Follow us

Ijtima Ulama Batal, Interaksi Peserta dan Warga Diminimalisir

Korban meninggal di Indonesia capai 19, terbesar di Asia Tenggara.
Tia Asmara
Jakarta
2020-03-18
Email
Komentar
Share
Petugas melakukan penyemprotan disinfektan di Masjid Al Akbar di tengah kekhawatiran akan wabah COVID-19, di Surabaya, 17 Maret 2020.
Petugas melakukan penyemprotan disinfektan di Masjid Al Akbar di tengah kekhawatiran akan wabah COVID-19, di Surabaya, 17 Maret 2020.
AP

Acara Ijtima Ulama Dunia 2020 Zona Asia di Gowa, Sulawesi Selatan, akhirnya resmi dibatalkan di tengah kekhawatiran wabah COVID-19, namun ribuan peserta acara tersebut telah tiba di lokasi acara yang rencananya dibuka Kamis (19/3/2020) .

"Setelah berkoordinasi dengan Kapolri serta Kapolda Sulsel dan Bupati Gowa sepanjang malam ini, acara ljtima Jamaah Tabligh yang akan berlangsung besok (Kamis) resmi kita batalkan," ujar Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah, lewat akun instagram miliknya.

Acara Ijtima Ulama Dunia 2020 Zona Asia tersebut sempat menjadi polemik lantaran ratusan kasus positif COVID-19 di sejumlah negara di Asia ditelusuri berasal dari kegiatan serupa di Malaysia beberapa minggu sebelumnya.

Dalam akun tersebut Nurdin menjelaskan bahwa sejak awal acara tersebut telah diminta untuk ditunda demi mencegah wabah virus corona.

"Namun ternyata panitia lokal tetap melaksanakan acaranya sehingga ribuan peserta dari sejumlah daerah di Indonesia dan ratusan dari luar negeri terlanjur hadir melalui pelabuhan dan bandara," ujar Nurdin.

Nurdin mengatakan pihak kepolisan akan membantu meminimalisir interaksi para peserta dengan warga di sekitar lokasi acara

"Selanjutnya kita akan mengantar mereka pulang ke pelabuhan dan bandara dengan pengamanan yang dibutuhkan," ujar Nurdin.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) seperti dikutip CNN mengatakan lebih dari 8.000 orang termasuk peserta dari negara-negara Asia lainnya telah tiba di Gowa.

Pemerintah Gowa pada hari Senin mengeluarkan permintaan resmi kepada penyelenggara untuk menunda pertemuan, untuk menghindari penyebaran COVID-19.

“Kami lebih takut kepada Tuhan,” ujar seorang penyelenggara, Mustari Bahranuddin, seperti dikutip di Reuters.

''Karena semua orang manusia, kita takut penyakit, kematian. Tapi ada sesuatu yang lebih penting sekedar tubuh, yaitu jiwa,'' ujarnya.

Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh jamaah Tabligh Ijtima Dunia yang juga menyelenggarakan Tabligh Akbar di Masjid Sri Petaling, Malaysia pada 27 Februari hingga 1 Maret 2020.

Lebih dari 50 persen dari total 790 infeksi virus corona di Malaysia ditelusuri berasal dari acara Tabligh Akbar tersebut.

Peserta dari Indonesia, Singapura, Brunei, Kamboja dan Thailand dilaporkan terinfeksi dari acara tersebut.

Kementerian Luar Negeri Indonesia (Kemlu) mengatakan hampir 700 orang Indonesia berpartisipasi dalam acara di Malaysia itu, tiga di antaranya dinyatakan positif COVID-19 di Malaysia dan kini dirawat di sana.

Kemlu mengatakan sedang menelusuri keberadaan yang lain.

Malaysia yang kini menjadi negara dengan kasus terbanyak COVID-19 di Asia Tenggara dengan 790 penderita, akhirnya menetapkan lockdown di negara tersebut, dan membatalkan semua acara ibadah berjamaah hingga 31 Maret 2020.

19 kematian

Hingga Rabu (18/3/2020) jumlah kematian akibat virus corona di Indonesia melonjak menjadi 19 orang dan jumlah kasus positif terkonfirmasi bertambah menjadi 227.

“Ada penambahan 55 kasus sehingga posisi akumulatif menjadi 227 orang positif terinfeksi, 11 sembuh dan 19 orang meninggal dunia,” kata Yurianto.

Yurianto menjelaskan adanya pelonjakan angka yang meninggal dunia dari tujuh pada Selasa malam menjadi 19 orang dikarenakan adanya masalah dalam pendataan. Angka kematian ii menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara.

Angka meninggal dunia tersebar di Bali (1), Banten (1), DKI Jakarta (12), Jawa Barat (1), Jawa Tengah (2), Jawa Timur (1), Sumatera Utara (1).

Sementara 55 kasus baru tersebut tersebar dari beberapa daerah seperti Banten (4), Yogyakarta (1), DKI Jakarta (30) Jabar (12), Jateng (2), Sumatera Utara (1) Lampung (1), Riau (1), Kalimantan Timur (1), dan dua positif lainnya ditemukan dari proses penyidikan kemandirian sendiri.

Sebelas orang sembuh tersebar dari Banten (1), Jakarta (9) dan Jawa Barat (1).

“Akan ada gambaran naik dan semoga tidak terjadi terlalu panjang, April semoga sudah terkendali,” kata dia.

Tes masal

Yurianto menambahkan pemerintah sedang mengupayakan rapid tes (tes masal) seperti yang dilakukan negara lain dengan melakukan tes darah.

“Bukan lapisan tenggorokan, salah satu keuntungan tidak butuh biosecurity level 2 hanya masalahnya imunoglobulin butuh reaksi dari yang sudah terinfeksi selama seminggu,” kata dia.

Ia menambahkan bahwa dua jaring lab swasta menyatakan sanggup untuk pengetesan pribadi diantaranya lab jaringan rumah sakit Siloam dan Bunda.

“Dengan cara ini deteksi dini dapat dilaksanakan dengan maksimal, komitmen tinggi untuk digunakan dapat pelayanan COVID-19, dengan cara sarana dan prasarana dan pengambilan sample,” kata dia

Ia mengatakan 71 petugas medis yang sebelumnya kontak dengan kasus pertama dinyatakan sehat.

Kekurangan ruangan

Direktur Utama RS Sulianti Saroso, Mohammad Syahril, mengatakan pihaknya akan menambah 15 ruangan yang akan ditujukan untuk menerima pasien Covid-19 karena terbatasnya ruangan dibandingkan dengan jumlah pasien yang ada.

“Kami akan mengupayakan supaya bisa satu ruangan diisi dengan dua pasien karena terbatasnya fasilitas dan ruangan yang tersedia di RS,” kata dia.

Selain itu, ia juga meminta penambahan dokter umum yang bertugas di posko 24 jam pemeriksaan awal COVID-19.

“Kami meminta bantuan untuk menambah alat pelindung diri kepada pemerintah pusat mengingat akan ditambahnya ruangan-ruangan untuk merawat pasien COVID-19.”

Gagap

Anggota DPR Komisi 1, Sukamta mengatakan pemerintah terkesan gagap dalam menghadapi pelonjakan kasus pandemi virus corona di Indonesia.

"Sampai hari ini pemerintah belum memiliki skema jelas dalam penanganan wabah Corona. Kami mendapatkan informasi dari masyarakat di berbagai daerah banyak yang mengeluh, bingung dan semakin khawatir akibat tidak mendapatkan pelayanan secara aman dan meyakinkan ketika merasa ada indikasi terpapar.

Pemerintah juga dikritik karena menurutnya tidak memperhatikan nasib petugas medis yang berpotensi tertular.

“Perlengkapan bagi tenaga medis yang tidak memadai dari segi jenis maupun jumlahnya akan membahayakan tenaga medis. Bisa jadi mengubah status dari penolong menjadi korban,” kata dia.

Kepala Gugus Tugas Penanganan COVID-19, Doni Monardo meminta semua pihak untuk menghentikan perdebatan teori dalam menyelesaikan wabah virus corona di Indonesia.

“Yang terpenting saat ini adalah membuat masyarakat paham dengan apa yang terjadi dan bagaimana antisipasi ke depan yaitu dengen bersatu dan saling menjaga satu sama lain,” kata dia.

Kerahkan hotel untuk isolasi

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, mengatakan akan mengerahkan 65 RS milik BUMN dan hotel untuk menyediakan ruang isolasi.

“RS Pertamina Jaya akan mengkoordinir termasuk hotel Patra Jaya yang telah disiapkan,” kata Luhut.

Mengunjungi Gudang Bulog di Kelapa Gading, Presiden Joko Widodo memastikan ketersediaan bahan kebutuhan pokok memadai untuk kebutuhan masyarakat.

Presiden Jokowi kemudian berkeliling gudang beras tersebut dan meninjau kualitas dari stok beras yang siap didistribusikan oleh Bulog.

“Langsung keluarkan ini (beras) ya operasi pasar,” kata Presiden.

Virus yang pertama kali terdeteksi di China ini, kini telah menjangkiti 159 negara di seluruh dunia menyebabkan lebih dari 8.000 orang meninggal dunia dan lebih dari 200.000 orang terinfeksi.

Setelah Cina, beberapa negara telah memutuskan lockdown seperti Malaysia, Singapura, Italia, Denmark dan Spanyol.

Tampilan selengkapnya