Rusia siapkan dokumen kerja sama dengan Indonesia ditandatangani November

Putin masih disebut akan hadir di G20, Zelenskyy hanya hadiri secara virtual jika perang masih berlanjut.
Dandy Koswaraputra
2022.05.31
Jakarta
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
Rusia siapkan dokumen kerja sama dengan Indonesia ditandatangani November Orang-orang berunjuk rasa mengecam invasi Rusia atas Ukraina di depan konsulat Ukraina di Denpasar, Bali, 1 Maret 2022.
[AFP]

Rusia telah menyiapkan “paket besar” kerja sama dengan Indonesia untuk ditandatangani di sela-sela pertemuan pemimpin negara G20 di Bali pada November, ungkap duta besar negara itu, di tengah desakan dari negara Barat agar Moskow tidak diundang ke perhelatan kelompok negara ekonomi besar itu.

Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Vorobieva, mengatakan bahwa kerja sama tersebut meliputi beberapa bidang, mulai dari pertanian, perdagangan hingga perang terhadap penyalahgunaan narkotika.

“Ini paket kerja sama yang nilainya besar. Semoga kita bisa menandatangani kemitraan strategis antara Rusia dan Indonesia ini oleh kedua pemimpin,” kata Vorobieva dalam wawancara dengan televisi CNN Indonesia yang ditayangkan pada Senin (30/5).

Negara-negara Barat sebelumnya meminta Indonesia untuk tidak mengundang Rusia ke pertemuan di G20 karena invasi ilegal negara itu ke Ukraina.

Amerika Serikat juga meminta agar Ukraina diikutsertakan dalam forum G20 sebagai salah satu negara peninjau, apabila Rusia tetap mengirimkan delegasi.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Teuku Faizasyah mengatakan bahwa kesempatan menghadiri konferensi tingkat tinggi (KTT), termasuk G20, kerap kali dimanfaatkan oleh negara peserta untuk membahas hubungan bilateral di sela acara.

“Termasuk mana kala dimungkinkan menandatangani satu perjanjian. Jadi bisa saja beberapa negara menggunakan KTT G20 dalam konteks kerja sama bilateral mereka,” kata Faizasyah kepada BenarNews, Selasa.

Menurut Vorobieva, Indonesia mengalami surplus dalam neraca perdagangan dengan Rusia dalam beberapa tahun terakhir – sebelum terjadi perang negaranya dengan Ukraina.

“Kami membeli satu juta ton minyak sawit dari Indonesia tanpa banyak restriksi, tidak seperti negara-negara konsumen lainnya,” kata Vorobieva.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia dengan Rusia cenderung meningkat dalam dua tahun terakhir sebelum Moskow menginvasi Ukraina.

BPS mencatat nilai perdagangan Indonesia dengan Rusia mencapai US$2,74 miliar (hampir Rp40 triliun) pada 2021, meningkat 42,2% dibandingkan tahun sebelumnya.

Data BPS menunjukkan nilai ekspor Indonesia ke Rusia tahun lalu sebesar US$1,49 miliar, sementara nilai impor Indonesia dari Rusia US$1,25 miliar.

Dengan demikian, menurut BPS, neraca perdagangan Indonesia surplus sekitar US$240 juta pada 2021, lebih tinggi belasan kali lipat dibandingkan surplus pada periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu US$15,65 juta.

Tetapi sejak perang Rusia-Ukraina awal tahun ini, data BPS menunjukkan nilai ekspor barang Indonesia ke Rusia pada Maret 2022 sebesar US$67,5 juta, turun 48,66% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Ekspor terbesar Indonesia ke Rusia pada Maret 2022 mencakup lemak dan minyak hewan atau minyak nabati, karet dan barang dari karet, serta mesin atau peralatan listrik.

Putin disebut masih akan hadir, Zelenskyy hadir virtual jika perang berlanjut

Ditanya tentang kehadiran Presiden Rusia Vladimir Putin dalam G20 pada November di Bali, Vorobieva mengatakan bahwa sampai saat ini belum ada perubahan dan Putin masih berencana hadir. “Kita masih punya waktu enam bulan, jadi masih melihat perkembangan yang terjadi ke depan,” kata Vorobieva.

Ia juga mengatakan bahwa Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov akan menghadiri secara fisik pertemuan menteri luar negeri G20 pada Juli di Bali untuk membahas isu-isu terkini, termasuk pandemi COVID-19 dan perang Rusia-Ukraina.

Sementara itu dalam sebuah forum virtual minggu lalu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menegaskan kembali apresiasinya kepada Presiden Joko "Jokowi" Widodo yang telah mengundangnya hadir dalam KTT G20, namun dia mengatakan tidak akan menghadirinya secara langsung - hanya virtual, jika perang Rusia di Ukraina belum berakhir pada saat itu.

"Saya tidak bisa meninggalkan Ukraina, dan saya tidak bisa pergi ke mana pun secara pribadi karena saya tinggal bersama orang-orang saya, mereka membutuhkan dukungan saya, dan saya membutuhkan dukungan mereka di sini," kata Zelenskyy di forum publik virtual yang diselenggarakan oleh lembaga think-tank Foreign Policy Community of Indonesia, Jumat lalu.

Dalam kesempatan itu Zelenskyy juga menyerukan penolakan kehadiran Rusia dalam G20 dengan mengatakan dia meyakini bahwa KTT tersebut hanya untuk dihadiri oleh negara-negara yang bersahabat dan bukan penjajah.

Militer Rusia menginvasi Ukraina sejak 24 Februari lalu yang telah menewaskan lebih dari 4000-an warga sipil Ukraina, dan melukai lebh dari 5000 orang lainnya, menurut kantor PBB Urusan Hak Asasi Manusia per 30 Mei 2022. Sementara itu sekitar 14 juta warga Ukraina tercerabut dari tempat tinggal mereka dimana sekitar 6 juta diantaranya harus mengungsi ke luar negeri.

Kementerian Luar Negeri Indonesia tetap pada rencana yang sudah disusun sebelumnya yaitu mengundang semua perwakilan anggota G20 tanpa terkecuali, termasuk Rusia.

“Undangan sudah dikirimkan sebelumnya ke semua negara anggota G20. Konfirmasi kehadiran dari negara-negara terundang masih akan dipastikan dengan berjalannya waktu,” kata Faizasyah.

Pererat hubungan bilateral tapi tolak perang

Peneliti Politik Internasional dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dewi Fortuna Anwar mengatakan hubungan Indonesia dengan sebagian besar anggota G20 konkret, meski hubungan ekonomi Indonesia dan Rusia masih relatif kecil dan tertinggal dibandingkan antara Indonesia dengan China, Jepang, Amerika Serikat, Uni Eropa dan Korea Selatan.

“(Masih tertinggal) baik dari persentase maupun nominal,” kata Dewi kepada BenarNews, Selasa.

Namun, tambah Dewi, Indonesia dan sama-sama punya kepentingan untuk meningkatkan hubungan bilateral, khususnya bidang ekonomi.

“Rusia termasuk non-traditional market bagi Indonesia yang ingin memperluas pasar di luar pasar-pasar tradisional,” kata Dewi.

Pakar Hukum Internasional dari Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana menilai bahwa hubungan Indonesia dan Rusia sangat konkret namun bukan berarti Indonesia mendukung perang di Ukraina.

“Politik bebas aktif yang Indonesia jalankan wajib mengedepankan isu perdamaian dan kemanusiaan,” kata Hikmahanto.

Oleh karena itu, kata Hikmahanto, sikap Indonesia untuk tetap mengundang Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menghadiri KTT G20 sudah benar, sambil pada saat yang sama mengakomodasi Ukraina untuk terlibat dalam perhelatan ekonomi tersebut demi perdamaian.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.