Follow us

Rencanakan Serangan, 4 Terduga Teroris Ditangkap

Sejak serangan teror di Surabaya pada 13 dan 14 Mei lalu, Polri telah menangkap lebih dari 110 terduga teroris.
Rina Chadijah
Jakarta
2018-06-20
Email
Komentar
Share
Polisi berjalan di lingkungan rumah milik pelaku pembom bunuh diri di Polrestabes Surabaya, 15 Mei 2018. (AP)
Polisi berjalan di lingkungan rumah milik pelaku pembom bunuh diri di Polrestabes Surabaya, 15 Mei 2018. (AP)
AP

Tim Densus 88 Markas Besar Kepolisian (Polri) kembali menciduk empat terduga teroris di kawasan Cimahi, Jawa Barat, dan di Kebumen, Jawa Tengah. Mereka disebut hendak merencanakan serangan teror di Markas Kepolisian Resort (Mapolres) Kebumen.

Kepala Bagian Penerangan Umum Polri, Kombes Pol. Syahar Diantoro, mengatakan Rabu, 20 Mei 2018, bahwa para terduga teroris tersebut ditangkap di lokasi terpisah sehari sebelumnya.

Mereka yang ditangkap di Cimahi adalah Muhammad Nizar, (18),  Rusdi (33), dan Fajar (27).  Sementara yang ditangkap  di Kebumen, bernama Fatoni Alias Mughomisy Bin Karaidik (26).

"Mereka akan melakukan aksi amaliyah (teror) ke Polres Kebumen," kata Syahar kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta.

Dia menambahkan komunikasi keempat terduga teroris itu untuk merancang serangan ke Mapolres Kebumen dilakukan mereka lewat aplikasi Telegram.

"Mereka selama ini berkomunikasi melalui Telegram. Walau ditangkap di Jawa Barat, mereka berasal dari daerah lain seperti Riau dan Makassar," jelas Syahar.

Densus 88 juga menyita sejumlah barang bukti, seperti dompet, HP, KTP dan beberapa barang pribadi milik terduga teroris. Saat ini, polisi masih memeriksa mereka.

"Mereka termasuk dalam jaringan ISIS. Itu berdasarkan hasil pemeriksaan sementara. Kita masih terus cari apakah mereka terkait juga dengan JAD " ujarnya, merujuk pada kelompok Jamaah Ansharut Daulah.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen. Pol. M. Iqbal menyebutkan, penangkapan terduga teroris di Cimahi dan Kebumen merupakan bagian dari operasi pemburuan jaringan teror yang ada.

“Tentu itu merupakan bagian dari pengembangan-pengembangan yang kita lakukan untuk mencegah terjadinya aksi teror di seluruh daerah,” katanya kepada BeritaBenar.

Menurut Iqbal, setelah serangan teror di Surabaya dan Mapolda Riau pada pertengahan Mei lalu, Densus 88 terus melakukan operasi perburuan terhadap kelompok teroris.

Upaya pemantauan juga dilakukan lewat berbagai metode, termasuk mengawasi media sosial.

“Selain informasi yang kita dapat dari terduga teroris yang ditangkap, kita juga mengawasi pergerakan mereka di media sosial,” imbuhnya.

Seratus lebih

Iqbal menambahkan bahwa pasca serangan teror di Surabaya pada 13 dan 14 Mei lalu, Polri telah menangkap lebih dari 110 terduga teroris, termasuk 14 di antaranya tewas ditembak karena melawan petugas saat hendak ditangkap.

Namun, Iqbal belum mau merinci berapa jumlah terduga teroris yang telah ditetapkan sebagai tersangka.

“Nanti data lengkapnya siapa saja tersangka dan beberapa yang tidak terbukti akan kita umumkan, kita selalu terbuka,” katanya.

Sebelumnya, pada Kamis pekan lalu, Densus 88 juga menangkap lima terduga teroris  di Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Kelimanya dinilai punya kaitan dengan JAD Blitar dan aksi teror di Surabaya.

Lima orang yang ditangkap itu berinisial AR, MSZ, NH, HW dan K. Dalam penangkapan tersebut polisi menyita sepucuk senjata api jenis FN, delapan peluru kaliber 9 milimeter dan beberapa buku tentang jihad.

Menurut Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Pol. Frans Barung Mangera, pemilik senjata itu adalah AR alias Abu Umar.

Berdasarkan hasil interogasi, mereka merencanakan aksi perampokan di beberapa bank di Blitar serta serangan ke Polsek Bajang Talun dan Polres Blitar.

"Senjata jenis FN akan digunakan untuk rencana aksi teror. Bersama dengan tersangka lain rencana melakukan aksi amaliyah dengan sasaran bank di Blitar," kata Frans seperti dilansir Detik.com.

Kamis malam pekan lalu, Densus juga menangkap seorang bekas narapidana terorisme, Jakim Bin Jayar alias Zaim alias Saiful Mubaroq, di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

“Yang bersangkutan bebas awal tahun 2016 dan termasuk jaringan JAD. Penangkapan dia adalah pengembangan dari penangkapan di Blitar,” kata sumber polisi.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan terduga teroris yang ditangkap di Blitar juga terkait jaringan pelaku teror di Surabaya.

"Ini semua terkait yang di Surabaya. Sampai hari ini yang sudah ditangkap 104 tambah enam berarti 110," kata Tito kepada wartawan di Istana Bogor, Jumat pekan lalu.

Persempit gerak

Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia, Ridlwan Habib mengatakan, upaya Polri memburu jaringan teror makin masif dalam dua bulan terakhir sehingga mempersempit ruang gerak mereka.

“Tentu sangat efektif dan juga bagian dari menyebar ketakutan bagi kelompok teroris bahwa polisi tahu aktivitas dan persembunyian mereka,” katanya kepada BeritaBenar.

Ia menilai pencegahan dengan ikut mengawasi media sosial dan masuk ke aplikasi-aplikasi yang kerap digunakan kelompok teroris sangat efektif untuk menditeksi sejak dini rencana teror.

“Kewenangan Polri dalam melakukan pencegahan sekarang sudah diperluas. Jadi hal itu harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mencegah serangan,” tuturnya.

Al Chaidar, peneliti terorisme dari Universitas Malikussaleh Lhokseumawe Aceh mengatakan, Polri harus terus melakukan upaya pencegahan teror, mengingat seruan-seruan jihad dari ISIS dan JAD masih terus dilakukan.

“Jadi harus diantisipasi betul, terutama di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sel-sel JAD di situ cukup aktif, dan mereka bisa bergerak kapan pun,” ujarnya.

Tampilan selengkapnya