Follow us

Di Tengah Ancaman Virus Korona, Festival Cap Go Meh Singkawang Meriah

Saling menghormati antar warganya, menyebabkan kota dengan mayoritas etnis Tionghoa ini mendapat predikat Kota Toleran.
Ismira Lutfia Tisnadibrata
Singkawang
2020-02-10
Email
Komentar
Share
Seorang Tatung membawa dupa saat menjalani ritual cuci jalan di depan Vihara Tri Dharma Bumi Raya (7/2/2020) dalam rangkaian perayaan Cap Go Meh di Singkawang, Kalimantan Barat.
Seorang Tatung membawa dupa saat menjalani ritual cuci jalan di depan Vihara Tri Dharma Bumi Raya (7/2/2020) dalam rangkaian perayaan Cap Go Meh di Singkawang, Kalimantan Barat.
Ismira Lutfia Tisnadibrata/BenarNews

Dalam kostum warna-warni khas Tionghoa dan Dayak, ratusan orang berjalan kaki dengan muka dan lidah yang ditusuk berbagai benda tajam, tanpa memperlihatkan rasa sakit atau darah yang menetes.

Festival Cap Go Meh yang ditutup dengan parade Tatung di Singkawang, Kalimantan Barat, berlangsung meriah hari Sabtu, 8 Februari 2020 di tengah kekawatiran penurunan jumlah wisatawan yang datang karena penyebaran virus corona di kota yang mayoritas penduduknya adalah keturunan Tionghoa.

Ancaman virus corona sempat ditakuti akan mengurangi kemeriahan Cap Go Meh, yang menandai 15 hari pertama di bulan pertama tahun baru Imlek, terutama kedatangan turis-turis dari Cina dan dari diaspora Cina di negara-negara tetangga.

“Tim sudah melakukan cek langsung di lapangan untuk memeriksa kesehatan warga negara asing yang menginap di hotel-hotel di Singkawang,” ujar Walikota Singkawang, Tjhai Chui Mie.

“Kegiatan ini akan terus kami lakukan untuk mengantisipasi supaya virus corona tidak masuk Singkawang,” ujar Tessar, kepala kantor imigrasi Singkawang.

Willy, seorang tour leader dari Sentosa Tour, salah satu biro perjalanan di Pontianak, mengatakan bahwa tidak ada pembatalan reservasi tur ke Singkawang.

“Memang sempat ada tamu dari luar negeri yang bertanya-tanya mengenai itu, tapi tidak sampai membatalkan reservasi mereka,” ujarnya kepada BenarNews.

Selain itu, pemerintah provinsi bersama imigrasi juga mengantisipasi datangnya turis yang mungkin terinfeksi virus corona dengan memperketat pengawasan kedatangan internasional di Bandara Supadio Pontianak dan mereka yang masuk ke Kalimantan Barat melalui perbatasan Aruk, yang merupakan pintu masuk jalan darat ke Indonesia melalui Sambas dari Kampung Biawak di Sarawak, Malaysia.

Salah satu Tatung peserta pawai memperlihatkan kekebalan tubuhnya yang ditusuk benda-benda tajam saat berjalan melewati salah satu jalan utama di Singkawang dengan latar belakang Masjid Raya Singkawang. (Ismira Lutfia Tisnadibrata/BenarNews)
Salah satu Tatung peserta pawai memperlihatkan kekebalan tubuhnya yang ditusuk benda-benda tajam saat berjalan melewati salah satu jalan utama di Singkawang dengan latar belakang Masjid Raya Singkawang. (Ismira Lutfia Tisnadibrata/BenarNews)

Kota toleran

Daerah yang dikenal sebagai Kota Seribu Kelenteng ini menunjukkan dalam perayaan Cap Go Meh bahwa predikat kota paling toleran di seluruh Indonesia versi Setara Institute di tahun 2018 memang pantas disandangnya.

Dua rumah ibadah yang lokasinya berdekatan dan menjadi ikon kota ini, Vihara Tri Dharma Bumi Raya dan Masjid Raya Singkawang, tetap menjalankan kegiatan ibadah dan ritualnya masing-masing tanpa ada saling bersinggungan.

Parade Tatung, atau orang yang dimasuki roh dewa atau leluhur dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa setempat dan menjadi ciri khas perayaan Cap Go Meh di Singkawang, terus berjalan ketika melewati persimpangan vihara dan masijd raya, walau peserta parade berhenti membunyikan gendang loku, gong, dan bel, yang mengiringi para tatung dalam ritualnya saat masjid mengumandangkan azan dzuhur di Sabtu siang itu.

Menteri Agama Fachrul Razi menyatakan apresiasinya akan kerukunan umat beragama di Singkawang.

“Setiap perayaan agama sebaiknya disikapi sebagai momen untuk lebih meningkatkan dan mengokohkan hubungan antar umat beragama, memperkuat hubungan beragama,” ujar Fachrul dalam sambutannya ketika membuka secara resmi parade Tatung yang menjadi puncak perayaan Cap Go Meh.

Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji mengatakan predikat kota paling toleran di Indonesia dapat menjadi modal bagi pembangunan di Singkawang, yang berjarak 152 kilometer dari Pontianak, ibu kota provinsi Kalimatan Barat dan wilayahnya di bagian barat berhadapan langsung dengan Laut Natuna.

“Toleransi dan kebersamaan serta harmoni merupakan sebuah kunci keberhasilan dalam melaksanakan pembangunan," katanya.

Sebanyak 847 tatung dari Singkawang, dan kota-kota tetangga seperti Pontianak, Sungai Pinyuh, Bengkayang, dan Pemangkat dan 11 tatung dari Malaysia dan Australia ikut serta dalam perayaan Cap Go Meh tahun ini.

Para pemandu altar dari salah satu klenteng peserta pawai Tatung memegang erat altar yang mereka bawa yang bergerak sendiri saat melewati podium utama di parade Tatung, festival Cap Go Meh di Singkawang (8/2/2020). (Ismira Lutfia Tisnadibrata/BenarNews).
Para pemandu altar dari salah satu klenteng peserta pawai Tatung memegang erat altar yang mereka bawa yang bergerak sendiri saat melewati podium utama di parade Tatung, festival Cap Go Meh di Singkawang (8/2/2020). (Ismira Lutfia Tisnadibrata/BenarNews).

Kekebalan

Ratusan tatung, diawali dengan tarian naga dan barongsai, berkeliling kota memperlihatkan kekebalan tubuh mereka yang dipercaya dimasuki roh dewa atau arwah nenek moyang.

Tanpa rasa sakit, mereka berjalan kaki dengan muka dan lidah yang ditusuk berbagai besi tajam menembus dari satu pipi ke pipi lainnya, atau ditandu sambil berdiri atau duduk di atas puluhan paku dan benda-benda tajam lainnya dan menusukkan pisau atau pedang ke tubuh mereka.

Setiap rombongan tatung mewakili berbagai kelenteng yang ada di Singkawang dan wilayah sekelilingnya, dan satu rombongan tatung umumnya juga menandu setidaknya satu altar persembahan yang ada di kelenteng masing-masing dan membawa jelangkung yang dipercayai sebagai tempat titisan roh arwah.

Mereka terlihat berusaha memegang dengan erat altar dan jelangkung yang mereka bawa, yang bergerak sendiri karena dipercayai sudah dimasuki roh dewa atau arwah leluhur.

Perayaaan Cap Go Meh di Singkawang telah mulai sejak 23 Januari. Satu hari menjelang puncak perayaan, ratusan tatung menggelar ritual cuci jalan dengan berkeliling dan mengunjungi berbagai kelenteng dan rumah peribadatan yang ada di kota, termasuk Vihara Tri Dharma Bumi Raya di pusat kota.

Hujan yang mengguyur siang hari itu (7 Feb) tidak mengurangi antusias ribuan pengunjung yang memadati halaman vihara untuk melihat para tatung yang datang silih berganti sepanjang hari

“Sebagai bentuk penghormatan satu sama lain, kami berkunjung ke kelenteng-kelenteng yang ada di sekitar kita, begitu juga tatung dari kelenteng lain datang berkunjung ke kelenteng kami, dan tentunya ke Vihara Tri Dharma Bumi Raya sebagai kelenteng tertua di sini,” ujar Hellen Chia, yang merupakan anggota keluarga tatung dari kelenteng Tho Fab Kiung di Singkawang Barat.

Hellen mengatakan kepada BenarNews dalam wawancara di kelenteng keluarganya bahwa dirinya bukanlah seorang tatung, namun kakak dan adiknya adalah generasi keempat tatung di keluarga mereka. Ayah mereka, yang sudah berusia 80 tahun, juga seorang tatung namun sudah empat tahun terakhir tidak ikut pawai tahunan.

Setiap tatung dijaga oleh beberapa pendamping yang membawa dupa dan memercikkan air suci sepanjang jalan sambil mengiringi perjalanan mereka keliling kota dengan tabuhan loku dan membunyikan gong serta lonceng.

Dian Halidi, turis domestik dari Sumbawa Besar, Pulau Sumba, datang ke Singkawang untuk melihat sendiri aksi tatung saat Cap Go Meh yang selama ini diketahuinya dari berbagai media.

“Ternyata benar (seperti yang ada di media) dan mereka mempraktekkan toleransi antar umat beragama, dengan berhenti saat dzhuhur. Saya rasa kita bisa mencontoh masyarakat Kalimantan Barat soal keberagaman,” ujarnya kepada BenarNews di depan vihara Tri Dharma Bumi Raya.

Tampilan selengkapnya