Follow us

Menangkal Radikalisme Melalui Pengajian untuk Pemuda

Pengurus GP Ansor setempat mengatakan gerakan radikal telah menyebar di perguruan tinggi, dan jika tidak segera dicegah bisa menyebar di musala dan masjid.
Eko Widianto
Malang
2017-06-02
Email
Komentar
Share
M. Syifaurrahman (kanan) memberikan pengajian tentang anti-radikalisme kepada pemuda di sebuah masjid di Kota Malang, Jawa Timur, 17 Mei 2017.
M. Syifaurrahman (kanan) memberikan pengajian tentang anti-radikalisme kepada pemuda di sebuah masjid di Kota Malang, Jawa Timur, 17 Mei 2017.
Dok. Ansor Kebonsari

Usai menunaikan shalat Maghrib, 30-an pemuda duduk bersila di Masjid Jami’ Nurul Muttaqin, Kebonsari, Kota Malang, Jawa Timur. Mengenakan peci dan sarung, mereka memegang kitab “Menangkal Hal Radikal: Radikalisme Bukan Ajaran Islam”.

Mereka tengah menyimak Ketua Pengurus Gerakan Pemuda Ansor setempat, M. Syifaurrahman, yang menerangkan isi kitab karangan Taufiqul Hakim, seorang ulama dari Pondok Pesantren Darul Falah, Bangsri, Jepara, Jawa Tengah, yang juga dikenal sebagai penemu metode cepat baca kitab kuning, atau kitab-kitab tradisional pelajaran agama Islam.

“Kajian menangkal radikalisme ini sudah khatam. Berkeliling selama 40 kali pertemuan,” tutur ulama yang akrab disapa Gus Syifak kepada BeritaBenar, usai pengajian hari itu, Rabu, 24 Mei 2017.

Gus Syifak (30), yang juga pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ulum, mengkaji kitab “Menangkal Hal Radikal” dengan berkeliling di 30-an musala dan masjid di sekitar Kebonsari, selama setahun terakhir.

Kitab itu berisikan tentang Islam agama moderat, akar radikalisme, melawan kemungkaran, kesalahan memaknai jihad, memahami negara Indonesia, khilafah, dan demokrasi.

“Sekarang Indonesia aman, ibadah tak dipersulit. Jadi tidak ada alasan makar dan mengubah ideologi Pancasila,” ujarnya.

Menurutnya, pemikiran hendak mengganti Pancasila justru bertentangan dengan ajaran Islam karena mengubah ideologi akan menimbul konflik.

Umat tak bisa beribadah dengan aman dan nyaman. Selain itu, perekonomian terhenti sehingga warga dirugikan.

Kajian ini, jelasnya, dibutuhkan untuk membentengi pemuda dari pengaruh paham radikal dan intoleransi karena gerakan itu telah menyebar di perguruan tinggi. Ia khawatir ajaran yang salah tentang jihad juga bakal menyebar di musala dan masjid.

“Yang khatam kitab ini dijamin tak akan lakukan paham radikalisme,” tegasnya yakin.

Pengajian melibatkan pelajar dari Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU).

Kajian dilakukan sekitar 45 menit usai shalat Maghrib sampai adzan Isya. Berbagai pertanyaan diajukan peserta didik, mulai soal jihad, toleransi dalam Islam, dan terorisme yang kini marak.

Mendukung

Masyarakat sekitar mendukung dan ikut terlibat dalam pengajian. Pengurus Musala Wakaf Baiturrahim Kebonsari, M. Majid, mengaku bangga anak muda turut mengaji bersama.

"Radikalisme mengancam pilar kehidupan berbangsa. Mengaji ini memberikan bekal anak muda menghadapi paham radikalisme," katanya.

Pemuda yang ikut pengajian diminta mengunggah foto kegiatan di media sosial. Mereka juga menulis hasil kajian di media sosial sebagai kampanye positif karena banyak yang berinteraksi di internet dan kadang mudah terpengaruh paham radikalisme.

Bhekti Andi Hartanto, seorang peserta pengajian, menilai paham radikal berseliweran di media sosial. Dengan ikut pengajian itu, dia telah mendapat wawasan dan pengetahuan tentang jihad yang salah dari kelompok teroris.

“Jika tidak dibekali pemahaman agama yang memadai, bakal ikut terseret kita. Beruntung saya ikut mengaji dengan Gus Syifa," kata pemuda berusia 20 tahun yang membuka toko alat tulis dan layanan foto kopi itu.

Dalam kesehariannya, Bhekti sering berinteraksi dengan pelajar. Sesekali, dia berdialog dan bertukar pendapat tentang radikalisme. Dia berpesan kepada pelajar untuk menjauhi paham radikal yang mengintai anak muda.

Menangkal radikalisme

Alasan Syifak melakukan kajian anti-radikalisme karena ingin menangkal pengaruh paham itu sejak dini, terutama di lingkungan paling kecil, tingkat kelurahan.

“Semoga bisa memberi sumbangan di lingkungan walau tidak besar dan tak dilihat,” katanya, merendah.

Menurutnya, seseorang yang semakin kuat pemahaman agamanya, maka semakin bijak dalam memahami dinamika zaman. Sedangkan radikalisme agama terjadi karena pemahaman agama belum tuntas.

Peserta pengajian yang lain, Yudha Abi Rokhma, mengaku beruntung bisa mengaji kitab yang digunakan untuk menangkal radikalisme itu sehingga dia memahami mana ajaran yang benar dan mana yang keliru.

“Jihad itu ketika terjadi perang, sekarang kan negara aman,” ujarnya.

Dia aktif mengikuti pertemuan setiap Rabu, selama setahun penuh. Yudha tak pernah absen mengikuti kajian dan mengkhatamkan kitab yang diajarkan Gus Syifak.

Ketua GP Ansor Kota Malang, M. Nur Junaedi, mengapresiasi langkah Syifak. Untuk menangkal radikalisme, Ansor melakukan sosialisasi ajaran Islam yang toleran melalui majelis dzikir dan shalawat.

“Radikalisme di Malang karena persoalan ekonomi, dan pemahaman agama yang dangkal,” kata Sekretaris GP Ansor Kota Malang, Hilmi Wildan.

Kapolres Malang Kota, AKBP Hoiruddin Hasibuan, mengaku jika gerakan radikal di daerah itu perlu perhatian serius dari semua pihak, terutama kalangan akademisi, ulama, dan tokoh masyarakat.

“Harus diantisipasi gerakan radikalisme di kampus yang menyasar kalangan muda,” ujarnya.

Pada Februari 2016, Densus 88 menangkap empat orang terduga teroris di sejumlah lokasi di Kabupaten Malang karena terlibat jaringan bom Thamrin Jakarta. Setahun sebelumnya, tiga warga Malang ditangkap karena mengikuti latihan militer di Suriah.

Pengajar Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Arief B. Nugroho yang meneliti gerakan radikal di kampus pada 2008 menyatakan pola rekrutmen umumnya dimulai saat mahasiswa baru masuk.

Dia mendukung langkah Gus Syifak menangkal radikalisme sejak dini.

“Bagus ada proses dua arah untuk berdiskusi. Tentunya akan bisa mengembangkan nalar mahasiswa,” tuturnya.

Tampilan selengkapnya