Follow us

Rusuh Wamena, Warga Pendatang: ‘Kita Ditolong Warga Papua’

Kapolda Papua menyebutkan bahwa para pelaku kerusuhan berasal dari luar Wamena dan mengimbau pengungsi untuk kembali ke ibukota Jayawijaya itu.
Putra Andespu
Jayapura
2019-10-03
Email
Komentar
Share
Satria bersama salahseorang anaknya (tengah), dan korban kerusuhan Wamena lainnya berada di tenda pengungsian Kompleks Masjid Al Aqsha di Sentani, Jayapura, Papua, 2 Oktober 2019.
Satria bersama salahseorang anaknya (tengah), dan korban kerusuhan Wamena lainnya berada di tenda pengungsian Kompleks Masjid Al Aqsha di Sentani, Jayapura, Papua, 2 Oktober 2019.
Putra Andespu/BeritaBenar

Satria, perempuan asal Sumatra Barat itu, masih menyisakan trauma saat diwawancara di tempat pengungsiannya di Sentani, Jayapura, awal Oktober 2019.

Masih terekam jelas kerusuhan yang melanda daerah yang menjadi tempat tinggalnya sembilan tahun terakhir; Wamena, kota Kabupaten Jayawijaya, Papua, pada Senin, 23 September 2019 lalu.

Tragedi menewaskan 33 orang itu merupakan kejadian paling tragis yang pernah dilihatnya dalam 40 tahun hidupnya.

"Saya enggak bisa bayangkan kalau enggak sempat menyelamatkan diri, massa datang teriak, 'bunuh-bunuh, bakar-bakar'," ujar ibu dua anak itu saat ditemui BeritaBenar di lokasi pengungsian Kompleks Masjid Al Aqsha di Sentani, Rabu, 2 Oktober 2019.

Massa berlaku anarkis mengincar pendatang. Satria segera menutup toko sembako miliknya di Pasar Baru, Wamena, yang baru saja dibuka, untuk menyelamatkan nyawa.

Saat amuk massa, warga asli Papua di Pasar Baru mempertaruhkan nyawa melindungi pendatang, ujarnya.

Satria melihat beberapa warga lokal dan pendatang mengeluarkan parang mengadang massa.

Massa mundur ke Pike, wilayah pinggiran Wamena dan melakukan pembakaran. Namun tak lama, massa yang bersenjata panah, tombak dan parang kembali ke Pasar Baru, lalu membakar rumah dan toko-toko, termasuk toko milik Satria.

"Kita ditolong warga Papua, disuruh keluar rumah, sembunyi, disuruh menyelamatkan diri, diarahkan jangan sampai lari ke massa," tutur Satria.

Warga lokal di sekitar Pike, tambahnya, juga turut membantu mengungsikan sebagian pendatang ke gereja-gereja.

Satria bersama suami, Reza, dan anaknya yang balita memilih lari ke pos TNI beberapa ratus meter dari rumah mereka. Keluarga ini kemudian diungsikan ke markas Komando Distrik Militer (Kodim) setempat.

Sambil lari ke pos TNI, ia sempat melihat ada orang dikeroyok massa dan mendengar teriakan, "bunuh, bunuh".

Ia memikirkan keselamatan putra sulungnya Iqbal (7), yang sedang ikut ujian di Sekolah Dasar.

Iqbal bersama siswa lain ternyata ikut kabur saat melihat massa menyasar sekolahnya, papar Satria.

Di jalan, dia bertemu warga Papua teman ibunya yang kemudian mengantarnya ke markas Kodim.

Iqbal trauma berat. Dia mengungkapkan ke ibunya, "tidak berani sekolah lagi, takut."

Satria juga merasakan sama. Dia tak berniat kembali ke Wamena dalam tahun ini.

"2020 lihat lagi nanti kalau memungkinkan balik (Wamena), sekarang saya ingin pulang kampung saja, takut kalau di sini terus," imbuhnya, menambahkan warga pendatang selama ini selalu rukun dengan warga lokal di Wamena.

Di Pasar Baru tempat dirinya tinggal, warga dari Sumatra, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur berdampingan dengan masyarakat asli Papua.

"Sehari-hari enggak ada beda pendatang sama warga lokal, hidup rukun," ujarnya.

Bukan warga Wamena

Satria menduga pelaku kerusuhan yang sebagian mengenakan seragam SMA bukan warga Wamena.

"Masak anak SMA ada yang sudah tua, berjenggot. Sepertinya mereka dari luar," ujarnya.

Kapolda Papua, Irjen Paulus Waterpauw menyebutkan para pelaku kerusuhan Wamena berasal dari luar ibukota Jayawijaya itu.

"Mereka yang main kemarin bukan orang Wamena," katanya saat berbincang dengan pengungsi di Jayapura.

Dewi saat berada di lokasi pengungsian Kompleks Yonif Raider 571 di Sentani, Jayapura, Papua, 2 Oktober 2019. (Putra Andespu/BeritaBenar)
Dewi saat berada di lokasi pengungsian Kompleks Yonif Raider 571 di Sentani, Jayapura, Papua, 2 Oktober 2019. (Putra Andespu/BeritaBenar)

Dewi (35), perantau asal Aceh yang tinggal di Jalan Homhom, Wamena, juga meyakini pelaku kerusuhan bukan warga Wamena.

"Kayaknya mereka datang dari luar, karena waktu itu warga di sana banyak membantu (pendatang)," kata Dewi yang ditemui ke posko pengungsian Kompleks Batalyon Infantri Raider 751/Vira Jaya Sakti, Sentani.

Dewi mengaku saat sekelompok massa hendak menyerang permukimannya, beberapa warga setempat memberikan perlawanan dengan senjata tajam sehingga penyerang sempat mundur, tapi kemudian kembali dengan jumlah lebih banyak.

"Mereka bawa panah, parang, bensin, mulai teriak-teriak terus mulai dibakar-bakar, orang-orang ada yang dibacok," katanya.

Menurut Dewi, di sekitar rumahnya ada ada warga yang keluar, lalu dipaksa masuk lagi ke rumah, kemudian rumahnya dibakar.

"Saya sendiri lari lewat belakang. Kalau ingat-ingat lagi, saya trauma," tuturnya.

Dewi dan suami serta tiga anaknya selamat, tapi rumah kontrakan dan kios kosmetik tempatnya jualan habis dibakar massa.

Kerusuhan di Wamena diawali unjuk rasa siswa SMA yang memprotes isu dugaan ujaran rasis yang dikeluarkan oleh seorang guru kepada siswanya di sebuah sekolah.

Aksi berubah anarkis setelah massa tak dikenal ikut bergabung.

Mereka menyerang warga, merusak fasilitas umum, membakar kendaraan, gedung-gedung pemerintahan, termasuk Kantor Bupati Jayawijaya, serta rumah-rumah. Massa juga menumbangkan pohon-pohon ke jalan untuk memblokade lalu lintas.

Suryono, tukang ojek di Wamena yang mengungsi ke Jayapura mengatakan, kerusuhan pertama kali terjadi sekira pukul 08.30 hingga pukul sekira 15.00 WIT, kemudian ada aksi susulan hingga mengakibatkan Wamena mencekam.

"Seharian full rusuh," ujar pria asal Lumajang, Jawa Timur, itu.

Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra mengatakan, isu rasis guru ke siswa yang memicu kerusuhan Wamena adalah berita bohong.

"Peristiwa mengenaskan ini akibat berita hoaks," katanya di Jakarta.

Polisi telah menetapkan tujuh tersangka kerusuhan dan berpotensi bertambah.

"Tujuh tersangka ini akan terus dikembangkan," kata Asep.

Pejabat Indonesia mengatakan lebih dari 11.500 orang dievakuasi dari Wamena. Antara 23 September dan 2 Oktober, TNI Angkatan Udara telah menerbangkan 7.467 orang ke luar dari Wamena menggunakan pesawat-pesawat Hercules, sementara 4.179 orang terbang menggunakan pesawat komersial, demikian dikatakan Harry Hikmat, seorang pejabat dari Kementerian Sosial, seperti dikutip Reuters.

Sebelum pecahnya kerusuhan di Wamena, Papua sempat sempat relatif tenang setelah sebelumnya diwarnai protes yang diwarnai kekerasan di sejumlah wilayah di Bumi Cendrawasih itu. Setidaknya 13 orang tewas menurut Pemda dan aktivis, walaupun pemerintah pusat mengatakan lima warga sipil dan seorang tentara tewas, dalam sejumlah demonstrasi sebagai tanggapan atas tindakan rasis aparat keamanan dan sejumlah Ormas terhadap mahasiswa Papua di Jawa Timur pertengahan Agustus lalu.

Jamin keamanan

Wakil Bupati Jayapura, Giri Wijayantoro, memastikan warga Wamena yang mengungsi ke daerahnya ditangani dengan baik.

"Semua elemen masyarakat, warga dari gunung, pantai, dari seberang semua membantu," ujarnya.

Sekolah-sekolah di Jayapura, tambahnya, juga siap menerima anak-anak pengungsi Wamena..

"Kami menjamin keamanannya. Artinya kekuatan kami akan kami pertebal, membuat senyaman mungkin saudara kita di Wamena dan sekitarnya. Kami TNI-Polri siap untuk menjamin keamanan," kata Kapolda Papua, Irjen Paulus.

Tampilan selengkapnya