Polisi klaim kelompok separatis Papua tembak warga, TPNPB bantah terlibat

Korban sedang bermain badminton saat ditembak orang tak dikenal.
Victor Mambor
2022.06.27
Jayapura
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
Polisi klaim kelompok separatis Papua tembak warga, TPNPB bantah terlibat Aktivis Papua memegang poster melakukan demonstrasi "penentuan nasib sendiri" di sekitar Monumen Nasional Jakarta, 1 Desember 2021.
[Reuters]

Polisi menyatakan kelompok separatis di Papua menembak seorang warga sipil yang sedang bermain badminton hingga tewas, namun tuduhan itu dibantah oleh angkatan bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Seorang pedagang bernama Enal, 32, tewas dalam perjalanan ke rumah sakit setelah dia ditembak ketika sedang bermain bulu tangkis pada Minggu  jam 21.34 di Aula DPR di Kabupaten Deiyai, kata juru bicara Polda Papua, Kombes Ahmad Musthofa Kamal, dalam keterangan tertulis, Senin.

“Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) kembali berulah dengan meneror warga yang sedang melaksanakan olahraga malam,” kata Kamal, merujuk pada kelompok separatis yang menggunakan kekerasan.

Menurut Kamal, polisi dari satuan reserse kriminal saat ini sedang menyelidiki tiga orang terduga pelaku yang menggunakan senjata laras panjang. 

“Sampai saat ini, personel Polres Deiyai bersama Operasi Damai Cartenz masih melakukan patroli di sekitar tempat kejadian guna memastikan situasi tetap aman kondusif,” kata dia.

Polda Papua telah mengirimkan tim ke lokasi kejadian untuk menyelidiki kasus penembakan.

Kapolda Papua Irjen Mathius Fakhiri mengungkapkan bahwa pelaku penembakan kemungkinan merupakan anggota kelompok separatis dari kabupaten terdekat.

TPNPB membantah

Sebby Sambom, juru bicara kelompok separatis bersenjata Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), mengatakan kelompoknya tidak terlibat dalam penyerangan di Deiyai.

“Kami tidak tahu siapa yang menembak. Kami sudah cek di lapangan, tidak ada informasi tentang penembakan tersebut yang dilaporkan, “ kata Sambom kepada BenarNews.

“Kalau polisi sebut KKB sebagai pelaku, tidak tahu apa, siapa dan di mana KKB itu. Mungkin polisi sendiri yang tahu siapa mereka itu.”

Sambom menambahkan TPNPB mengetahui ada orang-orang bersenjata yang dibina dan dikendalikan oleh aparat keamanan Indonesia.

Meskipun demikian, Sambom menegaskan bahwa TPNPB sudah menetapkan wilayah Pegunungan Papua sebagai wilayah perang, sehingga siapa saja bisa menjadi korban dalam konflik bersenjata yang terjadi.

"Jangan coba-coba mengambil hak kami orang Papua," tegas Sambom yang memberikan pesan kepada aparat dan pemerintah pusat Indonesia.

Pembunuhan Brimob dan penjualan senjata

Papua memiliki intensitas konflik tertinggi berdasarkan jumlah penduduk, menurut penelitian

Pada tahun 2021, Papua mengalami rata-rata 22 insiden per 1 juta orang – hampir empat kali lipat rata-rata nasional, menurut kajian Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang terbit 2021.

Dalam peristiwa kekerasan sebelumnya, seorang anggota Brimob Polda Papua bernama Diego Rumaropen, tewas dibacok pada 18 Juni oleh dua orang tak dikenal di Napua, Kabupaten Jayawijaya, menurut Pendeta Alex Mauri – keluarga korban.

Sebelum tewas, Diego diajak oleh seorang komandan kompi Brimob Batalion D Wamena bernama AKP Rustam untuk menembak sapi di Napua, kata Mauri.

“Usai menembak sapi, AKP R kemudian menitipkan senjata api yang dibawanya kepada Diego,” kata Mauri, dan tiba-tiba orang tak dikenal datang dan langsung membacok Diego dengan menggunakan senjata tajam serta mengambil dua senjata api yang dibawanya, yakni jenis AK101 dan SSG 08, yang merupakan senapan laras panjang untuk penembak jitu.

Mauri menuduh Rustam sebagai orang yang melindungi perjudian untuk kepentingan pribadi di Kota Wamena, dan terlibat penjualan senjata api kepada TPNPB.

“Saya sudah minta Bapak Kapolda bisa periksa, perjudian dan praktek togel AKP Rustam dia ambil itu semua,” kata Pendeta Mauri.

“Dari penjelasan polisi, kami sudah bisa menduga bahwa AKP Rustam jual senjata untuk TPNPB dan Diego dijadikan tumbal,” sambung Mauri.

Sambom membenarkan TPNPB telah merampas senjata AK101 dan SSG 08 dari anggota polisi.

“Pembunuhan serta perampasan senjata di Wamena pada tanggal 18 Juni ini merupakan bagian dari Operasi Pasukan TPNPB-OPM di seluruh Tanah Papua. Dua senjata itu ada pada kami sekarang,” jelas Sambom.

Kekerasan di Papua meningkat tajam sejak kelompok separatis menyerang pekerja yang sedang membangun jembatan di Kabupaten Nduga pada akhir 2018 dan menewaskan 20 orang.

Konflik antara kelompok separatis dan aparat keamanan Indonesia terus mewarnai wilayah Papua sejak Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) di bawah pengawasan PBB pada 1969 yang menetapkan wilayah itu sebagai bagian dari Indonesia.

Sebagian warga Papua dan kalangan pegiat hak asasi manusia memandang Pepera manipulatif lantaran hanya melibatkan sekitar seribu orang yang sudah ditetapkan untuk memilih bergabung dengan Indonesia.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya