Follow us

Aktivis Kemanusiaan Solo Terima Penghargaan PBB

Kusumasari Ayuningtyas
Solo
2017-12-29
Email
Komentar
Share
Sumartono Hadinoto saat ditemui di Solo, Jawa Tengah, 28 Desember 2017.
Sumartono Hadinoto saat ditemui di Solo, Jawa Tengah, 28 Desember 2017.
Kusumasari Ayuningtyas/BeritaBenar

Senyum seakan tak pernah lepas dari keseharian Sumartono Hadinoto. Berpembawaan ceria dan seolah tanpa beban sehingga bagi yang tak mengenalnya tidak menyangka dia memiliki tanggung jawab luar biasa.

Pria keturunan Tionghoa yang mempunyai dua cucu ini nyaris tak pernah lepas dari dua telepon pintar berkartu ganda.

“Dua-duanya menyala 24 jam, saya harus siap dengan panggilan darurat kapan pun,” ujarnya.

Sumartono (61) telah mengabdikan lebih dari separuh hidupnya untuk kemanusiaan. Dia hampir selalu menjadi orang pertama tiba di lokasi ketika terjadi bencana di Kota Solo, Jawa Tengah.

Tak berhenti di situ, dia juga akan menjadi orang pertama yang mengabari semua pihak dan berkoordinasi untuk memberi bantuan saat terjadi bencana di Kota Solo.

Sumartono mengaku senang melakukan semua perannya meski tak mendapat bayaran dan justru seringkali merogoh uang dari kantongnya pribadi untuk kemanusiaan.

Pemilik CANDI Group, perusahaan yang bergerak di beberapa sektor, ini lebih dikenal sebagai aktivis sosial daripada pengusaha karena waktunya justru banyak dihabiskan untuk membantu sesama.

Ketika ditemui BeritaBenar, Kamis, 28 Desember 2017, Sumartono sedang berkantor di Radio Metta FM, perusahaan yang didirikan bersama 200 pengusaha dan hasilnya untuk amal. Tidak ada jarak antara dia dan karyawannya.

“Bapak tak pernah pilih-pilih dalam bergaul, baik pada semua orang, selalu tersenyum, tapi tetap tegas,” ujar General Manager Radio Rama Metta, Tika Susilowati.

Bermanfaat bagi sesama memang keinginan Sumartono yang menjadi pengurus inti dari belasan organisasi sosial, termasuk Sekretaris Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Solo.

“Dedikasinya tak diragukan lagi, kinerjanya sangat baik, dia bersih dan ide-idenya sangat brilian,” ujar Susanto Tjokrosoekarno, Ketua PMI Solo.

Titik balik

Sumartono yang memiliki nama Tionghoa sebagai Khoe Liong Hauw ini harus mengubur mimpinya untuk bersekolah di Belanda saat ayahnya meninggal ketika ia duduk di SMP. Dia harus bekerja keras membantu ibunya menjual batik.

Usaha mereka tak berkembang sesuai harapan sehingga Sumartono harus bersekolah sampai lulus SMA dan berganti-ganti pekerjaan untuk membiayai hidup.

Hingga suatu hari, Sumartono ditinggalkan kekasihnya ke Jerman menjelang pernikahan. Kesedihan mendalam karena nasib buruk yang menurutnya terus menimpa dan sempat membuatnya protes pada Tuhan justru menjadi titik balik hidupnya.

Sumartono muda kemudian menyibukkan diri dalam kegiatan sosial dengan bergabung di Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari) yang saat itu beranggotakan 1500 orang.

Nasib baik pun mulai menghampirinya, tahun 1986, seorang rekannya minta Sumartono melanjutkan bisnis alumunium karena temannya itu menetap di luar negeri. Sumartono mengurusnya sambil tetap aktif di kegiatan sosial.

Pada 1998, terjadi kerusuhan multi etnis di Solo. Usahanya menjadi sasaran penjarahan, rumahnya dibakar massa. Sumartono dan keluargany ditolong oleh para tetangganya. Ia tak dendam karena menilai kerusuhan dipicu peristiwa politik dan bukan masalah etnis.

Dia memulai dari nol bersama dengan karyawan yang tetap dipertahankannya dalam kondisi sulit. Usahanya justru sukses dan Sumartono semakin aktif dalam kegiatan sosial kemanusiaan.

Dia juga banyak memberi ide-ide untuk meredam berbagai gejolak di Kota Solo dengan berbagai kegiatan multi etnis dan multi agama yang diinisiasinya.

“Seperti pipa saluran air, saya ingin jadi sarana penyalur kebaikan. Kebaikan ini akhirnya akan kembali pada diri kita sendiri dalam berbagai bentuk,” ujar ayah satu putri ini.

Berkah yang paling luar biasa adalah ketika putri semata wayangnya memutuskan tetap tinggal bersamanya setelah menikah meski sangat mampu tinggal terpisah.

“Saya bisa bertemu dua cucu setiap hari sebelum beraktivitas. Itu luar biasa, karena doa saya sejak dulu adalah bisa menjadi kakek sebelum saya meninggal,” ucapnya serius.

Dukungan keluarga berkah yang disyukurinya. Wiranti Widyastuti Hadinoto, putrinya, mengaku bisa memahami tanggung jawab ayahnya sehingga memaklumi lebih banyak beraktivitas di luar rumah daripada berkumpul dengan keluarga.

“Intinya saling menerima dan memahami keadaan. Saya tidak mungkin meminta Bapak sama seperti ayah yang lain karena jelas tanggung jawabnya juga berbeda,” ujar Wiranti.

Finalis penerima penghargaan

Perwakilan Religious Freedom and Business Foundation (RFBF), Matius Ho dari Leimena Institute Jakarta mendatangi Sumartono di Solo. Ia memastikan kepantasan Sumartono menjadi salah satu nominator penerima penghargaan The Global Business and Interfaith Peace kategori Advocacy and Public Policy Engagement.

Penghargaan ini merupakan inisiatif RFBF dengan beberapa lembaga yang bernaung di bawah PBB, yaitu Nations Global Compact Business for Peace (B4P) platform, Global Compact Network Korea dan UN Alliance of Civilizations.

Sumartono menjadi satu dari 16 calon penerima penghargaan yang berasal dari benua Amerika, Eropa, Afrika dan Asia. Penyerahan penghargaan itu akan dilakukan di Seoul, Korea Selatan, Maret mendatang.

“Saya lihat beliau cocok untuk penghargaan ini, saya melihat kegiatan-kegiatan beliau menjalin kebersamaan lintas suku, agama dan ras di Solo,” kata Matius melalui pesan singkat kepada wartawan.

“Ini sangat baik untuk diketahui masyarakat luas agar menginspirasi lebih banyak orang berbuat serupa di komunitasnya masing-masing.”

Sumartono dianggap memiliki peran besar mengorganisir perdamaian paska-kerusuhan di Solo, tahun 1998. Selain itu, ide-idenya dinilai mampu membawa kebersamaan berbagai etnis di Solo.

Tampilan selengkapnya