Follow us

Hasil Hitung Cepat: Jokowi Ungguli Prabowo

Kubu Prabowo mengklaim hasil sebaliknya, menyatakan kemenangan berdasarkan exit poll dan quick count mereka.
Arie Firdaus & Keisyah Aprilia
Jakarta
2019-04-17
Email
Komentar
Share
Pasangan Joko “Jokowi” Widodo - Ma’ruf Amin didampingi sejumlah tokoh partai politik yang mendukung keduanya hadir dalam konferensi pers di Djakarta Theater di ibukota negara setelah hasil perhitungan cepat Pemilihan Presiden 2019 dirilis yang memperlihatkan keunggulan kubu 01 tersebut terhadap penantangnya, pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, 17 April 2019.
Pasangan Joko “Jokowi” Widodo - Ma’ruf Amin didampingi sejumlah tokoh partai politik yang mendukung keduanya hadir dalam konferensi pers di Djakarta Theater di ibukota negara setelah hasil perhitungan cepat Pemilihan Presiden 2019 dirilis yang memperlihatkan keunggulan kubu 01 tersebut terhadap penantangnya, pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, 17 April 2019.
Keisyah Aprilia/BeritaBenar

Diperbarui pada 17 April 2019, 22:00 WIB

Hitung cepat yang dilakukan sejumlah lembaga survei mengunggulkan pasangan Joko "Jokowi" Widodo-Ma'ruf Amin dalam pemilihan presiden (Pilpres) 2019 yang digelar, Rabu, 17 April 2019.

Calon presiden petahana itu disebut unggul suara 8-10 persen dari penantang Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno.

Dalam hitung cepat Litbang Kompas hingga pukul 19.40 WIB, misalnya, Jokowi-Ma'ruf Amin mendapatkan 54,38 persen suara berbanding 45,62 persen milik Prabowo-Sandiaga.

Dari 86,10 persen sampel yang sudah masuk, suara sah mencapai 79,79 persen, tidak sah 1,87 persen dan suara tidak digunakan sebesar 18,35 persen.

Survei Litbang Kompas mengambil 2.000 sampel Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang tersebar di seluruh daerah Indonesia dengan margin of error di bawah 1 persen.

Tak berbeda jauh hasil perhitungan cepat Charta Politika yang menempatkan Jokowi di 54,44 persen berbanding 45,56 persen dan CSIS-Cyrus yang mengunggulkan Jokowi-Ma'ruf di angka 55,8 berbanding 44,2 persen.

Adapula hitung cepat Saiful Mujani Research Center (SMRC) yang menghitung suara Jokowi-Ma'ruf di kisaran 54,91 persen berbanding 45,09 persen; Indobarometer yang menghitung suara pasangan nomor urut 01 itu di kisaran 53,57 persen berbanding 46,43; serta Poltracking yang menempatkan Jokowi di 55,02 persen berbanding 44,98 persen milik Prabowo.

Kendati disebut unggul dalam perhitungan cepat berbagai lembaga survei, Jokowi dalam keterangan kepada wartawan di Djakarta Theatre terlihat enggan jemawa dan meminta pendukungnya untuk bersabar, menunggu hasil perhitungan resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat yang dilakukan 25 April-22 Mei 2019.

"Dari indikasi exit poll dan quick count tadi, kita sudah melihat semuanya. Tapi kita harus bersabar menunggu perhitungan KPU secara resmi," kata Jokowi, Rabu sore.

Ia pun berharap masyarakat Indonesia kembali merawat persatuan setelah terpolarisasi sepanjang tujuh bulan masa kampanye.

"Mari menjalin dan merawat persatuan kerukunan kita dan persaudaraan kita sebagai saudara sebangsa dan se-Tanah Air," lanjut Jokowi, yang didampingi Ma'ruf Amin dan para petinggi partai koalisi.

Namun demikian, sebuah rilis dari Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf yang diterima BeritaBenar pada Rabu malam, memperlihatkan keyakinan kubu 01 akan kemenangan mereka dalam Pilpres 2019.

"Dari hasil perhitungan cepat yang dilakukan lembaga survei-survei yang kredibel, tampak bahwa saya dan KH Ma'ruf Amin masih dipercaya oleh rakyat Indonesia untuk menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2019 – 2024," kata Jokowi  dalam rilis tersebut, “melihat hasil itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada rakyat Indonesia yang telah memberi doa dan restu.

Petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara menghitung surat suara pasangan calon presiden dan wakil presiden di TPS 5 Desa Ie Masen Kayee Adang, Banda Aceh, 17 April 2019. (Nurdin Hasan/BeritaBenar)
Petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara menghitung surat suara pasangan calon presiden dan wakil presiden di TPS 5 Desa Ie Masen Kayee Adang, Banda Aceh, 17 April 2019. (Nurdin Hasan/BeritaBenar)

Prabowo klaim kemenangan

Berbeda dengan Jokowi yang terkesan malu-malu mengumumkan kemenangannya, Prabowo dalam keterangannya di kediamannya di Kertanegara, Jakarta Selatan, justru mengklaim kemenangan dalam Pilpres 2019, serta balik mencurigai hasil perhitungan cepat yang dirilis sejumlah lembaga.

Hal serupa sebelumnya pernah dilakukan Prabowo usai Pilpres lima tahun silam, dengan menggemakan kemenangan kendati hasil hitung cepat lembaga survei menyatakan sebaliknya.

"Saya tegaskan di sini, kepada rakyat Indonesia, bahwa ada upaya dari lembaga-lembaga survei tertentu yang kita ketahui memang sudah bekerja untuk satu pihak, untuk menggiring opini seolah kita kalah," kata Prabowo yang disambut sorakan pendukung, "Prabowo presiden".

"Sedangkan exit poll di 5.000 TPS (tempat pemungutan suara), kita menang 55,4 persen. Quick count kita menang 52,2 persen."

Setelahnya, pada hari yang sama, Prabowo bahkan mengklaim kemenangan dengan presentase yang lebih besar

"Berdasarkan hasil real count kita sudah menang 62 persen," kata Prabowo di kediamannya.

Menurutnya, hasil itu berdasarkan dari suara yang diambil dari 320.000 TPS, atau 40 persen dari jumlah TPS yang ada.

Pada saat itu ia kembali menegaskan para pendukungnya untuk mengawal suara di TPS, untuk menghindari apa yang disebutnya sebagai intervensi sejumlah pihak untuk memenangkan Jokowi.

Hitung cepat partai

Terkait pernyataan Prabowo, anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Ahmad Riza Patria menilainya sebagai perihal wajar, tanpa bermaksud merendahkan kredibilitas lembaga survei.

"Kami menghargai karena mereka mempunyai metodologi. Tapi kita harus jujur, memang ada lembaga survei yang bekerja untuk kepentingan pemenangan," ujar Ahmad Riza, tanpa memerinci lembaga dimaksud.

Adapun Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Hasto Kritiyanto meminta kubu Prabowo tak mengklaim kemenangan dalam waktu cepat lantaran hasil resmi belum diumumkan KPU.

"Tapi soal klaim sepihak itu, kami tidak khawatir karena 2014 pun dulu juga terjadi. Bahkan sampai ada lembaga survei yang mendapatkan sanksi karena ketidakmampuan mempertanggungjawabkan metodologi mereka," katanya.

Sementara itu, hasil tidak resmi penghitungan cepat pemilu legislatif menunjukkan sembilan partai yang melewati ambang batas 4 persen suara yang diperlukan untuk mendapatkan kursi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Tiga partai teratas adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), pengusung Jokowi dengan 20,31 persen suara; disusul oleh Gerindra, partai pimpinan Prabowo (12,91 persen); dan partai Golkar, dengan 11,79 persen, menurut hasil jajak pendapat Litbang Kompas.

Partai Kebangkitan Nasional (PKB) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), menduduki tempat ke-4 dan ke-5 dengan masing-masing 9,32 persen dan 8,62 persen suara.

Partai-partai lain yang diproyeksikan memenangkan kursi di DPR termasuk Partai Demokrat (8,18 persen); Nasdem (7,99 persen); Partai Amanat Nasional (PAN) (6,52 persen); dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) berbasis agama (4,52 persen).

Penghitungan cepat telah terbukti akurat dalam memprediksi pemenang sejumlah pemilihan sebelunya di Indonesia, seperi Pilpres 2014 dan pemilihan kepala daerah (Pilkada).

Partisipasi pemilih

Selain memilih presiden dan wakil presiden, Pemilu yang dinilai sejumlah pihak sebagai paling rumit di dunia juga mencoblos anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) provinsi serta kabupaten/ kota.

Wakil Presiden M Jusuf Kalla partisipasi pemilih cukup tinggi yang ditandai antusiasme masyarakat di seluruh Indonesia mendatangi TPS-TPS dan rela antri untuk memberikan hak politiknya.

“Negara demokrasi yang memperoleh partisipasi pemilih tinggi, sangat baik,” katanya kepada wartawan.

Salah satu tingginya partisipasi masyarakat, menurutnya, masa kampanye yang lama sehingga “mereka puas dengan penyampaian visi dan misi calon yang ingin dipilih.”

Sedangkan, Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mengucapkan terima kasih kepada rakyat Indonesia, karena sudah ikut memajukan negara dengan cara menggunakan hak pilih.

“Suara yang diberikan tidak akan sia-sia. Perjalanan bangsa Indonesia, lima tahun ke depan ditentukan dari hasil Pemilu hari ini," katanya.

Tia Asmara dan Ahmad Syamsudin di Jakarta turut berkontribusi dalam laporan ini.

Hasil tidak resmi dari perhitungan cepat untuk partai politik dijelaskan dengan lebih rinci dalam versi yang diperbarui ini.

Tampilan selengkapnya