Rohingya di Aceh: Makan, Tidur dan Shalat

Nurdin Hasan
Banda Aceh
2016-04-29
Share
160429_ID_Rohingya_1000.jpg Sanuar Begum (kanan) sedang makan bersama suami Abdul Roshid (dua dari kiri) dan keluarganya di kamp Bayeun, Kabupaten Aceh Timur, 23 April 2016
Nurdin Hasan/BeritaBenar

Sanuar Begum (20) memilih bertahan di kamp penampungan yang dikelilingi pohon sawit, meskipun kedua kakaknya, Emiya Hatu (27) dan Kusuma Hatu (23) sudah pergi ke Malaysia.

Perempuan pemalu itu tak mungkin ikut bersama mereka karena ketika mereka meninggalkan kamp Bayeun di Kabupaten Aceh Timur, lima bulan lalu, ia sedang hamil tua dan hanya tinggal menunggu hari melahirkan.

“Suami saya juga tak setuju pergi ke Malaysia. Dia bilang lebih baik di sini karena orang Aceh baik,” katanya kepada BeritaBenar, Sabtu, 23 April 2016.

Sanuar ialah seorang dari 1.000 lebih pengungsi Muslim Rohingya yang diselamatkan nelayan Aceh, Mei tahun lalu. Jumlah mereka kini hanya tersisa sekitar 250 yang ditampung di empat lokasi. Sebagian besar sudah kabur ke Malaysia.

Beberapa hari setelah kedua kakaknya pergi melalui jasa calo yang datang ke lokasi pengungsian itu, Sanuar melahirkan. Bayi yang diberi nama Muhammad Nasrullah terlihat cukup sehat.

Menurut penuturan beberapa pengungsi, mereka yang kabur ke Malaysia membayar agen 1.500 ringgit. Uang itu dikirim suami, orangtua atau keluarga mereka yang ada di Malaysia.

Pengungsi Rohingya di Bayeun adalah penumpang “Boat Hijau” yang sempat ditolak oleh tiga negara – Thailand, Malaysia, dan Indonesia dan mendapat perhatian besar aktivis kemanusiaan dan media. Akhirnya mereka diselamatkan nelayan Aceh pada 20 Mei 2015.

Saat diselamatkan, jumlah mereka 434 orang – termasuk puluhan pencari kerja asal Bangladesh. Kini Rohingya di kamp Bayeun hanya tersisa 100-an orang. Sebanyak 800 lebih warga Bangladesh yang terdampar bersama Rohingya di Aceh, dalam tiga gelombang sudah dipulangkan ke negaranya.

Pengungsi yang telah menikah tinggal di gedung bekas kantor perusahaan pabrik kertas. Sedangkan, pemuda dan pria tak beristri menempati barak yang dibangun Organisasi Internasional untuk Migran (IOM) atas bantuan Jepang, Amerika dan Uni Eropa. Tiap barak dihuni lima hingga tujuh orang.

Sebagian besar Rohingya, terutama anak-anak, telah lancar bicara bahasa Indonesia. Sebagian mereka ada yang telah menikah sesama mereka. Belasan bayi sudah lahir di Aceh. Beberapa perempuan sedang hamil.

‘Makan, tidur dan shalat’

Belasan pengungsi yang diwawancara BeritaBenar mengaku ingin mendapatkan uang untuk dikirim kepada keluarganya di Myanmar. Tapi mereka dilarang bekerja. Saat ditanya apa yang dilakukan selama hampir setahun di Aceh, spontan mereka menjawab, “Di sini, kami cuma makan tidur, makan tidur dan shalat.”

Jamal (37) dan istrinya Sajdah Khatu (35) mengaku tak ingin pergi ke Malaysia karena tinggal di Aceh lebih enak. Dia juga tidak ingin pulang lagi ke Myanmar. Di Malaysia, menurut pengakuan beberapa yang sudah bekerja hanya dibayar 50 ringgit sebulan, katanya.

“Saya ingin bisa tetap tinggal di Aceh. Kalau tidak boleh, saya ingin pergi ke Australia atau Amerika seperti yang dibilang IOM sehingga saya bersama istri dan kelima anak kami bisa hidup tenang,” kata Jamal.

Dia mengaku harus menyelamatkan keluarganya dari Kota Sittwe di Arakan karena khawatir akan diusir milisi Budha. Apalagi setelah kerusuhan tahun 2012, para milisi terus mencari-cari kesalahan minoritas Muslim, katanya.

“Saya dulu juru masak di hotel. Ketika rusuh, saya dipukul. Setelah itu saya tak boleh bekerja lagi,” ungkapnya.

Di antara penghuni barak, Jamal terlihat perlente. Bajunya rapi dimasukkan ke celana dan memakai sepatu bantuan orang. Ia bagaikan juragan di antara teman-temannya.

“Saya harus hemat. Saya beli barang-barang mereka yang dikasih IOM dan saya jual ke pasar. Saya punya tanggung jawab lima anak dan istri,” tuturnya.

Tiga pengungsi Rohingya sedang belajar Bahasa Inggris di barak kamp penampungan Bayeun, Kabupaten Aceh Timur, 27 Maret 2016. (Nurdin Hasan/BeritaBenar)

Pelatihan

Untuk menghilangkan kejenuhan, sebagian pengungsi menanam sayuran dan memelihara ayam. Beberapa dari mereka juga tampak serius belajar bahasa Inggris dan bahasa Arab.

“Hasil panen dari kebun, kita beli untuk kemudian digunakan buat makanan mereka sehingga ada sedikit uang. Kalau panennya banyak kita bantu menjualnya ke pasar,” ujar Usman A. Rahman, pejabat pemerintah Aceh Timur yang bertanggung jawab di kamp Bayeun.

Menurut dia, pemerintah lokal bekerjasama dengan Badan PBB Urusan Pengungsi (UNHCR) dan IOM mengupayakan berbagai ketrampilan bagi pengungsi. Pelatihan perbengkelan diberikan kepada keum lelaki, sedangkan perempuan diajarkan cara menjahit.

“Kita harap kalau nanti mereka dipindahkan ke negara ketiga, sudah ada ketrampilan sehingga mudah dapat pekerjaan,” katanya, sambil menambahkan bahwa keputusan status pengungsi ditentukan Pemerintah Pusat sehingga mereka tak bisa bekerja.

Beberapa pengungsi yang hendak melarikan diri ke Malaysia tertangkap di Sumatera Utara. Setelah ditahan beberapa hari oleh petugas Imigrasi, mereka dikembalikan ke kamp penampungan di Aceh.

Salah satunya, Asia Hatu (23) dan putranya Muhammad Harun (6). Mereka ditangkap petugas Imigrasi di Pelabuhan Tanjung Balai, Sumatera Utara, saat hendak naik boat yang akan membawanya ke Malaysia secara ilegal.

“Saya dulu ingin pergi karena suami ada di Malaysia. Tetapi sekarang saya kapok dan tidak mau lagi melarikan diri,” ujarnya. “Saya hanya bisa berdoa. Semoga suatu hari nanti akan datang keajaiban yang mempertemukan saya dan suami.”

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.

Tampilan selengkapnya