Follow us

Dikaitkan ISIS, Ibnu Mas’Ud Tetap Tolak Penutupan

LBH Jakarta akan memfasilitasi pertemuan dengan otoritas setempat untuk membicarakan agar pesantren itu tidak dipindahkan.
Arie Firdaus
Sukajaya, Bogor
2017-09-18
Email
Komentar
Share
Suasana Pesantren Ibnu Mas’ud di Desa Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, 16 September 2017.
Suasana Pesantren Ibnu Mas’ud di Desa Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, 16 September 2017.
Arie Firdaus/BeritaBenar

Suasana pesantren Ibnu Mas'ud yang terletak di kaki Gunung Salak, di Desa Sukajaya, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat tersebut tampak lengang pada Sabtu, 16 September 2017, berbeda dengan hari-hari biasanya.

Hanya terdengar teriakan sejumlah bocah yang terhenti jelang azan Isya. Mereka berlarian menuju ruang berwudu yang berada di sisi depan masjid.

"Itu anak-anak pengurus," kata Agus Purwoko (58), menunjuk ke arah sejumlah bocah berusia 6-12 tahun yang sedang mengambil wudu.

Sejak dua hari sebelumnya, Agus selaku Ketua Yayasan Al Uruwatul Usro yang menaungi pesantren telah memulangkan sekitar 260 santri ke rumah mereka, setidaknya untuk dua pekan ke depan.

Kompleks pesantren seluas sekitar 2.000 meter persegi, yang menampung santri setingkat SD hingga SMA itu pun kini kosong. Bangunan dua lantai berbentuk 'L" mengitari masjid, yang sejatinya menjadi kamar tidur santri, tak lagi berpenghuni.

"Udah pada takut (santri), ya, mau ngapain lagi? Pulangkan saja," tutur Agus.

Awal bulan ini Reuters mempublikasikan hasil investigasinya yang menyebutkan setidaknya delapan guru dan empat santri di pesantren Ibnu Mas'ud telah atau mencoba berangkat ke Suriah untuk turut berperang bersama kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) antara tahun 2013 dan 2016.

Sementara itu setidaknya 18 orang lain dari pesantren tersebut ditangkap dan dijatuhi hukuman karena terlibat aksi ISIS di Indonesia.

Namun desakan untuk penutupan pesantren tersebut yang berujung dengan dipulangkannya para santrinya, dipicu oleh ketegangan antara pengurus pesantren dan masyarakat sekitar ketika terjadi pembakaran umbul-umbul peringatan kemerdekan RI oleh salah seorang pengurus pesantren.

Polres Kabupaten Bogor telah menetapkan staf pesantren – Muhammad Supriyadi alias Abu Yusuf (17) – sebagai tersangka.

"Ia mengaku anti-NKRI dan marah melihat bendera atau umbul-umbul yang dianggap representasi negara," kata Kapolres Bogor, Ajun Komisaris Besar Dicky Pastika, kepada BeritaBenar.

Pernyataan Dicky itu disanggah Agus, dengan mengatakan staf itu memiliki gangguan jiwa.

"Ia bermasalah," kata Agus, menuding balik bahwa peristiwa itu dimanfaatkan pihak tertentu untuk menggoyang pesantrennya. Namun Agus menolak merincikan pihak tersebut.

Pembakaran itu mematik unjuk rasa warga di depan pesantren keesokan harinya. Puncaknya, pemerintahan setempat mendesak mereka meninggalkan kawasan Sukajaya selambat-lambatnya pada Minggu, 17 September 2017.

170918_ID_IbnuMasud_insert.jpg

Agus Purwoko berbicara kepada wartawan di Pesantren Ibnu Mas’ud, 17 September 2017. (Arie Firdaus/BeritaBenar)

Terkait ISIS

Adhe Bhakti, pengamat terorisme dari Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikalisasi, mengatakan, pesantren itu memang memiliki keterkaitan cukup erat dengan tokoh-tokoh terafiliasi ISIS.

Ia mencontohkan Aman Abdurahman, residivisi bom Cimanggis dan pelatihan militer Aceh, yang kembali ditangkap tim Densus 88 atas dugaan keterlibatan aksi teror Thamrin, Januari tahun lalu, tertulis sebagai pendiri dalam dokumen Ibnu Mas’ud, seperti juga disebut dalam laporan Reuters.

"Hari Budiman, Bhati Rasna, dan Kamaludin yang merupakan pengurus yayasan yang dihukum karena terlibat (pelatihan) di Aceh," kata Adhe kepada BeritaBenar. "Iskandar alias Alexander, Sunakim, dan Brekele alias Syaiful Anam, anak mereka sekolah di sana."

Iskandar adalah seorang tokoh ISIS asal Bima, Sunakim adalah salah satu pelaku teror Thamrin, dan Brekele adalah narapidana pemboman pasar Tentena di Poso tahun 2005 yang juga terlibat dalam pengiriman warga Indonesia ke Suriah.

Saat BeritaBenar mengonfirmasi keterkaitan nama-nama itu dengan pesantrennya, termasuk laporan yang menyebutkan Aman sebagai pendiri pesantren, Agus menjawab sembari tertawa. Namun nada bicaranya meninggi.

"Sebut saja semuanya," katanya.

Agus mengaku dia sama sekali tidak mengenal sosok Aman Abdurrahman. Dia menduga diseretnya Ibnu Mas'ud ke dalam lingkaran Aman lantaran keterkaitannya dengan Hari Budiman, salah satu pengikut setia Aman.

"Yang bikin pesantren saya. Lalu saya ajak yang lain, salah satu Hari Budiman," tegas Agus seraya menambahkan bahwa pesantren tersebut menempati lahan di Depok pada saat didirikan tahun 2007, sebelum kemudian pindah ke Bogor pada 2011.

Ia mengatakan pendirian pesantren tersebut dari uang pribadinya dan dari sejumlah donator yang dia tidak rincikan, sementara santri dikenai Rp600 ribu per bulan untuk biaya mondok dan nyantri di sana.

"Tapi Hari (Budiman) itu kemudian saya pecat, sekitar 2008 karena beda persepsi. Saya juga sudah ingatkan dia, 'Jangan gaul sama yang begituan'," jelas Agus.

Mengenai beberapa guru dan siswa yang berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS, Agus menyebutnya sebagai fenomena yang tak otomatis menjelaskan Ibnu Mas'ud mendukung ISIS.

Dia mencontohkan putra Brekele bernama Haft Saiful Rasul (12) yang tewas di Suriah saat berperang sebagai anggota tentara ISIS tahun lalu.

"Apa mungkin santri yang di sini empat bulan sudah kepikiran untuk ke Suriah? Enggak mungkin!" sanggah Agus, “pasti sudah ada bekal dari rumah."

170918_ID_IbnuMasud_insert2.jpg

Seorang anak staf Pesantren Ibnu Mas’ud berdiri di depan ruang belajar, 17 September 2017. (Arie Firdaus/BeritaBenar)

Gelisah

Saat BeritaBenar menyambangi Pesantren Ibnu Mas'ud pada malam itu, kegelisahan penghuninya tergambar jelas.

Tak ada lagi suara anak-anak belajar menghafal Alquran yang rutin digelar, seperti pengakuan Agus. Berganti segala kegiatan persiapan mengantisipasi kalau pesantren diserang pihak luar.

Seusai salat Isya berjamaah, misalnya, beberapa staf sibuk mondar-mandir memasang tiga kamera pengawas (CCTV) baru di sekitar pesantren, dibantu seorang petugas keamanan.

Sejak malam itu, pesantren mempekerjakan empat petugas keamanan baru yang masing-masing digaji Rp 2,5 juta.

Agus duduk di sebuah kursi di pelataran seluas lapangan bulu tangkis di samping masjid bersama dua staf Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta yang menjadi kuasa hukum pesantren.

‘Tidak akan pindah’

Salat subuh berjamaah baru saja selesai di Ibnu Mas'ud, ketika seorang staf mengisi penuh beberapa ember dengan air di salah satu sudut pesantren.

"Untuk jaga-jaga jika nanti ada yang bakar-bakar," kata staf tersebut.

Hari itu, pengurus memang mendapat kabar dari kepolisian soal kemungkinan unjuk rasa, bertepatan deadline pengosongan pesantren. Tapi hingga sore, demonstrasi yang diantisipasi tak terealisasi.

Unjuk rasa itu akhirnya terjadi pada Senin, mendesak pesantren segera meninggalkan kawasan Sukajaya. Ratusan orang mendatangi Ibnu Mas’ud.

"Massa datang untuk memastikan kalau tuntutan mereka dipenuhi. Mereka mendapat informasi kalau pesantren hanya diliburkan, bukan dibubarkan," kata Kapolres Bogor.

Soal desakan itu, Agus tegas mengatakan, "Kami tidak akan pindah" pasalnya massa yang berdemonstrasi bukan warga sekitar pesantren.

"Warga di sini baik-baik saja, kok. Yang unjuk rasa itu bukan warga sini, mereka dimobilisasi," katanya.

Ketua RT 02 RW 04 Desa Sukajaya, Andi Menir, mengakui warga yang berdemonstrasi memang bukan masyarakat setempat.

"Enggak ada yang saya kenal mukanya," kata Andi kepada BeritaBenar. Namun demikian ia mengakui kalau pesantren tersebut bersifat eksklusif. Saat ini, jelasnya, tidak ada warga lokal yang menjadi santri atau guru di sana.

Direktur LBH Jakarta, Alghifari Aqsa, mengatakan bahwa pihaknya akan memfasilitasi pertemuan lanjutan dengan otoritas pejabat setempat untuk membicarakan masalah Ibnu Mas'ud. Hanya saja, ia tak menyebutkan waktunya.

"Tapi arahnya jelas. Kami mendorong agar pesantren tetap di sini," pungkas Alghifari.

Tampilan selengkapnya