Follow us

Survei: Persentase Pemilih Prabowo Naik, Tapi Jokowi Masih Unggul 20%

Ismira Lutfia Tisnadibrata
Jakarta
2019-01-08
Email
Komentar
Share
Presiden Joko “Jokowi” Widodo yang kembali mencalonkan diri untuk kedua kalinya dan saingannya Prabowo Subianto, saling berpelukan dalan acara Deklarasi Damai Pemilihan Presiden 2019, di Monumen Nasional, Jakarta, 23 September 2018.
Presiden Joko “Jokowi” Widodo yang kembali mencalonkan diri untuk kedua kalinya dan saingannya Prabowo Subianto, saling berpelukan dalan acara Deklarasi Damai Pemilihan Presiden 2019, di Monumen Nasional, Jakarta, 23 September 2018.
AFP

Prabowo Subianto meraup kenaikan jumlah pemilih lebih besar selama Oktober – Desember lalu dibanding lawannya, petahana Joko “Jokowi” Widodo, namun Jokowi unggul sebanyak 20 persen dalam perolehan jumlah suara secara nasional Pemilihan Presiden 2019, demikian hasil sebuah survei yang dirilis Selasa, 8 Januari 2019.

Survei lembaga peneliti Indikator Politik Indonesia mendapati selama periode tiga bulan tersebut pemilih Prabowo dan calon wakil presidennya, Sandiaga Uno, meningkat dari 30 persen ke 34,8 persen, yang dibarengi dengan menurunnya jumlah mereka yang belum menentukan pilihan dari 17 persen ke 9,2 persen.

Sementara itu, Jokowi dan calon wakil presidennya Ma’ruf Amin hanya mengalami kenaikan pemilih 1,9 persen dari 53 persen ke 54,9 persen pada periode yang sama, namun demikian pasangan ini masih mengungguli jumlah suara lawannya.

“Bila pemilihan presiden diadakan sekarang, Jokowi masih unggul atas Prabowo Subianto,” ujar Direktur Eksekutif Indikator, Burhanuddin Muhtadi, dalam jumpa pers saat merilis hasil survei, di Jakarta, Selasa.

“Dengan selisih 20 persen, ini belum aman buat Jokowi dalam sisa waktu kampanye tiga bulan,” tambahnya.

Dari 1.220 responden yang dipilih secara acak dalam survei melalui wawancara tatap muka dari 16 Desember sampai 26 Desember di 34 provinsi, Burhanuddin  mengatakan hanya 1,1 persen yang mengaku tidak akan memilih alias menjadi golongan putih (golput).

“Mereka yang belum memutuskan akan memilih kandidat mana, cenderung mempunyai tingkat pendidikan tinggi,” jelasnya.

Kenaikan jumlah pemilih pasangan Prabowo-Sandiaga sejalan dengan kenaikan yang dicatat oleh survei internal Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan dengan nomor urut 02 itu.

“Survei internal BPN menunjukkan selisihnya 11 persen,” ujar Wakil Ketua BPN yang juga politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mardani Ali Sera yang hadir pada jumpa pers tersebut.

Mardani mengatakan angka itu mengecil dari selisih yang didapat sebelumnya yaitu 14 persen dan tren mengecilnya selisih antara pemilih Jokowi-Ma’ruf dan pemilih Prabowo-Sandiaga diharapkan akan bertambah terus menjelang pemilihan presiden pada 17 April mendatang.

Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Hasto Kristiyanto menyambut positif kenaikan jumlah pemilih Jokow-Ma’ruf dan mengatakan Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan nomor urut 01 akan terus bekerja memperbanyak narasi mengenai pencapaian pemerintan Jokowi selama empat tahun terakhir dan merangkul berbagai pihak.

“Kami akan hindari hoaks dan fitnah karena itu adalah jati diri kepemimpinannya Jokowi dan kiai Ma’ruf,” ujarnya di tempat yang sama.

Hoaks

Survei ini juga menunjukkan bahwa sejumlah hoaks yang menargetkan kedua pasang kandidat tidak berpengaruh untuk mengubah sikap politik pemilih yang menurut data Komisi Pemilihan Umum (KPU) mencapai 192 juta orang.

Burhanuddin  mengatakan faktor yang dominan membedakan sikap publik atas isu-isu personal Jokowi dan Prabowo adalah efek partisan.

“Di basis pendukung Jokowi, mayoritas tidak percaya dengan isu-isu personalnya Jokowi dan basis Prabowo-Sandi juga tidak percaya dengan isu personal terkait Prabowo,” ujar Burhanuddin .

Di sisi lain, pendukung Jokowi cenderung percaya dengan isu negatif yang menyudutkan Prabowo dan juga sebaliknya, pendukung Prabowo cenderung percaya dengan isu negatif seputar Jokowi, tambahnya.

“Ini menunjukkan sikap partisan terhadap calon presiden menentukan sikap terhadap informasi, bukan sebaliknya,” tutur Burhanuddin .

Mardani menekankan perlunya literasi media bagi pemilih dan kedua pasangan calon harus melakukan edukasi publik untuk meredam hoaks yang menyerang mereka.

Dia juga mengusulkan agar kedua pasangan calon mengadakan jumpa pers bersama untuk membahas dan mengklarifikasi hoaks seputar mereka.

Menurutnya, hal ini akan berguna untuk meredakan ketegangan antara kedua kubu dan pendukungnya masing-masing.

Hasto mengatakan hoaks yang menyerang kedua calon presiden hanya akan meningkatkan militansi di kalangan pendukung masing-masing.

Kuskrido Ambardi, Kepala Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada dan Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) mengatakan hoaks tentang isu pribadi calon presiden tidak berpengaruh untuk mengubah pilihan politik mereka yang sudah menentukan pilihannya.

“Mungkin pengaruh sedikit bagi yang belum menentukan pilihan, tapi kelompok ini cenderung kritis,” ujarnya kepada BeritaBenar di sela-sela konferensi pers.

Kuskrido mengatakan hoaks yang banyak beredar di dunia maya hanya berputar di kalangan yang sama saja.

Dalam konteks ini, internet tidak membuka ruang publik untuk dialog, tapi cenderung menjadi sarana monolog dan ruang gema saja karena ada banyak kelompok kecil berdasarkan preferensi jenis platform di kalangan mereka yang mengakses informasi dan media melalui internet.

Menurut konversi yang dihitung Indikator, bila berdasarkan jumlah pemilih yang terdata di KPU, maka ada 95,4 juta pemilih yang merupakan pengguna internet.

“Perilaku berpolitik menjadi menentukan konsumsi media,” ujar Kuskrido.

Tampilan selengkapnya