Follow us

Peringatan Setahun Tragedi Bom Surabaya, Merajut Kemanusiaan

Para korban mengaku sudah memaafkan pelaku, dan mengimbau untuk menjadikan peristiwa itu sebagai penguat persatuan melawan intoleransi.
Yovinus Guntur
Surabaya
2019-05-14
Email
Komentar
Share
Sejumlah perempuan Muslim memegang lilin saat berlangsung refleksi setahun bom bunuh diri di halaman Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela Surabaya, Jawa Timur, 13 Mei 2019.
Sejumlah perempuan Muslim memegang lilin saat berlangsung refleksi setahun bom bunuh diri di halaman Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela Surabaya, Jawa Timur, 13 Mei 2019.
Yovinus Guntur/BeritaBenar

Desmonda Paramartha, perempuan yang mengalami luka di kaki dan punggung akibat bom bunuh diri di salah satu dari tiga gereja di Surabaya setahun lalu, tidak lagi menyimpan kemarahan.

“Saya sudah memaafkan semuanya,” kata mahasiswi 21 tahun yang membutuhkan waktu dua hingga tiga bulan untuk benar-benar pulih dari luka yang dialaminya.

Ia adalah salah satu dari ratusan orang dengan latar belakang suku, agama dan ras berbeda yang memenuhi halaman Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela (SMTB) Surabaya, Jawa Timur untuk mengenang korban peristiwa bom bunuh diri setahun yang lalu yang menyasar tiga gereja dan markas besar kepolisian di kota itu.

“Yang menguatkan saya yaitu dorongan keluarga, Romo, dan teman-teman sekitar untuk bisa menerima dan memaafkan pelakunya, karena tidak cepat memaafkan sama saja kita memberikan kesempatan pelaku untuk berbahagia, karena perbuatan mereka berjalan dengan lancar,” ujarnya, Senin malam itu, 13 Mei 2019.

“Ini momen pengingat bahwa peristiwa itu, telah membuat kami harus tetap bersama dengan latar belakang berbeda. Kami tidak merasa sendiri,” ujar Perwakilan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Abigail Susana yang menambahkan bahwa refleksi itu adalah pengingat bahwa kebersamaan di antara umat beragama sangat diperlukan dan keberagamaan serta saling menghormati harus selalu dijaga.

Satu keluarga beranggotakan enam orang – sepasang suami-istri dan empat anak melakukan serangan bom bunuh diri di tiga gereja berbeda saat misa pada 13 Mei setahun lalu. Selain pelaku, 14 warga sipil tewas dalam peristiwa itu. Keesokan harinya sebuah keluarga lainnya, sepasang suami istri dan tiga orang anaknya mengendarai dua sepeda motor meledakkan diri di Malporestabes Surabaya. Semua anggota keluarga itu tewas, kecuali seorang anak balita keluarga itu. Sejumlah polisi terluka dalam kejadian itu.

Peristiwa bom bunuh diri di Surabaya dengan melibatkan seluruh anggota keluarga itu bisa menjadi yang pertama kalinya di dunia, demikian kata analis terorisme yang juga direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), Sidney Jones.

Berdasarkan investigasi polisi, pelaku adalah anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD), jaringan militan yang telah berafiliasi dengan ISIS.

Rangkaian peringatan tragedi serangan bom bunuh diri itu dipusatkan di Gereja Katolik SMTB, yang diawali dengan bedah buku “130518”, kemudian dilanjutkan misa dan doa bersama lintas iman.

Mantan pastor Paroki SMTB, RD Kurdo Irianto, menambahkan peristiwa setahun lalu bukan kecelakaan, namun memberikan pesan yang harus selalu diingat.

“Memuji memuliakan Tuhan harus menghormati Allah dan bermuara pada martabat manusia,” imbuhnya.

Aktivis Gusdurian Jawa Timur, Aan Anshori, menyebut kejadian itu adalah cambuk untuk terus melawan intoleransi. Tragedi itu, ujarnya, bukan kedukaan bagi umat Katolik dan Kristen saja, melainkan kedukaan seluruh warga Jawa Timur dan Indonesia.

“Momentum 13 Mei ini untuk melakukan penguatan iman, melakukan perlawanan terhadap apapun yang berhubungan dengan intoleransi, radikalisme. Jangan sampai luka ini terulang kembali,” ujar pria yang kerap disapa Gus Aan.

Menurutnya, peristiwa 13 Mei tidak membuat hubungan antaragama dan kepercayaan di Surabaya menjadi buruk, justru sebaliknya, mereka semakin kuat dan saling bergandengan tangan untuk melawan siapapun yang berusaha memecah kerukunan umat.

“Pasca kejadian ini, kami semakin lebih sering berkunjung satu sama lain. Saling bertukar pikiran dan saling menjaga,” kata Aan.

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini memberikan apresiasi terhadap upaya yang dilakukan jaringan lintas iman untuk menjaga kerukunan beragama di Surabaya.

“Kami apresiasi itu, dan kami akan dukung sepenuhnya,” katanya.

Trauma

Kurdo Irianto yang saat peristiwa setahun lalu masih menjadi pastur Paroki di Gereja Katolik SMTB mengaku, setidaknya diperlukan waktu tiga sampai lima bulan untuk menghilangkan rasa trauma.

Itupun harus dilakukan dengan pendampingan dan penguatan dari berbagai pihak, terutama keluarga dan lingkungan terdekat.

“Saya kira dengan kebersamaan, rasa trauma akan menjadi lebih mudah hilang,” katanya.

Pendapat senada juga dikatakan Abigail Susana, yang mengatakan untuk mengatasi trauma, GPPS mengubah jadwal ibadah.

“Umat masih ada yang trauma dan bahkan tidak berani melihat CCTV saat kejadian. Dengan pertimbangan itu, kami mengubah jadwal ibadah menjadi sore hari,” tuturnya.

Foto para korban serangan bom bunuh diri setahun lalu dipajang dalam Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela Surabaya, Jawa Timur, 14 Mei 2019. (Yovinus Guntur/BeritaBenar)
Foto para korban serangan bom bunuh diri setahun lalu dipajang dalam Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela Surabaya, Jawa Timur, 14 Mei 2019. (Yovinus Guntur/BeritaBenar)

Tak mau ditemui

Bertepatan dengan peringatan setahun aksi bunuh diri di Surabaya, BeritaBenar mendatangi keluarga Tri Murtiono dan Tri Ernawati, pasangan suami-istri pelaku pengeboman di Mapolrestabes Surabaya, di Krukah Selatan, Jawa Timur.

Ketua RT setempat, Kukuh Santoso mengatakan, anak perempuan pasangan Tri Murtiono dan Tri Ernawati yang selamat, masih berada di tempat rehabilitasi di Jakarta di bawah pengawasan Kementerian Sosial bersama enam anak-anak pelaku lain.

“Itu yang bisa saya sampaikan, karena keluarga pelaku masih belum mau menerima orang asing, terutama dari media. Saya yang mendapat mandat untuk memberikan keterangan kepada media,” ujarnya.

Menurut Kukuh, keluarga besar pelaku yang tinggal di Krukah berhubungan baik dengan lingkungan sekitar dan bersikap terbuka serta aktif dalam kegiatan warga.

Peristiwa bom yang mengguncang Surabaya selama dua hari pada tahun lalu itu mengakibatkan 24 orang, termasuk 10 pelaku, tewas dan puluhan lainnya luka-luka.

Beberapa jam setelah pemboman di tiga gereja itu, sebuah bom meledak di sebuah rumah susun di Sidoarjo, Jawa Timur, menewaskan sepasang suami-istri dan seorang anaknya. Keluarga yang tewas tersebut dilaporkan juga merupakan anggota JAD. Peristiwa bom di Surabaya itu terjadi beberapa hari setelah aksi kerusuhan di Mako Brimob Depok Jawa Barat yang dilakukan oleh para tahanan dan narapidana terorisme. Lima polisi dan seorang tahanan tewas dalam peristiwa itu.

Rangkaian bom bunuh diri di Surabaya itu memicu segera disahkannya revisi Undang-Undang (UU) Antiterorisme, yang kini memberikan kewenangan lebih kepada aparat dalam penanganan terorisme.

Ratusan terduga teroris yang disebut bagian dari JAD telah ditangkap aparat kepolisian di sejumlah wilayah di Indonesia pasca pengeasahan UU itu. Beberapa di antara mereka sedang menjalani proses persidangan di pengadilan.

Dalam perkembangan terbaru, tim Densus 88 Antiteror menangkap seorang terduga teroris di Pasar Caruban, Madiun, Jawa Timur, Selasa pagi, 14 Mei 2019.

Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes. Pol. Frans Barung Mangera ketika dikonfirmasi membenarkan penangkapan tersebut.

“Saya membenarkan, namun ini masuk ranahnya Densus,” ujarnya singkat.

Barung belum memberikan informasi lebih lanjut terkait jaringan dan peran terduga teroris yang ditangkap itu.

Tampilan selengkapnya