Pasca Teror Mabes, Presiden Imbau Masyarakat Tenang, Aparat Tingkatkan Kewaspadaan

Polda Metro Jaya kerahkan 5.590 personel untuk amankan perayaan Trihari Suci Paskah di 833 gereja di Jakarta.
Tia Asmara
Jakarta
2021-04-01
Share
Pasca Teror Mabes, Presiden Imbau Masyarakat Tenang, Aparat Tingkatkan Kewaspadaan Petugas polisi meningkatkan kesiagaan di katedral di Makassar, Sulawesi Selatan, selama perayaan Trihari Suci Paskah, pada 1 April 2021, setelah terjadi bom bunuh diri di tempat tersebut beberapa hari sebelumnya.
AFP

Presiden Joko Widodo pada Kamis (1/4) mengimbau masyarakat Indonesia tetap tenang dan bersatu melawan terorisme serta mengimbau aparat keamanan untuk meningkatkan kewaspadaan pasca ancaman teror oleh seorang perempuan terduga simpatisan ISIS di Mabes Polri sehari sebelumnya dan aksi bom bunuh diri sebuah gereja Makassar hari Minggu lalu.

Pada hari Rabu seorang perempuan yang kemudian diidentifikasi Zakiah Aini (25) tewas ditembak polisi setelah mengacungkan pistol air gun ke sejumlah petugas di Mabes Polri.

Dalam video yang beredar di internet tidak terlihat jelas apakah Zakiah, yang diketahui menjunjung ideologi ISIS dari unggahan di media sosialnya itu, melakukan tembakan. Namun demikian dalam statemennya, polisi mengatakan perempuan yang meninggalkan surat wasist kepada keluarganya itu, melepaskan enam kali tembakan.

“Terkait kejadian terror di Mabes Polri yang terjadi kemarin, saya meminta kepada seluruh masyarakat di seluruh pelosok tanah air agar tetap tenang, waspada serta senantiasa menjaga persatuan,” ujar Jokowi saat meresmikan jalan tol di Tangerang Selatan.

Terkait aksi terorisme ini, Kepala Negara juga telah memerintahkan segenap jajaran terkait untuk meningkatkan kewaspadaan terutama menjelang hari raya Paskah dan Ramadan bulan ini.

“Saya juga telah memerintahkan kepada Kapolri, Panglima TNI, dan Kepala BIN untuk meningkatkan kewaspadaan,” tandasnya.

Ia menegaskan bahwa tidak ada tempat bagi terorisme di Indonesia.

"Kita semua harus bersatu melawan terorisme," imbuh Jokowi.

Sebelumnya, pada 28 Maret lalu bertepatan dengan kaum Nasrani merayakan hari Minggu Palem, terjadi bom bunuh diri di depan gereja Katedral di Makassar, menewaskan dua orang pelaku yang merupakan pasangan suami-istri dan melukai 20 orang.

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Rusdi Hartono mengatakan polisi akan memperketat penjagaan menjelang ibadah Paskah Minggu nanti.

“Melihat situasi kekinian kasus Makassar, Mabes Polri telah memberikan arahan untuk lebih waspadai lagi akibat aksi teror khususnya pengamanan Paskah. Aparat Kepolisian dan TNI akan bahu membahu,” ujarnya kepada wartawan.

“Pengamanan dari gereja sebelum kegiatan, pasti akan lakukan strelisasi, pintu masuk gereja diamankan petugas gereja, pemeriksaan terhadap barang yang dibawa dan itu akan dilakukan. Kami upayakan agar bagaimana kegiatan berjalan damai dan berjalan hikmat,” jelasnya.

Rusdi mengatakan tindakan tegas harus dilakukan Polri kepada Zakiah karena dia membawa senjata api. “Dalam situasi sekarang ini ketika melakukan penyerangan dan dilihat menggunakan senjata mematikan maka akan dilakukan pelumpuhan seperti itu,” ujarnya.

Polisi menduga kuat pelaku tersebut merupakan penyerang tunggal (lone wolf) dan memiliki ideologi ISIS dengan ajaran yang dipelajarinya sendiri melalui media sosial dan internet.

Rusdi mengatakan Zakiah lolos dari pemeriksaan petugas di pintu belakang ketika memasuki area Mabes Polri. Ia mengatakan akan melakukan investigasi terkait hal itu.

“Pemeriksaan sudah sesuai standar pemeriksaan di kantor kepolisian dan Mabes Polri, namun jika kurang kami akan lakukan perbaikan ke depannya,” ujarnya.

Polda Metro Jaya mengerahkan 5.590 personel untuk mengamankan perayaan Trihari Suci Paskah di DKI Jakarta. Ribuan personel polisi itu akan disebar untuk mengamankan Paskah di 833 gereja.

Air gun  

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono memastikan bahwa jenis senjata yang digunakan Zakiah di Mabes Polri, merupakan jenis air gun berkaliber 4,5 MM.

Hal itu dipastikan setelah melakukan pendalaman dan pengecekan dari uji labfor atas sejumlah barang bukti yang ditemukan dari jasad pelaku teror tersebut.

"Dari hasil pengamatan gambar senjata yang dipergunakan pelaku jenis pistol air gun BB bullet call 4,5mm," kata Argo dalam keterangan resminya.

Di sisi lain, Argo menyatakan bahwa, aparat kepolisian sampai saat ini masih terus melakukan penyelidikan soal asal-usul senjata tersebut bisa didapatkan oleh pelaku.

Beda dari airsoft gun yang menggunakan peluru dari plastik yang lebih ringan, air gun lebih memiliki kekuatan dan lebih berbahaya.

Rusdi mengatakan hingga saat ini Densus 88 terus melakukan pengembangan dengan mengamankan total 18 orang yang diduga terlibat dalam kasus gereja katedral di Makassar, Sulawesi Selatan.

Salah satu otak pengeboman yang bertugas membuat bom dengan inisial W sudah ditangkap.

“Semua yang ditangkap merupakan bagian dari jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang mengikuti kajian “Villa Mutiara,” ujarnya, merujuk pada kompleks perumahan di Makassar.

Pada Rabu, Densus 88 menangkap tiga orang di Perumahan Sanggar Indah, Kampung Nagrak, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung.

“Masih didalami oleh Densus 88, akan disampaikan lebih lanjut,” ujar Rusdi.

Milenial

Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengatakan generasi milenial merupakan paling rentan terpapar radikalisme karena mudah mengakses internet dan media sosial.

“Kaum milenial itu dirasakan paling efektif, kalau orang tua mereka akan mikir, kalau anak muda langsung ditelan, langsung dipercaya dan dilakukan ajaran itu,” ujarnya.

Generasi milenial adalah orang yang lahir tahun 1980-1994.

Dalam keterangan pers, Rusdi Hartono juga mengakui, kalau sebagian besar dari kelompok Villa Mutiara yang terlibat dalam bom Makassar merupakan kaum milenial.

Ketua DPR RI Puan Maharani menyatakan keprihatinannya atas terjadinya serangan terror baru-baru ini apalagi dilakukan oleh seorang yang masih muda dan pengantin baru.

“Ada pelaku teror dari kalangan muda, generasi milenial, dan keluarga, ini sangat mengkhawatirkan dan menyedihkan,” kata Puan.

Puan menuturkan, untuk mencegah peristiwa serupa terulang, maka pemerintah harus menyiapkan dan melaksanakan langkah konkret pencegahannya, termasuk pentingnya menguatkan ketahanan keluarga dan interaksi sosial di masyarakat untuk mencegah menyebarnya paham radikal.

“Interaksi keluarga dan interaksi sosial warga dengan tetangga harus diperkuat dalam konsep ketahanan sosial masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya edukasi mengenai keberagaman bangsa Indonesia.

“Harus ada peningkatan edukasi kepada generasi muda terkait materi moderasi, toleransi, dan inklusifitas,” ucapnya.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya