Follow us

Rekrutmen ISIS gunakan ‘selfie jihad’ untuk tarik anak muda

Oleh Ismira Lutfia Tisnadibrata
2015-05-04
Email
Komentar
Share
Pejuang Negara Islam, Jabhat  Al-Nusra parade di kamp Yarmuk Palestina, Selatan Damaskus, pada tanggal 28 Juli 2014.
Pejuang Negara Islam, Jabhat Al-Nusra parade di kamp Yarmuk Palestina, Selatan Damaskus, pada tanggal 28 Juli 2014.
AFP

Penyebaran foto melalui jejaring sosial para remaja yang telah bergabung sebagai pejuang relawan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dengan pose siap tempur dapat dijadikan sebagai alat merekrut remaja lainnya agar mau bergabung dengan kelompok radikal tersebut.

Foto yang dikenal dengan istilah ‘selfie jihad’ menggambarkan para pejuang relawan ISIS berpose di depan tank atau memegang senjata seperti AK-47 dan Bazooka. Foto-foto tersebut lalu mereka unggah di jejaring sosial mereka.

Muhammad Syauqillah, peneliti dari Setara Institute, mengatakan pengunggahan foto-foto tersebut bertujuan untuk melihat bagaimana orang lain yang berada dalam jejaring sosial merespon keberadaan mereka sebagai pejuang relawan ISIS.

Syauqillah menambahkan awalnya penyebaran foto-foto tersebut bertujuan untuk berbagi kepada rekan dan keluarga di tanah air, tapi kemudian digunakan sebagai rekrutmen ISIS.

“Responnya ada yang positif, seperti yang terlihat di jumlah ‘like’-nya dan komentar-komentar yang masuk,” ujar Syauqillah kepada BeritaBenar.

“Saya lihat selfie jihad merupakan bagian dari rekrutmen untuk membangkitkan ketertarikan para calon militan ISIS. Sementara untuk yang sudah termasuk jaringan militan akan semakin termotivasi untuk bisa segera pergi [ke Suriah],” ujar Syauqillah.

Ia menambahkan bahwa berita meninggalnya seorang pejuang relawan ISIS disebarkan melalui jejaring sosial sebagai tindakan yang heroik bahwa relawan ISIS telah meninggal syahid.

Al Chaidar, pengamat terorisme dari Universitas Malikussaleh di Aceh, mengatakan bahwa “Selfie Jihad” merupakan strategi untuk memamerkan kehidupan anak muda dari berbagai negara yang sudah bergabung dengan ISIS.

“Mereka ingin mengajak anak-anak muda untuk bergabung dan berjuang bersama ISIS,” katanya.

Stereotip yang salah terhadap arti ‘Jihad”

Penggunaan kata “jihad” untuk mendeskripsikan foto-foto tersebut dikritik oleh Muhyiddin Junaidi, kepala bidang kerjasama dan hubungan internasional Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Muhyiddin mengatakan penggunaan kata jihad dalam selfie jihad memberikan makna yang salah.

“Jihad artinya kerja keras untuk mencapai tujuan yang mulia dan dalam koridor syariah Islam yang benar,” ujar Muhyiddin kepada BeritaBenar.

Muhyiddin menyadari bahwa anak muda adalah target utama ISIS karena banyak yang tidak paham soal agama. Kedua, krisis kepribadian di kalangan pemuda, berpengaruh dalam cara mereka menafsirkan ayat-ayat suci Al Quran sesuka mereka.

“Padahal nyatanya kehidupan di sana sangat susah dan menyedihkan,” katanya.

Dia mengingatkan agar anak muda tidak mudah terpengaruh akan propaganda ISIS, termasuk yang dilakukan melalui penyebaran foto-foto tersebut.

Lokasi bisa dilacak

Agus Sudibyo, pengamat media dan mantan anggota Dewan Pers, mengatakan konsumen media tidak akan menyerap informasi mentah-mentah.

Terlalu sederhana untuk menyimpulkan bahwa media bisa merubah pemikiran seseorang menjadi radikal. Perlu ada penelitian tersendiri untuk membuktikan dalil tersebut, katanya menegaskan.

“Mungkin iya untuk mereka yang sudah ada kecenderungan radikal,” ujarnya.

Agus meragukan bahwa foto-foto selfie pejuang relawan ISIS adalah faktor determinan yang merubah seseorang jadi ingin berperang bersama ISIS.

“Harus dipertimbangkan juga faktor-faktor lain seperti ekonomi, lingkungan dan keluarga,” ujarnya.

Agus mengatakan bahwa menyebarkan foto-foto pejuang relawan ISIS melalui jejaring sosial bisa menjadi kontra produktif bagi kelompok itu sendiri karena keberadaan dan lokasi mereka bisa dilacak melalui geo-tagging dalam jejaring sosial.

Pemerintah dapat mengambil langkah mencegah propaganda ISIS melalui jejaring sosial, kata Agus.

“Pemerintah seharusnya bisa minta ke pengelola Twitter atau Facebook untuk meretas akun-akun tersebut,” ujarnya.

Arif Rachman, mahasiswa ilmu komunikasi semester sepuluh di Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), mengatakan bahwa dia tidak pernah menemukan foto-foto seperti itu dalam akun jejaring sosialnya. Ia mengetahui adanya pejuang-pejuang relawan ISIS hanya melalui berita di televisi.

“Saya jadi ingin tahu kenapa ada ISIS, ini gerakan Islam apa dan apa tujuannya sehingga mereka dimusuhi dan harus ditangkapi,” ujar Arif.

“Namun hal itu tidak membuat saya jadi tertarik untuk bergabung, karena beberapa hal yang dilakukan mereka tidak masuk akal dalam syariat Islam, seperti menghalalkan bunuh orangtua sendiri,” tambahnya.

Tampilan selengkapnya