Follow us

Prabowo Tetap Kerja Sama dengan China dan Amerika

Ami Afriatni
Jakarta
2018-11-21
Email
Komentar
Share
Kandidat presiden dan wakil presiden berbincang seusai pengundian nomor urut di gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat di Jakarta, 21 September 2018
Kandidat presiden dan wakil presiden berbincang seusai pengundian nomor urut di gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat di Jakarta, 21 September 2018
Arie Firdaus/BeritaBenar

Calon presiden Prabowo Subianto mengatakan akan tetap menjalin persahabatan dengan China dan Amerika Serikat yang saat ini merupakan dua raksasa ekonomi dunia.

“Saya ingin bersahabat dengan Tiongkok dan Amerika Serikat. Kita harus menghargai kedua negara sebagai kekuatan dunia,” ujarnya dalam sambutan pada acara Indonesia Economic Forum di Jakarta, Rabu, 21 November 2018.

“Kebanyakan kita suka Burger King, kebanyakan kita pakai jeans, kita suka rock and roll, Netflix dan HBO. Ini adalah soft power Amerika Serikat,” kata Prabowo.

“Saya percaya bahwa Amerika merupakan negara adidaya yang baik. Ada kalanya berbuat kesalahan. Semua kekuatan imperial mengalami apa yang dinamakan over-extension.”

“Sementara Cina bisa membawa 99 persen penduduknya berada di atas garis kemiskinan dibandingkan 50 tahun lalu. Hanya satu persen yang masih di bawah garis kemiskinan,” tambah Ketua Umum Partai Gerindra itu

Prabowo juga menyoroti posisi Indonesia yang kurang kompetitif dibandingkan negara-negara ASEAN lain dalam bidang ekonomi.

Menurutnya, sejumlah indikator seperti indeks pembangunan manusia, rasio pendapatan kotor nasional (GNI) dan produk domestik bruto (GDP), akses air bersih, dan rasio pajak menunjukkan angka-angka yang tak memuaskan.

Indeks Pembangunan Manusia (HDI) Indonesia, kata Prabowo, berada pada nomor 113 dari 183 negara di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Sedangkan, rasio GNI dan GDP pada nomor 169 dari 250 negara tahun 2017 lalu dan akses ke air bersih nomor 123 dari 180 negara tahun ini.

Untuk rasio pajak, lanjut Prabowo, Thailand menorehkan angka di atas 80 persen, sementara Malaysia mendekati 80 persen.

Indonesia tercatat hanya 10,3 persen, nomor 112 dari 124 negara di tahun 2016.

“Di bawah Orde Baru, pemerintahan otoriter Soeharto, tax ratio di atas 40 persen,” ujarnya.

“Kita kehilangan lebih dari 60 miliar dolar pajak dengan birokrasi pemerintah yang ada. Kita bisa mencapai 80 persen. Saya sudah banyak berdiskusi dengan pakar. Saya sangat sedih dengan kondisi ini.”

Jika terpilih sebagai presiden dalam pemilu pada April 2019, Prabowo bersama pasangannya Sandiaga Uno berjanji akan mewujudkan swasembada baik di bidang pangan maupun energi.

“Lewat big push strategy, kita ingin memproduksi biocoal, bioethanol, ciobhar, syngas,” katanya.

“Kita harus punya swasembada energi, karena cadangan BBM Indonesia menipis. Saya bisa mengubah ini semua. Yang dibutuhkan adalah pemerintah yang kuat dan berkomitmen tinggi.

Untuk itu, Prabowo menyatakan pemerintahannya apabila dipercaya rakyat terbuka dengan investasi asing.

“Kita memang tidak bisa bergantung dalam hal energi dari negara-negara lain. Kita harus menyediakan sendiri kebutuhan hidup untuk penduduk Indonesia. Namun bahkan untuk mencapai swasembada pangan dan energi, kita butuh ilmu pengetahuan dan teknologi dari luar negeri,” tegasnya.

Kerjasama dengan China telah dilakukan Indonesia sejak lama dan tetap dilanjutkan Presiden Joko “Jokowi” Widodo – yang menjadi petarung Prabowo dalam pemilihan presiden.

Jokowi berpasangan dengan Ma’ruf Amin, Ketua Majelis Ulama Indonesia nonaktif.

Di sela-sela pertemuan tahunan APEC di Port Moresby, Papua Nugini, baru-baru ini, Jokowi sempat menggelar pertemuan bilateral dengan Presiden China, Xi Jinping.

Dalam kesempatan itu Jokowi mengapresiasi perpanjangan kerja sama Bilateral Currency Swap Agreengement (BCSA) antara Bank Indonesia (BI) dan Bank of China.

Dia juga berharap keberlanjutan ekspor kelapa sawit dan produk turunannya, termasuk kerja sama pengembangan biodiesel.

Kedua pemimpin juga membahas mengenai kerjasama di bidang investasi, termasuk untuk mengembangkan industri berbasis teknologi.

Sedangkan dengan pemerintah Amerika Serikat, Indonesia juga menjalin kerja sama dalam berbagai sektor.

Harus lebih bersaing

Mantan Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan mengatakan Indonesia harus mempersiapkan sumber daya manusianya agar lebih bersaing ke depan.

Namun kondisi yang ada saat ini cukup mengkhawatirkan, terutama dalam terobosan teknologi.

“Indonesia punya 700-an universitas, dengan sekitar satu juta mahasiswa yang lulus setiap tahun. Dibandingkan dengan total 4000an perguruan tinggi di ASEAN dan 3000an universitas di Tiongkok, bagaimana kita mau berkarya? Itu baru dari sisi kuantitas, belum bicara kualitas,” ujar Gita yang menjadi pembicara pada Indonesia Economic Forum.

“Kita tak bisa bersaing jika biaya riset hanya delapan dolar per orang per tahun, dibandingkan Singapura yang mencapai dua ribu dolar per orang.”

Namun Gita yakin Indonesia bisa lebih bersaing ke depannya melalui keterbukaan pemikiran, percaya diri yang tinggi, keuletan dan tentunya keberuntungan.

Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia, Lana Soelistianingsih mengatakan semua negara memang sebaiknya harus menjaga hubungan dengan China dan Amerika Serikat karena kedua negara itu diakui tengah merajai ekonomi dunia.

"Kalau kita lihat penguasaannya terhadap perdagangan (internasional) kan memang Cina yang menguasai,” katanya kepada BeritaBenar.

“Kalau kita bicara PDB, 30 persen PDB dunia itu berasal dari Amerika. Jadi ya memang kita tidak bisa abaikan.

“Siapapun yang menjadi presiden, saya yakin akan menjaga hubungan baik dengan Tiongkok dan Amerika, termasuk Pak Prabowo seandainya dia terpilih. Saya yakin itu juga pasti yang akan dilakukan Pak Jokowi."

Meski demikian, di tengah perang dagang Tiongkok dan AS, Lana mengatakan Indonesia justru harus mendekati keduanya supaya mendapat sisi positifnya.

"Misalkan Tiongok tidak mengimpor kedelai dari Amerika, ini peluang bagi Indonesia. Kalau Indonesia bisa masuk, ini mungkin bisa dimanfaatkan," ujar Lana.

"Jadi memang kita harus kreatif memanfaatkan peluang. Di tengah mereka sedang berseteru, kita ambil manfaatnya dari kedua negara."

Tampilan selengkapnya