Follow us

Polri Antisipasi Serangan Teror Saat Lebaran 2019

Kapolri mengatakan aksi ketupat tahun ini berbeda karena bertepatan dengan tahun Pemilu.
Putra Andespu
Jakarta
2019-05-30
Email
Komentar
Share
Kapolri Jenderal Tito Karnavian (kanan) dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto saat mengecek pasukan dalam apel Operasi Ketupat 2019 di Lapangan Monas, Jakarta, 28 Mei 2019.
Kapolri Jenderal Tito Karnavian (kanan) dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto saat mengecek pasukan dalam apel Operasi Ketupat 2019 di Lapangan Monas, Jakarta, 28 Mei 2019.
Putra Andespu/BeritaBenar

Jajaran Kepolisian Republik Indonesia (Polri) tetap mengantisipasi potensi serangan teror dan segala bentuk kejahatan lainnya selama musim mudik dan perayaan Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriah.

“Kami tetap mengantisipasi terhadap potensi serangan teror dan segala ancaman yang bisa terjadi di hari-hari besar,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen. Pol. Dedi Prasetyo, kepada wartawan di Jakarta, Kamis, 30 Mei 2019.

Potensi teror, tambahnya, tetap ada mengingat Idul Fitri tahun ini masih dalam suasana tahapan Pemilu 2019.

Delapan orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka dalam kerusuhan pasca pengumuman hasil Pemilu pada 21-22 Mei di Jakarta, setelah pendukung Prabowo Subianto, kandidat presiden yang kalah, melakukan demonstrasi yang berujung ricuh. Polisi mengatakan sebuah kelompok terafiliasi ISIS ikut menunggangi aksi unjuk rasa itu.

Sebelumnya, tim Densus 88 Antiteror telah menangkap 29 terduga teroris di berbagai daerah dalam bulan ini yang disinyalir mempersiapkan serangan saat pengumuman hasil Pemilu oleh Komisi Pemilihan Umum tersebut.

Dedi menjelaskan, Satuan Tugas (Satgas) Antiteror yang sudah dibentuk di Polda-Polda terus memantau aktivitas jaringan dan sel tidur kelompok teroris.

Kementerian Perhubungan memperkirakan sebanyak 14,9 juta penduduk Jabodetabek melakukan perjalanan mudik untuk merayakan Lebaran 2019 bersama keluarga mereka.

Banyak pemudik lebih memilih jalur darat seiring mahalnya harga tiket pesawat dalam beberapa pekan terakhir sehingga potensi kerawanan di jalan meningkat.

Sedikitnya 160.335 personel gabungan, termasuk tim antiteror, telah diterjunkan untuk pengamanan sekaligus mengantisipasi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) dalam operasi bersandi “Ketupat 2019” dari 29 Mei hingga 10 Juni 2019.

Pasukan itu terdiri atas 93.589 personel Polri, 13.131 anggota TNI, 18.906 personel dari kementerian dan dinas terkait, 11.720 Satpol Pamong Praja, 6.913 personel Pramuka, serta 16.076 orang dari organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan.

Menurut pengamat terorisme dari Institute For Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi, teroris kerap memanfaatkan momentum tertentu, termasuk Lebaran untuk melancarkan aksinya.

“Mengancam atau menyiapkan rencana-rencana terkait momen-momen tertentu kan salah satu karakteristik jaringan kekerasan ekstrem ini. Jadi, tampak di permukaan atau tidak, otoritas keamanan kita tentu harus tetap waspada dan antisipatif,” katanya saat dihubungi BeritaBenar.

“Karena teror kan tidak bisa lagi diasumsikan hanya berbentuk serangan dengan bahan peledak. Bentuk ancamannya bisa bermacam-macam, dari intensitas rendah sampai tinggi seperti serangan bom bunuh diri.”

Aparat keamanan, kata Khairul, harus menyiapkan langkah kewaspadaan dan antisipasi yang jangan sampai mengganggu aktivitas masyarakat secara luas.

Salah satunya dengan membekali langsung para petugas jaga, termasuk penyedia jasa keamanan, terkait penanganan ancaman teror. Mereka harus dibekali informasi yang cukup soal kondisi ancaman.

“Informasi ini diperlukan agar para petugas memiliki cara bertindak,” ujar Khairul.

Tahun lalu

Polri memang meningkatkan pengamanan secara signifikan setelah terjadinya rentetan aksi teror yang dimulai dari serangan bom bunuh diri di Surabaya, Jawa Timur, pada 13-14 Mei lalu.

Serangan bom dua hari di Surabaya itu mendorong Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI mempercepat pengesahan Undang-Undang Antiterorisme yang menjadi payung hukum baru terhadap aparat dalam menindak pelaku teror.

Beberapa hari jelang Idul Fitri tahun lalu, Densus Antiteror menciduk 82 terduga teroris yang 14 di antaranya tewas ditembak. Hingga akhir tahun 2018, sebanyak 396 pelaku teror ditangkap.

Peningkatan keamanan dan kesiapsiagaan polisi jelang lebaran cukup beralasan karena pada Lebaran 2017, dua teroris menyerang dan membakar pos polisi Polda Sumatera Utara di Medan.

Pelaku menikam hingga tewas Martua Sigalingging, polisi yang bertugas di pos tersebut.

Seorang pelaku yang bernama Ardial alias Bewe kemudian tewas ditembak saat hendak menyerang polisi lain.

Sedangkan temannya Syawaludin Pakpahan berhasil ditangkap. Simpatisan ISIS yang pernah tinggal di Suriah itu kemudian dihukum 19 tahun penjara.

Pernyataan Kapolri

Kapolri Jenderal Tito Karnavian dalam amanatnya ketika memimpin gelar pasukan di Lapangan Monas, Jakarta, Selasa lalu mengatakan, Operasi Ketupat tahun ini berbeda dengan sebelumnya.

“Operasi Ketupat Tahun 2019 akan dilaksanakan bersamaan dengan penyelenggaraan tahapan Pemilu 2019. Hal tersebut membuat potensi kerawanan yang akan dihadapi semakin kompleks,” katanya.

Menurut Tito, berbagai gangguan terhadap stabilitas Kamtibmas seperti serangan teror baik terhadap masyarakat, personel kepolisian maupun markas Polri harus diantisipasi.

Berikutnya yang jadi fokus pencegahan adalah berbagai kejahatan seperti pencurian, perampokan, penjambretan, begal, dan premanisme, kata Kapolri.

Kemudian aksi intoleransi dan kekerasan, seperti sweeping oleh organisasi masyarakat, gangguan terhadap kelancaran dan keselamatan transportasi darat, laut, dan udara.

“Objek pengamanan Operasi Ketupat Tahun 2019, antara lain berupa 898 terminal, 379 stasiun kereta api, 592 pelabuhan, 212 bandara, 3.097 pusat perbelanjaan, 77.217 masjid, dan 3.530 objek wisata,” ujar Tito.

Tampilan selengkapnya