Follow us

Melihat Kehidupan Anggota ‘Bali Nine’ di Balik Jeruji Besi

Anton Muhajir
Badung
2018-11-27
Email
Komentar
Share
Si Yi Chen memperlihatkan liontin buatannya di Lembaga Pemasyarakatan Kerobokan, Bali, 24 November 2018.
Si Yi Chen memperlihatkan liontin buatannya di Lembaga Pemasyarakatan Kerobokan, Bali, 24 November 2018.
Anton Muhajir/BeritaBenar

Dengan penjepit di tangan kanan dan api las di tangan kiri, Si Yi Chen memanaskan satu per satu cincin dari perak.

Narapidana penghuni Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kerobokan, Bali, itu sedang membuat kalung dari rangkaian cincin pada hari Sabtu pagi, 24 November 2018.

“Hasilnya seperti ini,” tutur Chen, sambil memperlihatkan kalung yang sudah jadi.

Kalung perak berupa rantai dari rangkaian cincin itu dijual seharga Rp400.000.

Kalung perak itu hanya salah satu kerajinan berbahan perak yang dibuat Chen. Selain kalung, ada pula cincin, gelang, dan liontin.

Bagi Chen, produk favoritnya adalah liontin berhiaskan aksara China.

Satu kalung berbunyi Xin lengkap dengan terjemahannya dalam bahasa Inggris: faith, trust, true, belief. Satu lagi berbunyi He dengan terjemahan dalam bahasa Inggris pula: peace, together, kind, dan harmony.

“Karena penjara mengajarkan saya bagaimana harus hidup dalam damai. Saya harus menerima apapun yang saya alami saat ini dan menjadikannya sebagai pelajaran hidup,” lanjutnya.

Dia mengangkat kedua liontin itu, memperlihatkan tulisannya dalam bahasa China dan artinya.

Chen adalah salah satu dari sembilan anggota jaringan warga Australia yang tertangkap membawa heroin di Bali pada 17 April 2005.

Ketika itu, petugas kepolisian Indonesia dan Australia menangkap sembilan anak muda Australia itu dengan 8,3 kg heroin yang hendak diselundupkan ke negara asal mereka.

Jaringan itu kemudian disebut ‘Bali Nine’. Mereka divonis pengadilan Indonesia dengan hukuman berbeda.

Dua gembong ‘Bali Nine’, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran dijatuhi hukuman mati. Mereka dieksekusi regu tembak di Nusa Kambangan pada 29 April 2015.

Renae Lawrence, anggota ‘Bali Nine’ yang mendapatkan hukuman paling ringan, 20 tahun, telah dibebaskan, Rabu pekan lalu.

Sebagian anggota lain menjalani hukuman secara terpisah di Karangasem, Bali dan Malang, Jawa Timur.

Saat ini, hanya tertinggal dua anggota ‘Bali Nine’ yang menjalani hukuman di LP Kerobokan, yaitu Chen dan Matthew Norman. Keduanya dihukum seumur hidup.

Untuk mengisi hari-harinya di penjara, Chen mengaku mulai belajar membuat kerajinan dari perak sejak delapan tahun lalu. Setelah belajar tiga bulan, dia membuat kerajinan perak.

Belajar Tao

Sebelum membuat kerajinan perak, Chen lebih banyak menyibukkan diri dengan membaca buku, berlatih tai chi, dan olahraga.

Dia juga banyak belajar tentang ajaran Tao serta menikmati karya-karya Dan Brown dan cerita spionase.

“Membaca membuatmu melupakan banyak hal di luar. Kamu berada di dalam buku. Misalnya buku Da Vinci Code, kamu akan masuk dalam cerita itu,” katanya.

Adapun dari ajaran Tao, dia mendapatkan kedamaian dan pengetahuan menjadi orang baik.

“Bagaimana menciptakan kedamaian untuk dirimu sendiri maupun orang lain,” ujarnya.

Sejak delapan tahun lalu, Chen tidak hanya membaca buku dan olahraga tai chi, tapi juga membuat kerajinan. Dalam sehari, dia menghabiskan waktu kerja delapan jam.

Waktu pengerjaan tiap produk kerajinan itu beragam. Satu rantai gelang, misalnya, bisa sampai seminggu.

“Karena semuanya buatan tangan. Tidak bisa pakai mesin,” jelasnya.

Kadang-kadang, produk lain bisa lebih cepat atau lebih lama.

“Tergantung tingkat kesulitan. Kadang-kadang kita gagal karena salah menyolder. Kadang peraknya cair jadi harus mengulang sampai mendapatkan hasil seperti yang kita inginkan,” terangnya.

Chen juga mengajarkan cara membuat kerajinan perak itu kepada napi lain. Hingga kini dia mengaku telah mengajari 30-40 napi di LP Kerobokan.

Hasil kerja mereka kemudian dijual ketika LP Kerobokan mengikuti kegiatan di luar ataupun lewat akun Instagram.

Hasil penjualan dikembalikan ke LP Kerobokan, menurut Chen, karena bahan-bahan dan peralatan, termasuk listrik, memang disediakan pihak LP.

“Ini yang saya suka. Kami tidak fokus pada uang, tetapi pada menciptakan kesibukan,” ujarnya.

Matthew Norman menjual kaosnya kepada pengunjung Lembaga Pemasyarakatan Kerobokan di Bali, 24 November 2018. (Anton Muhajir/BeritaBenar)
Matthew Norman menjual kaosnya kepada pengunjung Lembaga Pemasyarakatan Kerobokan di Bali, 24 November 2018. (Anton Muhajir/BeritaBenar)

 

Jualan kaos

Kesibukan serupa juga dilakukan Norman. Bedanya, dia jualan kaos.

Ketika Chen menggelar lapak menjual aneka kerajinan perak, Norman juga membuka stan dengan menjual aneka kaos oblong bertema penjara ataupun pesan-pesan lain.

Norman mengambil desain favoritnya, kaos oblong putih dengan gambar berjudul ‘Paradise Lost.’

“Pesan yang ingin saya sampaikan adalah bahwa di penjara juga ada surga. Ini semacam komikal,” katanya.

Norman mengatakan kaos-kaos itu dia produksi bersama lima napi lain. Dia sendiri bertanggung jawab membuat desain, meskipun tidak semuanya.

“Sampai saat ini ada sekitar 30 desain yang kami buat,” katanya.

Desain-desain itu umumnya bertema harapan atau pesan mereka terkait kehidupan di penjara.

Salah satunya, misalnya, gambar orang di dalam penjara dengan tulisan Freedom. Di sekeliling terdapat tulisan dalam bahasa Inggris “I Came, I Saw, I Conquered”, terjemahan dari pernyataan Julius Caesar: “Veni, Vidi, Vici.”

Menurut Norman, kaos-kaos itu mereka jual ke seluruh Bali ketika LP Kerobokan mengikuti acara di luar penjara. Mereka juga menjualnya melalui pemasaran daring, bahkan sampai Australia.

Selain memproduksi sendiri, Norman dan teman-temannya juga bekerja sama dengan label kaos milik musisi terkemuka Bali I Gde Ary Astina alias JRX yaitu Rumble.

Menurut JRX, kaos dengan label ‘Rumble Redemption’ didesain dan disablon di penjara. Hasil penjualan disumbangkan untuk kegiatan sanggar dalam penjara terbesar di Bali itu.

“Tujuannya tidak hanya untuk membantu pendanaan bagi kegiatan seni di dalam penjara, tetapi juga mengikis stigma terhadap para narapidana,” kata JRX.

Kepala LP Kerobokan, Tonny Nainggolan, menambahkan kegiatan membuat kerajinan perak, menyablon kaos, dan bermusik di dalam penjara juga bertujuan untuk memberikan para napi keterampilan.

“Begitu bebas dari Lapas, mereka sudah memiliki keterampilan untuk bekal hidupnya,” katanya.

Tampilan selengkapnya