Follow us

10 Jam Berunding Gagal, Istri Terduga Teroris di Sibolga Pilih Ledakkan Diri

Meledakkan diri bersama anak seperti istri Husain adalah kasus kedua di Indonesia setelah aksi pemboman di Surabaya, Mei 2018.
Arie Firdaus
Jakarta
2019-03-13
Email
Komentar
Share
Polisi bersiaga di dekat rumah terduga teroris di Sibolga, Sumatra Utara, 13 Maret 2019.
Polisi bersiaga di dekat rumah terduga teroris di Sibolga, Sumatra Utara, 13 Maret 2019.
AP

Setelah berunding dan dibujuk untuk menyerahkan diri selama sekitar sepuluh jam, istri terduga teroris Husain alias Abu Hamzah, akhirnya meledakkan diri.

Ia disebut meledakkan diri bersama seorang anaknya yang berusia dua tahun di dalam kamar rumah berlokasi di Jalan Cendrawasih, Kelurahan Pancuran Bambu, Kecamatan Sibolga Sambas, Kota Sibolga, Sumatera Utara, sekitar pukul 1:30 WIB, Rabu, 13 Maret 2019.

"Kami mendapatkan informasi bahwa istrinya meledakkan dirii," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo, seperti dikutip di The Jakarta Post.

"Sekarang evakuasi tubuh-tubuhnya sudah dilakukan ke Rumah Sakit Sibolga," kata Dedi kepada BeritaBenar, Rabu sore.

Namun, Dedi tidak merinci identitas istri dan anak Husain yang meninggal dunia tersebut.

Dedi hanya menambahkan bahwa keluarga Husain meledakkan diri dengan bom rakitan berbentuk pipa yang terdiri dari potasium, baut, paku, dan pecahan kaca.

"Bom serupa dengan yang ditemukan di Lampung, pekan lalu," tambah Dedi.

Adapun Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara, Inspektur Jenderal Agus Andrianto, mengatakan petugas menemukan potongan tubuh yang diduga istri Husain terlempar cukup jauh dari titik ledakan.

"Sekitar 70 meter," ujarnya seperti dilansir laman Detik.com.

"(Anak) belum lihat jasadnya. Kalau potongan tubuh diduga istrinya, ada."

Dedi menambahkan bahwa aparat kepolisian mengamankan beberapa bom rakitan dari rumah Husain.

Presiden Joko "Jokowi" Widodo, yang dijadwalkan akan berkunjung ke Sibolga hari Minggu mengatakan insiden tersebut tidak ada hubungannya dengan Pemilu 17 April nanti.

"Kita mengapresiasi kerja keras Polri terutama Densus 88 yang telah membuka dan menangkap jaringan yang ada di Sibolga dan tempat lain," kata Jokowi di depan awak media di Jakarta.

Dedi mengatakan Presiden akan tetap berkunjung ke Sibolga seperti yang dijadwalkan walaupun ada insiden tersebut.

Sosok radikal

Sebelum meledakkan diri pada Rabu dini hari, kepolisian bersama tokoh agama dan masyarakat setempat berusaha membujuk istri Husain agar menyerah, namun ia bergeming.

"Ya, termasuk Abu Hamzah sempat menyampaikan imbauan kepada istrinya. Tapi dia menyampaikan kepada petugas, istrinya lebih kuat terpapar paham ISIS dibanding dia sendiri," jelas Dedi.

Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian dalam keterangan kepada wartawan di Medan, Sumatera Utara, pada Selasa malam, menggambarkan istri Husain memang tergolong radikal sehingga negosiasi berlangsung alot.

Paham radikal itu, lanjut Tito, didapat dari afiliasi keluarga Husain dengan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Hanya saja, Kapolri tidak memerinci sejauh mana koneksi mereka dengan ISIS.

Yang pasti, tambahnya, "Kelompok ini sudah dijajaki Densus. Berafiliasi kepada pendukung ISIS dan hasil pengembangan yang dilakukan di Lampung."

Jaringan Lampung yang disebut Tito merujuk kepada RIN alias Putra Syuhada yang ditangkap pada Sabtu pekan lalu di Jalan Sam Ratulangi, Kelurangan Penengahan Raya, Kecamatan Kedaton, Bandar Lampung.

RIN yang ditangkap setelah dilaporkan keluarganya, dikatakan berniat melancarkan teror di sejumlah markas kepolisian di Jakarta.

Polisi menemukan bom rakitan saat melakukan penggeledahan rumah RIN.

Sehari setelah penangkapan RIN di Lampung, polisi juga menangkap terduga teroris berinisial P di Pontianak, Kalimantan Barat dan menemukan sejumlah barang bukti seperti potongan paku, baut, dan kaleng.

Serupa dengan RIN, P juga dikatakan berencana melancarkan teror ke markas-markas kepolisian.

Total, Densus 88 Polri telah menangkap lima terduga teroris dalam sepekan terakhir.

Selain RIN, P, dan Husain, dua terduga teroris lain juga ditangkap di Sibolga.

Baik Tito maupun Dedi, tak merinci identitas keduanya.

"(Dua terduga lain) hasil pengembangan penangkapan Husain. Jaringan JAD (Jamaah Ansharut Daulah) yang berafiliasi dengan ISIS," ujar Tito.

Kantor berita Antara mengutip sumber di Polres Sibolga menyebutkan bahwa identitas kedua orang yang ditangkap pada pukul 16:30 WIB, Selasa, adalah Asmir Khoir alias Ameng dan Halinah.

Orang baru

Husain sebelumnya ditangkap Densus 88 Polri pada Selasa siang, saat berada di luar rumah, sekitar pukul 14.23 WIB.

Guna penyelidikan lebih lanjut, ia kemudian dibawa ke kediamannya.

Namun tatkala baru mencapai halaman rumah, sebuah bom meledak dan melukai seorang anggota polisi dan seorang warga.

Menurut pengamat terorisme dari Universitas Indonesia, Ridlwan Habib, Husain sebenarnya tergolong orang baru dalam jejaring JAD – kelompok yang telah dibubarkan pada Juli 2018.

"Sejak satu tahun yang lalu bergabung," kata Ridlwan saat dihubungi.

Perkenalan dengan paham radikal ini, terang Ridlwan, didapat Husain lewat mantan narapidana terorisme jaringan JAD Riau.

Namun, ia menolak menyebutkan identitas eks-narapidana tersebut.

"Jaringan yang terlibat dalam bom Mapolda, Riau kemarin," tambah Ridlwan, merujuk peristiwa Mei 2018.

"Dari sana juga ia belajar merakit bom. Tapi ia belum pernah 'idad (latihan militer) dan ke Suriah. Orang baru ini, tapi terkait jaringan lama."

Mengenai keputusan istri Husain yang meledakkan diri bersama anak di dalam rumah saat diminta menyerahkan diri, Ridlwan mengaku tak begitu terkejut lantaran penetrasi paham radikal memang dapat mencuci otak para penganutnya.

"Kalau sudah tercuci otak, memang bisa sampai begitu," lanjutnya.

Kasus orang tua yang meledakkan diri bersama anak --seperti istri Husain, merupakan kasus kedua di Indonesia, setelah rangkaian bom bunuh diri dua keluarga di Surabaya pada Mei tahun lalu.

Sebanyak 28 orang termasuk 13 pelaku yang berasal dari tiga keluarga teroris, terbunuh dalam aksi bom di Surabaya,

"Jadi ini yang kedua (meledakkan diri bersama anak). Saya tidak mengira apakah masih akan ada yang seperti ini di masa mendatang," pungkasnya.

Tampilan selengkapnya