Follow us

Polisi: Petani Poso Tewas Diduga Dibunuh Kelompok MIT

Kepala BNPT mengatakan anak muda Poso harus dilindungi dari pengaruh radikalisme.
Keisyah Aprilia
Palu
2020-08-10
Email
Komentar
Share
Kepala BNPT, Komjen Boy Rafli Amar, memberikan keterangan pers dalam kunjungannya di Palu, Sulawesi Tengah, Senin (10/8/2020).
Kepala BNPT, Komjen Boy Rafli Amar, memberikan keterangan pers dalam kunjungannya di Palu, Sulawesi Tengah, Senin (10/8/2020).
Keisyah Aprilia/BenarNews

Kapolda Sulteng Irjen. Pol. Syafril Nursal, Senin (10/8), mengatakan kelompok sipil bersenjata Mujahidin Indonesia Timur (MIT) diduga berada di balik tewasnya seorang petani yang mayatnya ditemukan di Kabupaten Poso sehari sebelumnya.

Mayat pria yang berinisial AB (45) ditemukan Minggu (9/8) setelah sehari sebelumnya dia dan temannya, AP, dicegat oleh orang bersenjata yang diduga anggota MIT, kelompok militan bersenjata terafiliasi ISIS, di kebun jagung yang berada di pegunungan Tahiti Kecamatan Poso Pesisir Selatan, kata Syafril.

Kapolda mengatakan orang yang diduga anggota MIT itu mempertanyakan soal keberadaan petugas Satgas Operasi Tinombala di Desa Sanginora kepada kedua petani itu. Tinombala adalah satuan yang terdiri dari TNI dan polisi yang dibentuk pemerintah sejak 2016 untuk menangkap anggota MIT.

“Kemudian AB menjawab bahwa di Sanginora tidak ada petugas, yang ada hanya di Desa Tangkura (desa tetangga Sanginora),” ujar Syafril kepada BenarNews.

AP kemudian berhasil kabur dari cengkraman kelompok bersenjata itu dan bersembunyi di semak-semak untuk menghindari tembakan, kata Syafril.

Kepada anggota Tinombala, AP menceritakan bahwa salah satu dari orang yang menahan rekannya adalah Ali Kalora, yang membawa senjata laras panjang, kata Kapolda.

“Anggota Satgas kemudian melakukan penyisiran di seputaran pondok dan menemukan mayat AB dengan kondisi luka bacok di bagian leher, punggung, dan bagian tubuh lainnya,” ujar Kapolda.

“Dapat dipastikan bahwa pelaku adalah kelompok MIT pimpinan Ali Kalora. Dan saat ini Satgas Operasi Tinombala masih melakukan pengejaran,” imbuhnya.

Kabid Humas Polda Sulteng Kombes Didik Supranoto menambahkan, bahwa kelompok MIT yang tersisa 13 orang bergerak ke wilayah Kecamatan Poso Pesisir Selatan karena sudah terdesak di Kecamatan Poso Pesisir Utara.

“Ruang gerak mereka terbatas akibat perpanjangan kembali Operasi Tinombala. Makanya berpindah ke Kecamatan Poso Pesisir Selatan karena sebelum fokus operasi di Poso Pesisir Utara,” katanya.

Rampok rombongan Dinkes Poso

Orang yang diduga anggota MIT juga menghadang pegawai Dinas Kesehatan (Dinkes) Poso yang tengah menuju Kota Poso setelah melaksanakan perjalanan dinas di wilayah dataran Napu, Sabtu (8/8).

“Rombongan pegawai Dinkes itu dihadang saat melintas di jalan Trans Sulawesi antara wilayah pegunungan Hae dan Sanginora,” kata Kapolres Poso AKBP Darno saat dihubungi BenarNews secara terpisah.

Menurut Kapolres, rombongan pegawai Dinkes Poso berjumlah 10 orang menggunakan dua mobil. Mereka dihadang oleh empat orang bersenjata lengkap.

Saat dua orang bersenjata mengambil kunci mobil pegawai Dinkes, anggota MIT lainnya menanyakan KTP para pegawai Dinkes seraya menanyakan apa agama dari masing-masing pegawai Dinkes.

“Setelah itu angota MIT merampok uang, snack dan lain-lain termasuk jam tangan milik salah satu sopir,” papar Kapolres.

“Dari pengakuan saksi yang kami mintai keterangan dalam kolompok MIT itu, ada yang melihat Ali Kalora. Kita bersyukur karena rombongan pegawai Dinkes bisa selamat,” tandas Kapolres.

Operasi Tinombala dimulai pada awal 2016, sebagai perpanjangan dari operasi Camar Maleo pada 2015 dengan tujuan yang sama, menangkap kelompok militan MIT yang ditengarai berada di balik sejumlah tindakan kriminal di wilayah itu, termasuk pemenggalan warga sipil.

Pada April dan Juni, anggota satgas Tinombala diduga melakukan salah tembak terdapat tiga orang dalam dua insiden yang berlangsung terpisah.

Polisi telah menarik 12 anggota Tinombala ke Jakarta untuk diinterogasi sebagai bagian dari penyelidikan tersebut, namun Polri mengatakan bulan lalu bahwa petugas telah bertindak sesuai dengan prosedur.

Polda Sulteng sebelumnya mengatakan 41 anggota Tinombala telah diinterogasi terkait penembakan itu tapi belum ada satu pun yang ditetapkan sebagai tersangka.

Di bawah kepemimpinan Santoso, militan Indonesia yang pertama kali secara terbuka berbaiat dengan ISIS, MIT sempat beranggotakan 40 –an orang, termasuk Muslim Uighur dari Cina.

Santoso tewas dalam baku tembak dengan Satgas operasi Tinombala pertengahan 2016. Sejak saat itu anggota MIT terus diburu.

Walaupun jumlahnya kini tinggal belasan namun kelompok tersebut masih aktif melakukan sejumlah aksi. Sejumlah pembunuhan warga dengan menggorok leher para korban, cara kejam yang kerap dilakukan kelompok ini masih terjadi.

Sebuah video berdurasi singkat memperlihatkan kelompok tersebut membunuh seorang petani, dan ajakan dari Ali Kalora, pemimpin MIT saat ini, untuk memerangi aparat, beredar April lalu

Deradikalisasi fokus pada kesejahteraan

Sementara itu, Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar, yang melakukan kunjungan dinas ke Palu, Senin, mengatakan penanggulangan dan pencegahan radikalisme dan terorisme harus juga berfokus pada pembangunan kesejahteraan.

Menurutnya, dalam peraktiknya program tersebut dijalankan dengan melibatkan berbagai lembaga nasional dan daerah.

“Jadi semua pihak kita libatkan, ada 38 lembaga, kementerian, badan, forum, dan masyarakat. Karena fokus kita saat ini dan kedepan bagaimana program penanggulangan berbasis pada pembangunan kesejahteraan masyarakat," tegas Boy kepada BenarNews.

Dia menjelaskan, langkah pemberdayaan masyarakat akan lebih maksimal dengan menggenjot beberapa sektor, termasuk sektor perkebunan, industri kecil dan menengah, serta sektor-sektor lainnya.

Boy mengatakan anak-anak remaja yang ada di Poso harus terus dilindungi sehingga tidak ikut dalam gerakan kejahatan terorisme.

“Karena meyakinkan mereka (anak-anak remaja) ini juga tentu perlu waktu. Nah, kami memerlukan pelibatan para toko agama, untuk menyelamatkan anak muda kita dari doktrin kelompok MIT,” ujarnya.

Boy menilai, apa yang digencarkan kelompok MIT di Poso adalah bentuk anti kemanusian.

“Karena kita tahu bersama yang sering digunakan kelompok teror dalam propaganda kan seolah-olah berjuang atas nama agama. Padahal kan tidak seperti itu. Nah di Poso, itu yang kita hindari sampai ke anak-anak muda,” ujarnya.

Tampilan selengkapnya