Follow us

Pemerintah Antisipasi Kembalinya Pejuang ISIS dan Keluarga Mereka

Mahfud MD mengatakan setidaknya 600 simpatisan ISIS asal Indonesia ada di sejumlah negara.
Rina Chadijah
Jakarta
2020-01-10
Email
Komentar
Share
Perempuan asal Indonesia yang awalnya ingin bergabung dengan kelompok Negara Islam (ISIS) tiba di kamp pengungsi Ain Issa, sekitar 50 km di utara Raqqa, Suriah, setelah berhasil melarikan diri dari cengkeraman kelompok ektrim tersebut, 13 Juni 2017.
Perempuan asal Indonesia yang awalnya ingin bergabung dengan kelompok Negara Islam (ISIS) tiba di kamp pengungsi Ain Issa, sekitar 50 km di utara Raqqa, Suriah, setelah berhasil melarikan diri dari cengkeraman kelompok ektrim tersebut, 13 Juni 2017.
AFP

Pemerintah mengantisipasi namun belum memutuskan untuk memulangkan sekitar 30 teroris lintas batas (Foreign Terrorist Fighters) asal Indonesia dan lebih dari 150 anggota keluarga mereka yang mendekam di kamp-kamp di Suriah setelah jatuhnya Negara Islam (ISIS), demikian Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD, Jumat (10/1/2020).

Mahfud MD menyebut saat ini terdapat lebih dari 600 warga negara Indonesia (WNI) yang terkait SIS berada di sejumlah negara.

“WNI yang diduga terlibat terorisme lintas batas (FTF) yang saya maksud sekitar 600-an, bukan 6000-an. Pencarian yang lain dan dukungan dokumen masih terus dilakukan,” tulisnya di twitter mengoreksi jumlah sebelumnya yang sempat ia sebutkan yaitu 6000 orang.

"(Mereka berada) di berbagai negara dan itu kan harus dibicarakan bagaimana pemulangannya. Kalau dipulangkan berbahaya atau enggak, dan sebagainya," ujarnya di depan para wartawan setelah bertemu dengan Direktur Jenderal Penanggulangan Terorisme Jepang, Shigenobu Fukumoto, di Jakarta.

Mahfud mengatakan pemerintah berjanji bekerja keras untuk memulangkan mereka. Namun bagi mereka yang terlibat pelanggaran hukum di negara tersebut, harus mendapatkan hukuman sesuai dengan aturan yang berlaku di negara tersebut.

“Dari Suriah saja kita punya 187 (orang WNI),” kata Mahfud, menambahkan hanya 31 adalah laki-laki sedangkan yang lainnya adalah perempuan dan anak-anak.

“Dan anak-anak itu matanya sudah tajam-tajam, seperti mau membunuh saja begitu," ujarnya.

"Kalau yang jelas terlibat teroris itu akan diadili di Suriah. Kalau itu silakan karena negara tak bisa mengintervensi hukum di negara lain. Bagi yang bukan nanti dipulangkan ke sini. Kalau dipulangkan ke sini, nanti jadi persoalan atau tidak,karena perginya saja tidak pamit," paparnya.

Pada Maret 2019, Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin kelompok Kurdi menyatakan telah merebut benteng terakhir ISIS, yang pernah menguasai wilayah Irak dan Suriah. Kemenangan SDF mendatangkan serangkaian kekhawatiran, tentang penanganan atas para anggota FTF yang ditangkap serta istri dan anak-anak mereka.

Pemerintah sebelumnya mengatakan akan berusaha memulangkan mereka ke Indonesia untuk menghadapi tuntutan pidana atau menjalani rehabilitasi sambil menangani risiko keamanan karena sebagian besar perempuan dan anak-anak itu bukan pejuang ISIS.

Jumlah yang disampaikan Mahfud itu lebih kecil dari laporan unit polisi anti-terorisme Densus 88 pada November 2019. Densus kala itu mengklaim ada 1.500 pejuang ISIS dan keluarga mereka dari Indonesia, termasuk 700 yang mendekam di tiga kamp Suriah, mengutip data dari otoritas perbatasan di wilayah itu.

Institut Analisis Kebijakan Konflik (IPAC) yang berbasis di Jakarta melaporkan pada bulan Agustus 2019 bahwa Indonesia harus mulai memulangkan warganya yang paling rentan yang bergabung dengan ISIS dan tidak membiarkan mereka tetap di kamp-kamp di mana mereka diintimidasi oleh para pendukung kelompok ekstremis.

Sejak tahun 2015, pemerintah Indonesia telah mendeteksi gelombang migrasi warga negara Indonesia yang hendak berjihad ke Suriah,bergabung ISIS. Para jihadis juga ikut membawa istri, anak dan keluarga mereka.

Tidak hanya untuk berjihad, sejumlah WNI yang sebelumnya telah dipulangkan pemerintah, mengaku tergiur berangkat ke Suriah karena dijanjikan hidup lebih baik. Nyatanya setelah tiba di sana, mereka diminta bekerja untuk melayani para militan ISIS. Sebagian perempuan dipaksa untuk menikah dengan para kombatan.

Simpatisan ISIS

Pada 2017, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melaporkan bahwa setidaknya 1.321 orang Indonesia telah bergabung dengan ISIS atau mencoba bergabung. Dari jumlah itu, 84 tewas, 482 dideportasi ketika mencoba memasuki Suriah, dan 62 telah kembali dari Suriah. Sebanyak 63 lainnya dihentikan di bandara Indonesia ketika mencoba melakukan perjalanan ke Timur Tengah.

Setahun kemudian, Menteri Pertahanan Indonesia saat itu, Ryamizard Ryacudu, mengutip data intelijen pemerintah, mengatakan dalam sebuah forum keamanan di Singapura bahwa sekitar 400 dari 31.500 pejuang asing yang telah bergabung dengan ISIS di Suriah berasal dari Indonesia.

Pada hari Jumat setelah pertemuannya Fukumoto, Mahfud mengatakan Indonesia ingin bekerjasama dengan Jepang dalam penangggulangan terorisme.

“Tindak lanjut dari pertemuan ini akan diadakan semacam forum bersama yang rutin membahas tentang terorisme serta pengamanan kawasan,” katanya.

"Jepang juga kan khawatir dengan terorisme, karena terorisme lebih canggih kan. Pertama melibatkan perempuan dan anak-anak, yang kedua transfer uangnya tuh sudah melalui ini HP kayak gini smartphone, jadi sudah digital transaksinya," ujarnya.

Tampilan selengkapnya