Follow us

Saksi Sekterian Konflik Ingin Mengucapkan Terimakasih Kepada Penyelamat Misterius

Oleh Aditya Surya
2015-04-07
Email
Komentar
Share
Seorang warga membersihkan sepeda motor dekat reruntuhan gedung dan perumahan yang dibakar karena sekterian konflik di Ambon 12 Januari 2000.
Seorang warga membersihkan sepeda motor dekat reruntuhan gedung dan perumahan yang dibakar karena sekterian konflik di Ambon 12 Januari 2000.
AFP

Heri Sutopo berasal dari Surabaya, ibukota Jawa Timur. Dia memutuskan untuk pindah ke Kecamatan Gebang Rejo, Poso tahun 1995. Ia menyaksikan sekterian konflik antara Muslim dan Kristen di Poso, Sulawesi Tengah dan Ambon, Maluku yang menyebabkan tewasnya 5000 orang dan hampir merenggut nyawanya.

Meskipun sudah tidak lagi tinggal di Poso ingatan akan peristiwa pembantaian sesama manusia masih terus teringat. Heri mendorong semua warga Muslim dan Kristen di Poso dan Ambon untuk menghindari konflik dan menghormati satu sama lain sehingga semua orang bisa hidup dengan aman dan damai. Heri berbagi cerita dengan BenarNews.

Berbeda dengan peristiwa bom Bali yang terjadi pada 2002-2005 yang menewaskan 202 orang mayoritas warga asing, kejadian ini telah menerima simpati internasional dan menjadi sorotan media selama bertahun-tahun. Konflik sekterian di Poso dan di Ambon Maluku telah menewaskan sedikitnya 5000 orang pada periode 1999-2002 dan menyebabkan lebih dari 700.000 orang mengungsi tidak mendapat sorotan sebesar Bali.

Tidak banyak orang Indonesia tahu mengapa, bagaimana, kapan kekerasan ini terjadi, dan apa yang mereka pelajari dari sekterian konflik ini?

Saya pindah ke tempat yang dikenal sebagai daerah makmur di Gebang Rejo, Poso. Sebagai orang Jawa yang saya tahu persis apa artinya, "gerbang menuju kemakmuran."

Di bawah rezim otoriter Soeharto, tidak mengherankan bahwa Anda akan melihat banyak desa, jalan,  toko dan bahkan nama pejabat semua bernada Jawa. Hal ini terjadi karena berbagai alasan. Pertama, karena konsep pembangunan saat itu sangat sentralistis. Orang Jawa menduduki posisi kepemimpinan di sebagian besar propinsi. Tidak ada desentralisasi atau pemilihan lokal kepala daerah. Kedua, program transmigrasi yang bertujuan untuk memindahkan daerah yang padat penduduknya ke daerah lain yang tidak terlalu padat, termasuk ke Sulawesi dan Maluku.

Tapi saya tidak dalam program ini, saya pindah ke Gebang Rejo dengan sukarela. Saya berumur 21 tahun ketika itu dan baru lulus Universitas Airlangga di Surabaya. Dengan gelar di bidang teknik saya ingin mencari pengalaman jauh dari rumah.

Saya diterima bekerja di Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Saya pikir keputusan pindah ke Geban Rejo adalah yang terbaik ketika itu. Beberapa bulan pertama saya mengamati daerah tersebut, saya pikir Gebang Rejo sangat makmur. Mungkin itu karena sumber air yang membuat daerah tersebut menjadi subur untuk menanam buah, sayur, kayu jati dan rempah-rempah.


Saya tinggal di daerah Tanah Runtuh. Nama ini diangkat dari cerita adanya abrasi di tepi sungai Poso yang menyebabkan beberapa tempat longsor. Tapi daerah itu sendiri tidak diketahui sampai sekitar 2007 di mana banyak jihadis datang di wilayah tersebut.

Kronologi secterian konflik di Sulawesi dan Maluku sangat panjang dna terjadi hampir bersamaan. Sekterian konflik di Poso muncul setelah beberapa tahun saya pindah ke Tanah Runtuh. Awalnya di tahun 1998 terjadi konflik di desa Sayo antara Muslim dan Kristen. Ketika itu adalah bulan suci Ramadhan, beberapa orang Kristen minum alkohol dan mabuk. Tindakan itu menyebabkan kemarahan kelompok Muslim. Setelah kejadian ini setiap konflik yang terjadi antara Muslim dan Kristen menjadi kekerasan agama.

Puncak konflik yang pernah saya saksikan adalah serangan di Gereja Silo, Ambon, Maluku pada 26 Desember 1999, Gereja Protestan terbesar di Maluku dibakar sehari setelah hari Natal. Tidak ada yang tersisa. Orang-orang Kristen marah dan membalas dendam dengan menewaskan hampir 800 Muslim di Masjid Tobelo.

Saya disana ketika peristiwa ini terjadi, saya sedang mengunjungi seorang teman dari Jawa yang tinggal di Tobelo, Maluku. Saya menempuh perjalanan panjang dari Poso ke Tobelo. Dalam perjalanan pulang kembali ke Poso saya melihat beberapa truk penuh dengan orang yang marah dan mengangkat senjata. Mereka mulai menembak tanpa arah. Orang desa panik dan berteriak minta pertolongan.

Beberapa orang dari truk menahan mobil saya. Mereka mengenakan kalung salib dan senapan di tangan mereka. Kelompok yang sama juga berbicara dengan empat pria dan 2 wanita. Saya tidak tahu siapa mereka. Kelompok penyerang ini bertanya kepada seseorang di samping saya, "Apakah kamu orang Kristen?" Dia menjawab ya. Penyerang memberinya beberapa pertanyaan lain yang saya tidak tahu. Kemudian saya mendengar dia berkata kedatangannya di Tobelo adalah untuk mengunjungi keluarganya dalam acara pesta Natal. Penyerang berbicara kepadanya dalam beberapa detik sebelum membebaskannya.

Jantung saya berdegup cepat, saya takut kelompok brutal ini akan membunuh saya karena saya bukan Kristen, saya Muslim.

Penyerang menodongkan pistol ke muka saya sambil bertanya "apakah kamu orang Kristen?"

Saya berkeringat. Saya pikir itu adalah hari terakhir saya. Namun, sebelum saya menjawab, orang Kristen yang baru saja dibebaskan oleh penyerang menyatakan, "dia datang dengan saya." Mereka berbicara selama beberapa menit kemudian saya dibebaskan.

Saya menangis dan hampir membuka mulut untuk mengucapkan terima kasih. Tapi saya melihat pria yang membantu saya menyuruh saya tetap diam. Saya hanya ingat dia memperkenalkan dirinya sebagai "Dan." Dia mungkin 10 tahun lebih tua dari saya. Kami berdua berjalan sejauh yang kami bisa dan sebelum kami berpisah, Dan berkata "Hiduplah dalam damai," lalu mengucapkan selamat tinggal.

Saya mencarinya bertahun-tahun tapi tidak pernah menemukannya. Tapi saya menjaga semangat kemanusiaan dia sampaikan. Semangat toleransi. Tidak peduli agama apa yang Anda miliki, hidup kita jauh lebih berharga.

Saya terus berjalan dan berjalan sampai mendapat tumpangan pulang.Saya ingat setelah itu, tanggal 7 Januari, 2000, lebih dari 100.000 Muslim mengadakan protes di Jakarta, Monumen Square, menyerukan jihad di Maluku .

Orang tua saya mengatakan bahwa saya harus meninggalkan wilayah tersebut. Mereka mengatakan kepada saya tentang perekrutan besar-besaran dan penggalangan dana untuk membantu para jihadis di Poso dan Ambon yang dilakukan di mana-mana di jalan, sekolah, pesantren, mall dan pasar tradisional.

Tiga orang dilaporkan tewas di Poso Tanggal 16-19 April tahun 2000 karena konflik anatra pemuda Islam dan Kristen.  Singkat cerita, saya meninggalkan Gebang Rejo beberapa hari setelah kejadian tersebut (tanggal 25 April) karena saya melihat sekterian konflik di daerah tersebut tidak pernah berakhir. Saya berganti profesi menjual peralatan medis di sini di Yogyakarta dan meneruskan hobi saya berkebun. Sekarang saya punya 2 anak perempuan dan istri yang baik. Kejadian ini hampir dua dekade tapi saya masih punya ingatan kuat tentang hal itu. Di dalam hati, saya berharap bertemu Dan untuk mengucapkan terima kasih, sekali lagi.

Tampilan selengkapnya