Follow us

Bertahan dari Serangan Penyakit di Tenda Pengungsian

BNPB: Seminggu pascagempa, bantuan berdatangan tetapi belum semua korban bisa menerimanya karena infrastruktur yang rusak.
Keisyah Aprilia
Sigi, Sulteng
2018-10-05
Email
Komentar
Share
Relawan kesehatan memeriksa warga di posko pengungsian Desa Langaleso, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, 5 Oktober 2018.
Relawan kesehatan memeriksa warga di posko pengungsian Desa Langaleso, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, 5 Oktober 2018.
Keisyah Aprilia/BeritaBenar

Bergantian mereka masuk ke dalam tenda berukuran 3 x 3 meter. Warga lain antre di luar.

Ada yang berjalan lemas, harus dipapah, bahkan ada yang digendong ke dalam tenda.

Seminggu sudah warga Desa Langaleso di Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, bertahan di tempat pengungsian setelah rumah mereka dihantam gempa dan luapan lumpur, Jumat pekan lalu.

Tidak terlihat tanda-tanda kehidupan ekonomi bagi 600 lebih Kepala Keluarga (KK) di desa yang dikenal sebagai penghasil sayur dan buah-buahan itu.

Belum hilang dari trauma akibat bencana dahsyat yang menyebabkan puluhan warga desa hilang, kini mereka harus melawan penyakit yang mulai menyerang pengungsi.

“Baru dua jenazah ditemukan, sisanya tidak tahu bagaimana nasib mereka,” kata Ros Wati (40), seorang warga.

Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto mengatakan korban jiwa dari gempa dan tsunami Jumat minggu lalu itu telah mencapai 1.658 orang. Sementara itu 683 orang dinyatakan hilang, peningkatan tajam dari sebelumnya yang dilaporkan 113 orang hilang.

Lebih dari 1000 warga yang tinggal di Balaroa, Palu, masih hilang setelah rumah mereka “ditelan” lumpur dalam gempa itu, demikian kata Yusuf Latief, ketua Basarnas.

Ros mengaku, sudah tiga hari terserang penyakit gatal-gatal.

“Terakhir saya dikasih obat dua hari lalu, tapi belum ada perubahan,” ungkapnya seraya memperlihatkan tangan kanan yang dipenuhi bercak merah.

Keluhan juga disampaikan Saripah (42). Ia mengatakan terserang diare sejak empat hari tinggal di tempat pengungsian.

“Di sini bukan saya saja yang kena diare, karena banyak keluhan warga terkena diare,” jelas Saripah. Gatal-gatal dan diare memang penyakit yang menyerang pengungsi. Selain itu penyakit (ISPA) banyak menyerang anak-anak.

“Anak saya dua orang kena ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas), mungkin karena debu-debu yang bertebaran di posko ini,” imbuh Nur Fida (36) seorang perempuan lainnya, seusai menemani kedua anaknya berobat.

Kekurangan obat-obatan

Menjadi satu-satunya tim relawan medis yang berhasil masuk ke desa itu, membuat Kimia Klinik dan Bid Dokkes Polda Sulawesi Tenggara kewalahan melayani keluhan warga di Desa Langgaleso.

Meski di tenda itu terdapat lima dokter, dua perawat dan sejumlah relawan non-medis, mereka tetap kesulitan melayani karena 70 hingga 100 warga setiap hari berobat.

“Dari semua pasien yang berobat rata-rata mengeluhkan penyakit gatal-gatal, diare, dan ISPA,” terang Koordinator Relawan Kimia Klinik, dr Ortopedi Muhammad Rustam.

Dia menyebutkan, tim medis di posko pengungsian itu memang tak bisa berbuat banyak karena keterbatasan peralatan dan obat-obatan.

“Yang pasti kami maksimal memberi pelayanan kepada seluruh warga yang mengungsi di sini. Kekurangan memang ada, namun mau bagaimana lagi keadaannya sudah seperti ini,” imbuh Rustam.

Warga mengantre bantuan di Desa Langaleso, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, 5 Oktober 2018. (Keisyah Aprilia/BeritaBenar)
Warga mengantre bantuan di Desa Langaleso, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, 5 Oktober 2018. (Keisyah Aprilia/BeritaBenar)

 

Dokter lainnya di klinik tersebut, dr Sudarman menambahkan bahwa kurang bersihnya lingkungan menjadi penyebab diarea dan sakit kulit yang diderita.

Sedangkan penyakit ISPA, lanjutnya, karena kondisi posko dipenuhi debu akibat luapan lumpur masuk ke lingkungan pemukiman warga.

“Kami menduga semua itu penyababnya. Namun ada juga beberapa keluhan dari warga karena sakit bawaan, seperti diabetes dan asam urat,” ungkap Sudarman.

Sudarman mengaku, selain obat-obatan, warga yang mengungsi di Langgaleso juga perlu mengonsumsi makanan yang terjamin kebersihannya.

“Termasuk masker juga sangat perlu untuk menghalau debu,” ujarnya. 

Bantuan telah masuk ke posko pengungsian di desa itu, namun belum cukup, demikian kata seorang warga, Siti Aisyah.

“Di sini ada banyak bayi, tetapi bantuan untuk mereka tidak ada. Terpaksa anak-anak di sini makan dan minum persediaan yang ada saja,” ujarnya.

Sementara itu tiga dokter dan enam perawat dari LSM internasional Project HOPE telah bekerja di Puskemas Dolo dalam dua hari terakhir. Walaupun bangunannya tidak runtuh, namun karyawan di puskesmas itu belum kembali bekerja, banyak yang masih trauma, kata Alia Artanti, seorang dokter yang bekerja dengan LSM tersebut.

"Kami menerima 70 pasien kemarin dan 60 pasien hari ini," katanya.

Dengan listrik yang belum masuk, pekerja harus bergantung pada generator, tetapi bahan bakar langka, ujar Alia.

Salat bersama

Di Kabupaten Donggala, salah satu daerah yang paling parah terkena bencana, sekelompok warga tampak berbondong-bondong ke masjid, yang sebagian rusak, untuk melakukan salat isya.

"Alhamdulillah listrik kembali," kata imam Ilham Kawaroe, mengenakan kopiah putih.

"Setelah gempa hanya satu baris terisi, tetapi sekarang masjid ini sudah hidup kembali," katanya.

Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC), mengatakan bahwa di Banawa, di Kabupaten Donggala, setiap rumah di sepanjang garis pantai tersapu habis oleh tsunami.

"Tim kami menggambarkan Banawa sebagai daerah yang terkena dampak paling buruk sejauh ini," kata IFRC.

"Para korban telah dievakuasi atau telah mengungsi secara mandiri - ke perbukitan, di mana mereka membutuhkan perawatan kesehatan, tenda, selimut, makanan bayi, dan popok," katanya.

Bencana gempa dan tsunami pada 28 September itu telah mengharuskan lebih dari 70.000 mengungsi demikian menurut BNPB, walaupun PBB memperkirakan bahwa sekitar 200.000 orang membutuhkan bantuan darurat kemanusiaan.

Seminggu pascagempa bantuan tersebut hampir mencapai semua wilayah yang terdampak gempa.

"Bantuan terus datang tetapi tidak semua pengungsi menerima bantuan dengan baik karena infrastruktur yang rusak," kata jurubicara BNPB, Sutopo Nugroho.

"Semua pihak berusaha memperbaiki ini," katanya.

Ahmad Syamsudin di Jakarta turut berkontribusi dalam laporan ini.

Tampilan selengkapnya