Follow us

Safari Ramadan, Merawat Keberagaman Lintas Agama

Heny Rahayu
Malang
2016-07-05
Email
Komentar
Share
Peserta “Safari Damai Ramadan” berdialog di Vihara Dhamma Dhipa Batu, Malang, Jawa Timur, 29 Juni 2016.
Peserta “Safari Damai Ramadan” berdialog di Vihara Dhamma Dhipa Batu, Malang, Jawa Timur, 29 Juni 2016.
Heny Rahayu/BeritaBenar

Sekumpulan anak muda di Malang, Jawa Timur, yang tergabung dalam Gus Durian melengkapi akhir puasa dengan menggelar “Safari Damai Ramadan” untuk memupuk toleransi antarumat beragama.

Mereka beranjangsana dan berdialog bersama tokoh-tokoh Kristen, Katolik, Buddha, Baha’i dan penghayat kepercayaan. Mereka juga mendatangi pesantren dan pengikut Syiah. Kunjungan itu dilakukan selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan.

“Merawat keberagaman sambil ngabuburit,” jelas Mukthtadi Amri A, koordinator safari, kepada BeritaBenar, Minggu, 3 Juli 2016.

Kunjungan ke tempat ibadah agama lain untuk mengupas makna puasa dari perspektif lintas agama. Selain itu untuk mengetahui pandangan umat lain terhadap puasa Ramadan. Mereka juga berharap pertemuan dan dialog lintas agama dapat mempererat keberagaman.

Safari Damai Ramadan adalah yang pertama tahun ini. Awalnya mereka kerap berdialog lintas iman dalam momen tertentu. Misalnya dialog dengan umat Kristen dan Katolik saat Natal atau berdiskusi dengan umat Khonghucu ketika Imlek.

Kegiatan itu juga dipicu atas gerakan intoleran yang terjadi akhir-akhir ini. Seperti sekelompok masyarakat yang melarang aktivitas Shinta Nuriah, istri mediang Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, saat sahur bersama dalam sebuah gereja di Semarang.

“Padahal aktivitas itu rutin digelar sejak 16 tahun lalu, kemana saja mereka selama ini? Berbuka dan berteman dengan agama lain sangat tabu,” ujar Amri.

Menurutnya, perbedaan adalah fitrah. Indonesia beragam, tapi harus bersatu. Keberagaman agama, suku, budaya dan bahasa harus diterima.

Kunjungan Gus Durian ke sejumlah tempat ibadah juga memberi pesan untuk saling menjaga toleransi. Umat Islam sebagai mayoritas, katanya, harus melindungi kelompok minoritas.

Shalat di Klenteng

Suatu petang akhir Juni, sepuluh anggota Gus Durian duduk berjajar mengelilingi meja di aula Klenteng En Ang Kiong. Aroma dupa menyeruak di ruangan yang didominasi cat warna merah, kuning emas, dan dihiasi lampion.

Suasana semakin bermakna dalam safari itu setelah Bonsu Anton Triyono, pimpinan Khonghucu menemui mereka. Anton menjelaskan jika Klenteng menjadi tempat ibadah tiga agama sekaligus yakni Tao, Buddha Mahayana dan Khonghucu.

“Kami sama etnis berbeda iman. Beribadah di bawah satu atap. Tetap rukun untuk ibadah tiga agama sesuai kepercayaan masing-masing,” katanya.

Klenteng berusia hampir 200 tahun ini menjadi rumah bersama untuk merawat keberagaman.

Klenteng di kawasan Kota Lama, Kota Malang, berlambang genta untuk menggambarkan agama Khonghucu, Swastika agama Buddha Mahayana dan Yin Yang agama Tao.

Pimpinan Klenteng En Ang Kiong yang juga aktif di Forum Kerukunan Umat Beragama (FKAUB) ini berharap anak muda turut menjaga dan merawat keberagaman serta budaya dan tradisi.

Seorang pemuda Khonghucu, Hendrawan, mengatakan mereka dianjurkan untuk berpuasa, membersihkan hati, dan pakaian rapi dalam bersembahyang kepada Tuhan. Berpuasa dalam ajaran Khonghucu, berbeda dengan Islam.

“Puasa tak wajib tapi merupakan kebajikan,” ujarnya.

Usai berdialog dan mengenal Khonghucu, adzan maghrib berkumandang tanda untuk berbuka puasa dan shalat maghrib. Anggota Gus Durian dipersilahkan menunaikan shalat berjamaah di sebuah ruangan beralas karpet. Lalu, mereka menyantap menu berbuka puasa yang disediakan.

Ketika berkunjung di Vihara Dhamma Dhipa, Batu, seorang penganut Buddha, Bante Vijaya, menjelaskan ritual wasa atau puasa yang dilakukan Biku setiap bulan Juli. Wasa, tuturnya, hanya untuk biku sedangkan umat Buddha tak menjalankan ritual.

Puasa dilaksanakan selama tiga bulan. Biku bermeditasi dalam vihara dan tak boleh bepergian, kecuali untuk kondisi penting seperti menjenguk orang tua sakit dan memberi khutbah kepada umat.

Bante yang dulu aktif dalam Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) yang digagas mendiang Gus Dur menjelaskan wasa merupakan upaya introspeksi diri. “Biku dihormati bukan berapa lama menjadi biku tapi sudah berapa kali wasa,” katanya.

Menggali toleransi

Usai safari tersebut, Amri mengaku banyak menggali nilai-nilai keberagaman yang ada antara umat beragama untuk saling menghormati dan menjaga toleransi. Puasa punya makna dan nilai tersendiri dalam agama lain. Umat lain juga menghormati Muslim yang berpuasa.

“Pendeta Tatok, rutin mengingatkan waktu sahur dan berbuka,” katanya, mengaku mereka banyak mendapat pengalaman dari kegiatan berdialog dan berbuka di tempat ibadah agama lain.

Sejumlah kelompok Islam memandang haram hukumnya bagi umat Islam datang ke gereja. Namun, para pengikut nilai-nilai keberagamanan yang diajarkan Gus Dur justru berdialog, berbuka dan shalat berjamaah dalam gereja.

Nahdlatul Ulama (NU), katanya, tak melarang ke gereja untuk berbuka tapi dengan sejumlah syarat. “Makanan yang disajikan halal, semua memenuhi syarat. Tak masalah,” ujarnya.

Ketua Forum Kerukunan Antar Umat Beragama (FKAUB) Malang, Sudjoko Santoso, mengatakan toleransi lintas iman terjaga sejak lama di Malang. Komunikasi pimpinan enam agama terjalin akrab. Mereka rutin bertemu, berdialog dan bertukar pandangan mengenai toleransi.

“Sekaligus membahas agar kutbah dan ceramah jangan ada yang menghasut dan mengundang kebencian antar iman,” katanya, seraya menyebutkan ceramah harus saling menyejukkan dan menghormati perbedaan.

Tampilan selengkapnya