Taliban Mengklaim Bertanggung Jawab Atas Jatuhnya Helikopter Militer Pakistan

Oleh Paramita Dewiyani
2015.05.09
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
150508_ID_PAKISTAN_HELIKOPTER_KECELAKAAN_700.jpg Helikopter milik tentera Pakistan yang membawa beberapa diplomat jatuh di kawasan utara Gilgit tanggal 8 Mei 2015.
AFP

Istri Duta Besar Malaysia dan Indonesia untuk Pakistan termasuk dalam tujuh orang yang tewas ketika helikopter milik militer Pakistan jatuh, kelompok militan Taliban mengaku bertanggung jawab.

"Kami menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya. Semoga beliau diterima di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan," kata Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno LP Marsudi kepada wartawan tanggal 8 Mei.

Helikopter itu jatuh di daerah Lembah Naltar, Gilgit, sekitar 319 mil (479km) dari ibukota Pakistan, Islamabad, pada Jumat.

Taliban mengklaim bertanggung jawab atas insiden ini dan merupakan upaya membunuh Perdana Menteri Pakistan, Nawaz Sharif.

Dalam sebuah pernyataan email yang dikirim kepada Radio Free Europe (RFE) / Radio Liberty (RL) Radio Mashaal, Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP), kelompok militan Taliban yang bergerak aktif di Pakistan, secara terang-terangan menyatakan bahwa sasaran mereka sebenarnya adalah Perdana Menteri Nawaz Sharif.

"Helikopter MI-17 buatan Rusia itu, telah ditembak jatuh dengan rudal anti-pesawat, membunuh pilot dan duta asing," kata Muhammad Khurasani, juru bicara Taliban.

Duta Besar (Dubes) Norwegia Leif H. Larsen dan utusan Filipina Domingo D. Lucerno, istri Dubes Malaysia, Habibah Mahmud, dan istri Dubes Indonesia, Heri Listyawati Burhan Muhammad, termasuk dalam daftar mereka yang tewas, AFP melaporkan.

Pakistan membantah

Sementara itu, Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Mohammad Asif menolak pernyataan tersebut. Ia mengatakan jatuhnya helikopter militer tersebut dikarenan kesalahan teknis.

Juru bicara Militer Pakistan Mayor Jenderal Asim Bajwa turut mengkonfirmasi kecelakaan itu dalam situs Twitter nya.

"Berdasarkan informasi awal, dua buah helikopter mendarat dengan selamat sedangkan pesawat ketiga mengalami masalah teknis saat melakukan pendaratan,” katanya.

"Tiga belas penumpang selamat namun mengalami berbagai cedera. Saya berhubungan dengan mereka yang bersangkutan. Akan pembaruan informasi dari lokasi kejadian," katanya lanjut.

Beberapa Utusan negara termasuk Dubes dari Polandia Andrzej Ananiczolish dan utusan Belanda Marcel de Vink, Dubes Indonesia Burhan Muhammad, dan Dubes Malaysia Hasrul Sani Mujtabar menderita luka-luka.

“Berita tersebut adalah benar, Ibu Heri tewas dalam kecelakaan tersebut dan jenazah beliau dalam proses pemulangan ke Indonesia,” juru bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir mengkonfirmasi kepada BeritaBenar tanggal 8 Mei.

"Saat ini beliau [Burhan] dirawat di Combine Military Hospital di Gilgit,” kata Retno.

Indonesia akan turut menginvestigasi

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) mengatakan bahwa pemerintah Indonesia dan Pakistan akan melakukan investigasi untuk memastikan siapa yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

“Kami masih melakukan penyelidikan dan investigasi untuk ini,” kata Nasir kepada BeritaBenar tanggal 8 Mei.

Helikopter militer Pakistan yang membawa sejumlah diplomat asing untuk tengah memenuhi undangan dari Kementerian Luar Negeri Pakistan.

Perjalanan tersebut merupakan perjalanan diplomatik dengan anggota 37 negara. Sebuah sekolah terbakar setelah kejadian, AFP melaporkan.

“Kita akan terus melakukan penyelidikan tentang penyebab kecelakaan ini,” kata Nasir.

Dikenal untuk pegunungan spektakuler, Gilgit-Baltistan adalah daerah otonom strategis yang berbatasan dengan China, Afghanistan dan India-Kashmir.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.