Follow us

Santri Tangkal Radikalisme di Dunia Maya

Tujuannya tidak hanya untuk melawan terorisme tapi juga untuk membangun narasi Islam yang ramah.
Eko Widianto
Malang
2018-10-22
Email
Komentar
Share
Sekitar 1.000 santri menggelar apel memperingati Hari Santri Nasional di depan Balai Kota Malang, Jawa Timur, 22 Oktober 2018.
Sekitar 1.000 santri menggelar apel memperingati Hari Santri Nasional di depan Balai Kota Malang, Jawa Timur, 22 Oktober 2018.
Eko Widianto/BeritaBenar

Puluhan santri duduk meriung, mata mereka menatap layar monitor komputer jinjing. Mereka serius membuat poster, meme, dan video berisi tentang toleransi, makna jihad serta merawat keberagaman.

Salah satunya, M. Rouf.

Santri di Pesantren Sobilurrosyad, Gasek, Kota Malang, Jawa Timur, ini aktif di media sosial.

Ia membuat meme dan poster untuk menangkal paham radikal. Hasil karyanya disebar di akun media sosial dan situs pesantren.

“Kita membuat kontranarasi atas radikalisme yang berkelindan di dunia maya,” tuturnya saat ditemui BeritaBenar, Sabtu, 20 Oktober 2018.

Rouf berharap aksi yang dilakukan bersama para santri lain dicatat sebagai jihad.

Jihad, katanya, tak harus mengangkat senjata.

Pemahaman jihad yang keliru itu menyebabkan banyak anak muda tersesat dan bergabung dengan kelompok radikal.

“Makanya, santri berperan meluruskan pemahaman yang salah itu. Selama ini, santri memiliki ilmu, namun tak aktif di dunia maya sehingga dipenuhi konten radikalisme dan intoleransi,” ujarnya.

Puluhan pesantren di Malang telah berjejaring guna menguatkan gerakan melawan radikalisme, intoleransi, dan terorisme.

Gerakan sejak setahun terakhir itu juga menggandeng Gusdurianmuda atau Garuda Malang, satu komunitas lintas iman berisi anak muda untuk mengamalkan pemikiran mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Koordinator Garuda Malang, Ilmi Najib, menyatakan rutin menggelar diskusi lintas iman untuk menggali pemikiran-pemikiran Gus Dur dan kemudian mengampanyekan di media sosial.

“Paham dan narasi radikal harus dilawan,” katanya.

Perlu gerakan masif

Sekretaris Eksekutif Pusat Studi Pesantren FISIP Universitas Brawijaya di Malang, Yusli Efendi, yang juga pakar terorisme melihat isu radikalisme semakin meluas di dunia maya sehingga harus diimbangi dengan aktivitas berbasis digital.

“Memberi alternatif konten positif yang mengandung pesan-pesan damai di internet, sangat diperlukan,” katanya.

Para santri harus dilatih menguasai teknologi untuk memaksimalkan dalam menyebarkan pesan damai seperti menyampaikan pesan kebajikan, menangkal ujaran kebencian, dan menampilkan Islam yang ramah.

“Islam ramah, bukan marah. Jika paham radikal itu racun, kita memberi obat penawarnya,” katanya.

Yusli berharap jejaring santri tak hanya di Malang, tapi juga lintas daerah seluruh Nusantara sehingga gerakan menjadi masif dan memberi efek besar untuk menyebarkan kebaikan.

Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) atau Asosiasi Pesantren Nahdlatul Ulama mendukung gerakan para santri tersebut. Pihaknya juga menyiapkan sejumlah konten video pendek berisi tentang keagamaan dan kebangsaan.

“Para santri yang ahli di bidang digital dikerahkan,” kata Koordinator Divisi Media RMI NU, Abdulloh Hamid.

RMI telah memetakan basis data pesantren untuk mengoptimalkan gerakan itu agar semuanya terintegrasi.

“Kita harus lawan narasi paham radikalisme. Menyajikan konten Indonesia damai,” katanya.

Pakar teknologi informasi dan terorisme, Amrin Hakim, menyebut kelompok radikal telah lama menggunakan internet untuk menyebarkan propaganda.

“Mereka update teknologi. Jika sekarang bom panci, bom rompi suatu saat bisa menguasai teknologi dengan bom lebih canggih. Seperti shut down PLN, bom dikendalikan dari jarak jauh maupun perintah dari internet,” ujarnya.

“Kondisinya sangat seram sekali. Ideologi mereka tersebar di jagad maya.”

Untuk itu, katanya, semua harus peduli menangkal ideologi radikalisme.

“Bukan hanya kontranarasi, tapi juga membangun narasi Islam di Indonesia yang ramah,” ujarnya.

Santri dan komunitas berdiskusi mengenai tema yang akan diangkat bersama untuk menangkal paham radikal di Malang, Jawa Timur, 20 Oktober 2018. (Eko Widianto/BeritaBenar)
Santri dan komunitas berdiskusi mengenai tema yang akan diangkat bersama untuk menangkal paham radikal di Malang, Jawa Timur, 20 Oktober 2018. (Eko Widianto/BeritaBenar)

Polisi cinta masjid

Sementara itu, sekitar 1.000 santri dari beragam pesantren menggelar apel hari santri nasional di depan Balai Kota Malang, 22 Oktober 2018.

Wali Kota Malang Sutiaji menyatakan dukungannya terhadap gerakan santri untuk menangkal radikalisme.

“Santri berperan menangkal radikalisme dan terorisme. Mereka menguasai ilmunya,” ujar Sutiaji.

Setiap pesantren, katanya, telah dilatih untuk menguasai teknologi informasi. Termasuk syiar dan menyampaikan pesan perdamaian.

Kepala Kepolisian Resor Malang Kota, Ajun Komisaris Besar Asfuri, juga mendukung para santri menangkal radikalisme di dunia maya.

Polisi, katanya, siap membantu dan menindaklanjuti apabila menemukan akun atau situs yang menyebarkan paham radikalisme.

Sejak setahun terakhir, Asfuri mengerahkan sekitar 600 personil di seluruh tempat ibadah melalui gerakan Polisi Cinta Masjid untuk sosialisasi keamanan dan ketertiban, termasuk menangkal radikalisme dan terorisme.

“Sejauh ini belum ditemukan kelompok radikal di Malang,” katanya.

Ketua Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur, Soubar Isman menjelaskan pesantren berperan penting dalam menyebarkan Islam damai.

Menurutnya, kajian FKPT dua tahun lalu menyebutkan Jawa Timur masih menjadi daerah yang potensial menyebarkan radikalisme dan terorisme.

“Santri harus berperan nyata di dunia nyata dan dunia maya,” ujarnya.

Pada bulan Mei lalu, belasan orang tewas di Surabaya karena serangan bom bunuh diri yang dilakukan oleh dua keluarga yang melibatkan perempuan dan anak-anak mereka, menargetkan tiga gereja dan markas polisi.

Pelakunya adalah anggota Jamaah Ansharud daulah (JAD) sel militan yang berafiliasi pada kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Tampilan selengkapnya