Follow us

Sekjen PBB: Solidaritas untuk Sulawesi Tengah Sangat Tinggi

Pemerintah resmi menghantikan pencarian korban, sementara komunitas internasional berkomitmen berikan bantuan rekonstruksi.
Keisyah Aprilia
Palu
2018-10-12
Email
Komentar
Share
Sekjen PBB Antonio Guterres dan CEO Bank Dunia Kristalina Georgieva yang didampingi Wakil Presiden M. Jusuf Kalla ketika mengunjungi Kelurahan Balaroa di Palu, Sulawesi Tengah, 12 Oktober 2018.
Sekjen PBB Antonio Guterres dan CEO Bank Dunia Kristalina Georgieva yang didampingi Wakil Presiden M. Jusuf Kalla ketika mengunjungi Kelurahan Balaroa di Palu, Sulawesi Tengah, 12 Oktober 2018.
Keisyah Aprilia/BeritaBenar

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB) Antonio Guterres mengunjungi sejumlah lokasi yang terdampak gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), Jumat, 12 Oktober 2018, dimana pada hari yang sama pemerintah mengumumkan secara resmi berakhirnya pencarian terhadap korban bencana itu.

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB dalam rilisnya menyatakan hingga Jumat,

Jumlah korban tewas yang disebabkan oleh gempa 7,4 skala Richther yang memicu tsunami pada 28 September tersebut telah mencapai 2.090 orang, melukai lebih dari 10.000 orang lainnya dan memaksa 87.000 warga mengungsi, demikian disampaikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sementara itu ribuan lainnya dikhawatirkan masih hilang akibat ditenggelamkan lumpur di tiga lokasi yaitu Balaroa, Petobo, dan Jono Oge, atau dikenal dengan fenomena likuifaksi.

Seusai melihat langsung dampak bencana, Guterres mengaku turut prihatin dan menyampaikan komunitas internasional siap membantu memulihkan Palu, Sigi, dan Donggala – tiga wilayah terparah.

“Di sini, di Palu, saya melihat langsung kehancuran yang disebabkan oleh gempa dan tsunami. Ketika bertemu dan berbincang dengan beberapa orang, mereka menunjukkan kekuatan dan ketangguhan luar biasa. PBB bersama Anda untuk mendukung pemerintah dalam upaya penyelamatan dan pemulihan,” kata Gutteres lewat akun Twitternya.

Di bandara, Gutteres yang didampingi CEO Bank Dunia, Kristalina Georgieva, dan Wakil Presiden M. Jusuf Kalla, mendengarkan pemaparan Kepala BNPB Willem Rampangilei.

"Tidak ada elektrik, komunikasi, banyak jenazah, dan rumah sakit tidak operasional penuh," papar Willem.

"Palu adalah ibu kota provinsi, serta pusat pemerintahan dan ekonomi, dan ini sangat melumpuhkan kegiatan."

Lalu, rombongan bertolak ke Kelurahan Balaroa, lokasi terparah di Palu.

Setelah mengunjungi Balaroa, Guterres menuturkan secara pribadi sangat prihatian atas musibah yang terjadi.

Menurutnya, solidaritas dari negara-negara anggota PBB sangat tinggi untuk Indonesia. Oleh karena itu, lanjut Guterres, komunitas internasional akan memberi bantuan kepada wilayah terdampak bencana.

“Saya sangat percaya komunitas internasional pasti memberikan bantuan,” tegasnya.

Guterres juga melakukan pemantauan ke rumah sakit darurat dan posko pengungsi korban bencana.

Ia memberi apresiasi yang tinggi kepada pemerintah Indonesia khususnya pemerintah Sulawesi Tengah, karena bisa memberikan yang terbaik kepada penduduknya.

“Tentunya PBB akan selalu bersama Indonesia,” imbuhnya.

Sumbang 5 juta dolar

Kalla menyampaikan penghargaan kepada PBB dan Bank Dunia atas perhatian mereka bagi korban bencana di Sulawesi Tengah.

“Pemerintah sangat berterima kasih. Apa yang dilakukan PBB dan Bank Dunia tentunya menjadi semangat untuk warga di Sulawesi Tengah,” ujarnya.

Kristalina mengatakan pihak Bank Dunia akan memberikan bantuan sebanyak 5 juta dolar. .

“Dukungan itu dalam bentuk bantuan dana rehabilitasi,” terangnya.

Kristalina menambahkan, Bank Dunia telah mengusulkan kepada pemerintah Indonesia agar dapat membangun sebuah gedung atau monumen untuk mengenang bencana gempa dan tsunami.

“Kami memberikan masukan. Gedung memorial itu juga sangat penting,” katanya.

Dalam pidato pembukaan pertemuan Bank Dunia dan Lembaga Moneter Internasional di Bali beberapa hari lalu, Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim mengatakan apa yang terjadi di Sulawesi tersebut adalah pengingat pentingnya membangun ketahanan terhadap bencana alam dan mengatasi perubahan iklim.

“Orang-orang Indonesia adalah orang yang tangguh, dan mereka akan bangkit dari kesulitan ini lebih kuat dari sebelumnya,” ujarnya.

Sementara itu Bank Pembangunan Asia (ADB) mengumumkan pada hari Jumat komitmen mereka untuk memberikan pinjaman hingga 1 milyar dolar kepada Indonesia untuk membangun kembali wilayah yang dilanda gempa.

Presiden ADB Takehiko Nakao, yang bertemu Presiden Indonesia Joko "Jokowi" Widodo di sela-sela pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia di Bali, mengatakan bahwa ADB akan menyediakan pinjaman dukungan anggaran darurat hingga US $ 500 juta.

Nakao juga mengatakan bahwa ADB siap memberikan pendanaan tambahan sekitar $ 500 juta untuk mendukung rekonstruksi infrastruktur penting seperti pasokan air dan sanitasi, sekolah, jalan dan jembatan.

Warga mengadakan salat bersama di Palu pada 12 Oktober 2018, dua minggu setelah terjadinya gempa dan tsunami pada 28 September yang menewaskan 2.000 orang dan ribuan orang dinyatakan masih hilang. (AFP)
Warga mengadakan salat bersama di Palu pada 12 Oktober 2018, dua minggu setelah terjadinya gempa dan tsunami pada 28 September yang menewaskan 2.000 orang dan ribuan orang dinyatakan masih hilang. (AFP)

 

Dihentikan

Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola menyatakan proses pencarian korban yang dilakukan tim gabungan SAR resmi dihentikan.

“Penghentian terhitung hari ini,” terangnya.

Menurutnya, rapat bersama kementerian/lembaga dan seluruh relawan telah dilakukan dan keputusan yang diambil sudah sangat jelas untuk menghentikan proses evakuasi, pencarian, dan pertolongan di tiga lokasi yakni Petobo, Jono Oge, dan Balaroa.

“Kita meminta keikhlasan warga, tim Basarnas masih disiagakan di tiga lokasi itu. Jadi ketika ada tanda-tanda, tim pasti akan langsung bergerak,” sebutnya.

Kepala Kantor SAR Palu, Basarano menambahkan, potensi SAR yang tersisa berjumlah 130-an personel yang masih disebar di sejumlah titik.

“Meski proses evakuasi dihentikan, namun personel kami masih disiagakan di sejumlah titik-titik itu,” katanya.

Menurut Basarano, warga tak dipaksa untuk ikut berhenti mencari keluarganya yang diperkirakan berjumlah ribuan orang di Petobo, Jono Oge, dan Balaroa.

“Misalnya warga melapor ada temuan jenasah, personel kami akan evakuasi. Namun, proses pencarian tidak dilakukan lagi kecuali ada instruksi lebih lanjut dari pimpinan,” pungkasnya.

Tria Dianti di Jakarta ikut berkontribusi dalam laporan ini.

Tampilan selengkapnya