Follow us

Mengintip Warga Syiah di Jakarta Sambut Asyura

Sejak penyerangan terhadap kaum Syiah di Sampang pada 2011, diskriminasi masih terus dialami kelompok minoritas Muslim ini.
Rina Chadijah
Jakarta
2018-09-20
Email
Komentar
Share
Anggota komunitas Syiah Indonesia memperingati Hari Asyura di gedung Islamic Cultural Centre, Jakarta Selatan, 19 September 2018.
Anggota komunitas Syiah Indonesia memperingati Hari Asyura di gedung Islamic Cultural Centre, Jakarta Selatan, 19 September 2018.
Rina Chadijah/BeritaBenar

Matahari mulai temaram. Azan telah berkumandang dari pengeras suara masjid di sekitar gedung Islamic Cutural Centre (ICC), di bilangan Pejaten, Jakarta Selatan.

Namun belasan pemuda dan pemudi masih sibuk merapikan barang-barang dagangan dalam bazar yang digelar di halaman gedung.

Baru setelah matahari benar-benar hilang, satu persatu mereka masuk ke sebuah ruangan di lantai dasar gedung bertingkat tiga itu.

Beberapa pemuda yang bertugas menjaga keamanan memeriksa barang yang dibawa para jemaah dengan metal detector. Setiap orang yang masuk juga harus mengisi buku tamu.

“Kita perlu antisipasi untuk menghindari hal-hal buruk terjadi. Menghindari saja kalau ada gangguan," kata Mujib, seorang petugas keamanan, yang mendampingi BeritaBenar, saat berkunjung ke tempat itu, Rabu, 19 September 2018.

ICC berdiri sejak tahun 2003. Gedung berornamen Persia serupa masjid, menjadi tempat berkumpulnya komunitas Syiah di Jakarta.

Berafiliasi dengan Kedutaan Iran, gedung itu menjadi pusat riset dan penerbitan, hingga pusat kebudayaan dan bahasa Iran.

Aula lantai dasar berukuran 80 x 100 meter itu diberi nama Husainiyah Al-Huda. Di tiap tiangnya terdapat kaligrafi bertuliskan pujian bagi cucu Nabi Muhammad SAW, Husein Bin Ali, yang terbuat dari permadani.

Satu spanduk bergambar kuda tanpa kepala yang sekujur tubuhnya dipenuhi anak panah, terpajang dekat mimbar. Di atasnya tertulis, “Salam bagi yang berlumur pasir berdarah”.

“Kami mengadakan majelis duka untuk memperingati peristiwa syahidnya Syaidina Husein bin Ali di Padang Karbala,” kata Abdullah Beik, pengurus ICC.

Malam itu, setidaknya 600 jemaah pria dan perempuan berkumpul di aula. Kebanyakan mereka mengenakan pakaian berwarna hitam, sebagai simbol kedukaan.

Acara diisi dengan doa bersama dan ceramah tentang peristiwa Karbala oleh Muhammad Jawad Assadi, seorang ulama dari Iran.

Abdullah hari itu bertindak sebagai penerjemah ceramah.

Tragedi Karbala dikenang sebagai pembantaian keluarga besar Nabi Muhammad, oleh rezim Dinasti Ummayah. Peristiwa itu terjadi pada 10 Muharram 61 Hijriyah, atau kerap disebut sebagai hari Asyura.

Bagi warga Syiah yang menyebut Alul Bait atau pengikut keturunan nabi, peristiwa itu menjadi bukti penghianatan dan penghinaan bagi keberadaan keluarga Nabi Muhammad.

Usai ceramah, seketika lampu-lampu di ruangan itu dipadamkan. Hanya beberapa lampu di sudut depan ruangan yang tetap dibiarkan menyala.

Seluruh jamaah berdiri menghadap mimbar. Sejurus kemudian seorang pemuda berusia sekitar 30 tahun naik ke mimbar, membacakan selawat serta syair.

Syair berisi kronologi perjalanan Husein dan para kafilahnya hingga meregang nyawa di Karbala. Ia membaca dengan lirih dan terisak.

Jemaah yang menyimak syair, tiba-tiba larut dalam duka dan memukul-mukul dadanya dengan kedua tangan mereka.

Saat pemuda itu membacakan cerita kala kepala Husein berpisah dari badannya, setelah ditebas pedang dari seorang anggota pasukan yang dipimpin Umar bin Saad, seketika tangisan dan raungan pria dan wanita di aula itu semakin menjadi-jadi, “Ya Husein…Ya Husein…Ya Husein”

Kerap didiskriminasi

Jika Muslim Sunni yang menjadi mayoritas di Indonesia memaknai 1 Muharram sebagai pergantian Tahun Baru Hijriyah yang ditandai hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah, tak begitu dengan warga Syiah. Muharram bagi mereka adalah bulan duka.

Menurut Abdullah, sejak 1 Muharram, Imam Husein bersama khafilahnya berangkat ke medan perang, sebelum meninggal dunia pada 10 Muharram. Makanya mereka menggelar majelis duka selama sepuluh hari.

“Intinya kita mengambil semangat atas perjuangan Imam Husein dan memotivasi hidup untuk bisa melaksanakan berbagai kewajiban dalam keseharian kita,” ujarnya.

Jumlah penganut Syiah di Indonesia disebut lebih 2,5 juta.

Abdulah menyebutkan setiap kegiatan digelar di tempat itu, jemaah yang hadir berkisar antara 600 hingga 1.500-an orang.

“Kalau jumlah pengikut bermazhab Syiah di Jakarta tidak bisa kita tebak berapa orang, kan tidak ada kartu tanda anggotanya,” ujarnya.

Mujib yang bertugas sebagai panitia keamanan mengaku, diskriminasi, gangguan dan penolakan sering menimpa warga Syiah di Jakarta. Jika ada pengerahan massa menolak acara yang mereka gelar, biasanya polisi turut dilibatkan.

Tiap ada kegiatan, sedikitnya 10 hingga 15 pemuda bertugas menjaga keamanan. Mereka berjaga dari pintu gerbang hingga ke komplek yang luasnya sekitar 400 meter persegi itu.

“Sekarang sudah jauh berkurang gangguan semacam itu. Apalagi sudah banyak yang tahu kalau tempat ini merupakan bagian dari Kedutaan Iran,” ujarnya.

Rahasiakan identitas

Banyak warga Syiah Indonesia merahasiakan keyakinannya setelah adanya penolakan dan pengusiran pengikut Syiah di Sampang, Madura, Jawa Timur, tahun 2011.

Bahkan hingga kini, ratusan keluarga Syiah asal Sampang masih harus tinggal di tempat penampungan sementara di Sidoarjo.

Mujib mengaku masih merahasiakan keyakinan pada keluarga besarnya di Jawa Tengah. Hanya ibunya yang tahu kalau dia penganut Syiah.

“Saya berasal dari keluarga NU (Nadhlatul Ulama) jadi agak sensitif membicarakan itu. Saya jadi pengikut Alul Bait dari bacaan dan mengikuti kajian-kajian seperti ini,” akunya.

Lain halnya dengan Syarifudin (45). Warga Jagakarsa, Jakarta Selatan ini tak segan menunjukan dirinya sebagai pengikut syiah kepada keluarga dan lingkungannya.

Ia juga kerap memboyong seluruh anggota keluarganya untuk mengikuti kajian dan kegiatan di ICC.

“Keluarga saya ada yang tetap berpendirian Al Sunnah Wal Jamaah. Kami membuat kesepakatan bagaimana membangun toleransi dalam hubungan kebersamaan,” ujarnya.

Tampilan selengkapnya