatkan pertanyaannya pada pertemuan Aisyah dengan James, yang berpura-pura sebagai orang Jepang.

"Saya berpikir supir taksi Kamarudin Masyod mendekati tertuduh sekitar pukul 3 pagi pada tanggal 5 Januari 2017, di Beach Club di Kuala Lumpur," kata Gooi.

"Saya setuju tapi saya tidak yakin dengan tanggalnya," Wan Azirul bersaksi.

Gooi menanyakan apakah pertemuan di klub antara Siti dan Kamaruddin itu membicarakan tentang tawaran bagi Siti untuk tampil dalam acara prank dan keduanya bertemu dengan James delapan jam kemudian di mal tersebut.

"Ya, saya setuju," kata Wan Azirul.

Gooi juga menanyakan apakah Kamaruddin menyaksikan Siti berlatih prank hari itu.

"Ya, saya setuju," kata Wan.

Sebagai bukti, Gooi memperlihatkan foto yang menunjukkan Siti, James dan Kamarudin di mal bersama.

Setelah Gooi menyelesaikan pertanyaannya tentang penyidik, pengacara Doan, Hisyam Teh Poh Teik akan melanjutkan pemeriksaan silang. Sidang akan dilanjutkan pada 8 Februari.

Pada hari Senin, Gooi menanyai Wan Azirul tentang pertemuan antara Kim Jong-nam dan seorang pria yang diidentifikasi sebagai "orang Korea-Amerika yang berbasis di Bangkok," empat hari sebelum dia terbunuh. Penyidik mengatakan bahwa dia tidak dapat mengidentifikasi orang tersebut, menurut laporan media.

Wan Azirul memang memastikan sebuah laptop dikirim ke laboratorium forensik di Kuala Lumpur. Laptop itu terakhir digunakan pada 9 Februari 2017 namun tidak yakin apakah Kim mengirimkan data selama pertemuan tersebut atau jika pertemuan tersebut terkait dengan kematiannya.

Gooi menuduh Wan Azirul mengelak, mengatakan ia pura-pura lupa kejadian sebenarnya, seperti di kutip di media. "Anda bilang Anda menyelidiki tapi Anda sudah lupa semuanya? Hotel yang mana? Untuk apa penyelidikan ini, jika tidak terkait kasus ini? "

Setelah sidang persidangan hari Selasa itu, Gooi menyatakan keyakinannya pada kasus pembelaannya tersebut.

"Karena sejauh ini kami belum menemukan apapun yang menghubungkan klien kami dengan kejadian tersebut," katanya.

Tampilan selengkapnya