Indonesia Pertimbangkan Beli Minyak dari Rusia walaupun Negara itu Invasi Ukraina

Analis mengatakan keputusan itu oportunistik, menyarankan pemerintah mempertimbangkan juga hal etis, mendesak segera dihentikannya perang.
Tria Dianti
2022.03.29
Jakarta
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
Indonesia Pertimbangkan Beli Minyak dari Rusia walaupun Negara itu Invasi Ukraina Pekerja memompakan bensin ke pelanggan di sebuah pompa bensin di Tangerang, Banten, 1 Maret 2022.
AFP

Indonesia tengah mempertimbangkan untuk membeli minyak mentah dari Rusia, demikian kata perusahaan energi nasional Pertamina, Selasa (29/3), ditengah sanksi dari negara Barat terhadap Moskow dan naiknya harga minyak dunia pasca agresi militer Vladimir Putin ke Ukraina.

Keinginan Pertamina ini muncul di tengah laporan Rusia sedang mencari pasar baru di Asia Tenggara setelah boikot dari Amerika dan rencana dari negara-negara Eropa untuk mengurangi ketergantungan atas Rusia dalam penyediaan minyak dan gas.

Dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VI di DPR, Senin, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan pihaknya ingin memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan harga minyak mentah yang murah dari Rusia.

“Dalam diskusinya, Bu Dirut hanya menyampaikan opportunity saja, penjajakan,” kata juru bicara Pertamina, Fajriyah Usman, kepada BenarNews.

Nicke mengatakan Pertamina telah berkoordinasi dengan pihak terkait mengenai rencana, termasuk Kementerian Luar Negeri dan Bank Indonesia.  

“Di saat sekarang atau situasi geopolitik, kita melihat ada opportunity untuk membeli dari Rusia dengan harga yang baik,” kata Nicke dalam rapat di DPR.

Menggunakan harga minyak Rusia yang bersaing akibat sanksi yang diberikan negara Barat atas agresi militer Kremlin ke Ukraina, analis melihat keputusan Indonesia sebagai “sangat oportunistis”

“Indonesia memanfaatkan politik bebas aktifnya. Indonesia memang butuh minyak yang lebih murah terutama kalau harga minyak terus naik di atas $100 per barrel,” papar Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira.

Namun Bhima juga menyarankan Indonesia mempertimbangkan keputusan etis dan strategis secara posisi politik Indonesia di kancah Internasional sebagai ketua G20.

“Jadi seharusnya dalam kondisi sekarang ini Indonesia tetap memberikan tekanan untuk Rusia untuk menghentikan perang di Ukraina. Karena dengan berhenti perang, maka otomatis akan menurunkan harga minyak mentah dunia,” ujarnya. 

“Itu salah satu cara dibandingkan beli dengan harga diskon,” tambah Bhima.

B2B

Dirut Pertamina Nicke Widyawati mengatakan pembelian minyak dari Rusia, jika terwujud, akan dilakukan secara bisnis dengan bisnis (B2B).

“Untuk masalah politik sepanjang perusahaan yang kita deal ini tidak terkena sanksi. Untuk pembayaran kita juga sudah berkoordinasi mungkin nanti bisa melalui India atau gimana,” ujar dia.

Kementerian Luar Negeri tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar soal rencana pembelian minyak ke Rusia.

Menurut rencanya minyak tersebut akan diolah di Kilang Balongan di Jawa Barat yang saat ini masih dalam tahap perbaikan yang ditargetkan selesai pada Mei.

“Karena kilang kita yang baru selesai direvamping kan baru Balongan. Saat ini bisa masuk maka kita akan mengadakan pengadaan ke Rusia,” kata dia.

Nicke menjelaskan dengan perbaikan, kilang Balongan akan lebih fleksibel menggunakan jenis minyak mentah apapun termasuk yang diproduksi Rusia.

Meski Indonesia sendiri merupakan produsen minyak, Indonesia merupakan negara pengimpor minyak net, yang berarti impor lebih besar dari ekspor.

Indonesia keluar dari OPEC pada tahun 2009 karena status sebagai net importer minyak. Pada 2016, pemerintah Joko “Jokowi” Widodo memutuskan untuk kembali sebagai anggota OPEC, tapi kembali keluar pada akhir tahun yang sama.

Otoritas dan produsen minyak Rusia sedang mendiskusikan pengurangan produksi besar-besaran sebagai akibat dari sanksi Barat terhadap negara dan perusahaan, menurut situs berita industri Upstream.

Kepala regulator minyak Rusia Igor Shpurov mengatakan produksi mungkin harus dikurangi sebanyak 2,3 juta barel minyak per hari jika semua ekspor minyak ke Eropa dan AS diblokir, Upstream melaporkan.

Sejauh ini hanya AS yang melarang impor minyak Rusia, tetapi Inggris akan mengikutinya pada akhir 2022, dan Uni Eropa bergerak ke arah yang sama.

Pertamina diketahui juga memiliki kerjasama dengan perusahaan energy Rusia, Rosneft Oil Company, untuk membangun kilang di Tuban.

Juru bicara anak perusahaan Pertamina, Kilang Pertamina Internasional, Ifki Sukarya, menegaskan pembangunan kilang tersebut masih terus berjalan meskipun ada perang Rusia-Ukraina, Katadata.co.id melaporkan.

Pertamina mengatakan Rosneft tetap berkomitmen merampungkan perencanaan dan menyiapkan keputusan investasi serta kontrak dengan target kuartal ketiga tahun depan, menurut.

Cari pasar Asia

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov pada Senin menegaskan putusnya pesanan pasokan minyak Rusia oleh Barat akan digantikan oleh kontrak dengan negara di Asia Tenggara.

"Ada pasar di Asia Tenggara. Tidak diragukan lagi, putusnya tawaran untuk minyak akan dikompensasi oleh tawaran dari arah timur itu," kata Peskov, seperti dikutip dalam rilis yang dikeluarkan oleh kedutaan Rusia.

"Tapi bagaimanapun, kami ulangi sekali lagi - pasar dunia jauh lebih beragam daripada hanya pasar Eropa" katanya.

Komisi Eropa merencanakan agar negara Uni Eropa mengurangi ketergantungan pada pasokan gas Rusia sebesar 67% pada akhir tahun ini karena situasi di Ukraina.

Sisi etis

Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan walaupun Pertamina ingin memanfaatkan peluang minyak yang lebih murah dari Rusia, ia tetap menyarankan agar Indonesia tetap melihat sisi etis dan strategisnya dalam semua keputusan.

Jangan sampai karena membeli barang dari Rusia khususnya minyak mentah, Indonesia nanti akan dijauhi oleh Barat karena dianggap pro-agresi Rusia ke Ukraina.

“Dampaknya Indonesia bisa kehilangan investasi di sektor migas atau produk Indonesia akan dihalangi masuk ke Eropa dan AS apabila bahan bakunya ditemukan dari Rusia,” ujarnya.

Sanksi yang diberikan oleh AS, Uni Eropa dan Inggris kepada Rusia dan Belarusia telah berdampak pada harga komoditas seperti minyak mentah, gas alam, batu bara, nikel di dalam negeri. Sanksi ekonomi tersebut juga berdampak pada redupnya pertumbuhan ekonomi global dan melambungnya inflasi.

Di Indonesia, harga bahan bakar seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex sudah mengalami kenaikan. Selain itu, minyak goreng kelapa sawit di Indonesia juga sempat mengalami kelangkaan dan saat ini dijual dengan harga yang tinggi mengikuti pasar.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya