Follow us

Densus 88 Tangkap 6 Terduga Anggota Jamaah Ansharut Daulah

Dua diantaranya ikut dalam perencanaan Bom Surabaya, menurut polisi.
Arie Firdaus
Jakarta
2019-08-26
Email
Komentar
Share
Seorang perempuan Muslim menyeka air matanya saat hadir memberikan penghormatan terhadap seorang korban yang tewas akibat serangan bom bunuh diri di sebuah gereja di Surabaya yang dilakukan oleh sebuah keluarga anggota kelompok Jamaah Ansharut Daulah, 14 Mei 2018.
Seorang perempuan Muslim menyeka air matanya saat hadir memberikan penghormatan terhadap seorang korban yang tewas akibat serangan bom bunuh diri di sebuah gereja di Surabaya yang dilakukan oleh sebuah keluarga anggota kelompok Jamaah Ansharut Daulah, 14 Mei 2018.
AP

Aparat Detasemen Khusus Antiteror 88 (Densus 88) Mabes Polri telah menangkap enam terduga teroris dari sejumlah lokasi terpisah di Jawa Timur dalam operasi yang dilakukan sejak Kamis hingga Sabtu pekan lalu, demikian kata pejabat kepolisian, Senin, 26 Agustus 2019.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo di sebuah jumpa pers di Jakarta mengatakan dua di antaranya disebut sebagai amir atau pimpinan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), kelompok militan yang telah berbaiat kepada ISIS dan telah dilarang di Indonesia, karena ditengarai berada di belakang berbagai aksi terorisme di Indonesia empat tahun terakhir.

"HS maupun BL diketahui pernah hadir dalam kegiatan pertemuan amir JAD se-Jawa Timur pada 12 Mei 2018 di Islamic Center Balung Bendo, Sidoarjo, Jawa Timur. Sehari sebelum bom Surabaya," Dedi Prasetyo, menyebut inisial kedua tersangka yang masing-masing di sebut sebagai Amir JAD Madura dan Lamongan.

"Beberapa orang itu sangat terkait erat dengan bom Surabaya, minimal mengetahui proses perencanaan bom Surabaya, baik yang di tempat ibadah maupun serangan Polrestabes Surabaya."

Kedua terduga teroris ini ditangkap aparat Densus 88 pada Kamis pekan lalu, namun di lokasi berbeda.

HS ditangkap aparat di Dusun Batu Lengger, Desa Bira Tengah, Sukobana, Sampang, Madura pada pukul 15.06 WIB. Adapun BL dicokok sekitar tiga jam setelahnya di Jalan Raya Belimbing, Paciran, Lamongan.

Serangan bom bunuh diri di Surabaya terjadi pada 13 Mei 2018 yang dilakukan satu keluarga terdiri dari pasangan suami istri dan empat anak mereka, menyasar tiga gereja.

Sehari kemudian, pasangan suami istri lain bersama tiga anak mereka – satu di antaranya selamat – meledakkan diri di pos penjagaan Markas Kepolisian Resor Kota Surabaya.

Hadiri sejumlah pertemuan

Tak cuma hadir dalam pertemuan amir JAD yang berlangsung sehari sebelum bom bunuh diri Surabaya, lanjut Dedi, HS dan BL diketahui juga pernah menghadiri pertemuan-pertemuan lain anggota JAD.

HS, misalnya, turut hadir dalam kajian di Sengkaling, Malang, Jawa Timur, pada 2014.

Terpidana penyalur dana dan fasilitator senjata api untuk bom Thamrin, Saiful Muthohir alias Abu Gar alias Abu Fida, hadir sebagai mentor dalam pertemuan itu.

Saiful belakangan divonis sembilan tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur pada Rabu, 23 November 2016.

Ia pernah pula ikut serta dalam pertemuan di Lamongan, Jawa Timur, pada 2015 yang turut dihadiri amir JAD nasional, Zainal Anshori.

Zainal dihukum tujuh tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Timur pada Februari 2018 atas tindak pidana terorisme.

Sedangkan BL pernah hadir terlibat pelatihan militer di Gunung Panderman, Batu, pada 2015.

Pelatihan ini dipimpin oleh Saiful Muthohir alias Abu Gar alias Abu Fida yang memang berstatus panglima militer JAD.

Selain kedua petinggi JAD tadi, Detasemen Khusus Antiteror 88 juga menangkap KJ, S, dan IPS.

Ketiganya disebut terafiliasi dengan JAD Blitar pimpinan Lutfi alias Goper yang ditangkap pada 3 Agustus 2018

"Mereka mengetahui pembelian senjata oleh teroris Anang Rustianto (JAD Blitar)," lanjut Dedi.

Anang ditangkap kepolisian pada 13 Juni 2018.

Merampok untuk bom

Satu terduga teroris lain yang ditangkap Detasemen Khusus Antiteror 88 Mabes Polri adalah YT yang juga terafiliasi dengan JAD.

Ia ditangkap usai merampok toko emas Dewi Sri di Magetan pada Sabtu pekan lalu.

"Perampokan itu untuk keperluan dana membeli peralatan untuk merakit bom," terang Dedi lagi.

Aksi perampokan YT terjadi di Desa Tebon, Kecamatan Barat, Magetan.

Kala itu, YT yang membawa kaleng yang diduga berisi bom rakitan, langsung menghantamkan kaleng ke etalase perhiasan sembari menodongkan sebuah pistol mainan.

Ia kemudian melompat ke arah kasir dan berteriak meminta uang. Oleh petugas kasir, ia kemudian diberikan uang Rp10 juta.

Uang tersebut dimasukkan YT ke tas ransel yang dibawanya. Merasa kurang atas jumlah uang yang didapat, YT kembali berteriak ke arah kasir meminta tambahan uang, tapi diabaikan.

Merasa kesal, YT lalu mengambil lima cincin emas dan tiga gelang emas, menumpahkan batu permata yang berada di meja kasir, lalu melarikan diri.

"Tapi sesampai di area parkir, ia (YT) dikeroyok massa dan ditangkap," tutur Dedi.

Selain mengamankan barang bukti hasil rampasan, kepolisian turut menita dua kaleng yang diduga bom rakitan, satu buah sangkur, pistol airsoft gun, dua kotak peluru senapan angin, petasan, korek api, baterai, bom molotov, empat busur panah, satu lembar kertas bertulisan cara merakit bom, tiga telepon seluler (berisi grup percakapan jaringan), dan sekilogram belerang.

"Ada juga benda cair yang masih diteliti di laboratorium, untuk mengetahui apakah ada unsur kimia dan TATP (triaseton triperoksida)," pungkas Dedi.

Sejak peristiwa bom di Surabaya yang menewaskan 14 warga sipil itu, sekitar 350 terduga militan telah ditangkap untuk diinterogasi.

Aman Abdurrahman, amir JAD, saat ini masih mendekam di penjara dan telah dijatuhi hukuman mati pertengahan tahun lalu karena terbukti terlibat dalam sejumlah aksi terorisme di Tanah Air.

Tampilan selengkapnya