Follow us

Tato Dayak, Jejak yang Bercerita

Sebagian masyarakat Dayak meyakini merajah tubuh dengan aneka motif tato menjadi sarana untuk bercerita tentang perjalanan hidupnya.
Severianus Endi
Pontianak
2017-05-05
Email
Komentar
Share
Eugene Yohanes Palaunsoeka (kiri) menerangkan motif tato khas suku Dayak pada dua rekannya di Pontianak, Kalimantan Barat, 30 April 2017.
Eugene Yohanes Palaunsoeka (kiri) menerangkan motif tato khas suku Dayak pada dua rekannya di Pontianak, Kalimantan Barat, 30 April 2017.
Severianus Endi/BeritaBenar

Tato pada masa kini cenderung sebatas aksesoris tubuh semata. Terkadang makna seni mengukir pada bagian tubuh itu bergeser sehingga menimbulkan konotasi negatif.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan tato bagi masyarakat Dayak di Pulau Kalimantan. Bagi komunitas ini, tato memiliki makna hakiki yang menggambarkan status sosial, juga memuat perjalanan hidup seseorang.

“Tato Dayak punya filosofi, sehingga tak bisa disederhanakan sebatas aksesoris,” tutur Eugene Yohanes Palaunsoeka (57), saat ditemui BeritaBenar di Pontianak, Kalimantan Barat, akhir April lalu.

Ada sekitar 400 sub etnik Dayak di Kalimantan, baik yang mendiami Indonesia maupun Sarawak, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Eugen sendiri masuk dalam sub etnik Taman Kapuas.

Menurutnya, motif-motif tato Dayak adalah abstrak dari wujud sesungguhnya. Misalkan motif naga, tidak menggambarkan seperti naga yang dikenal umum. Dari sekian banyak motif, yang paling populer adalah bunga terung dengan enam atau delapan kelopak.

“Secara filosofis, bunga terung bermakna orang Dayak sebagai perantau, bisa hidup di manapun,” ungkap pria yang rambut panjangnya mulai memutih itu dan banyak tahu tentang makna di balik tato.

“Seperti biji terung yang ditabur dalam kondisi apapun, tapi bisa tumbuh. Soal nantinya berbuah atau tidak, tergantung kesuburan tanah.”

Eugen memasang tato bunga terung di bahu kiri dan kanan serta punggung pada 1993. Pembuatannya mengikuti prosedur tradisional. Sang penato bukan orang sembarangan, dua tokoh adat: Temenggung Jelai dan Temenggung Sumpit.

Enam jarum logam disatukan, membuat rintisan motif di tubuhnya. Sepanjang proses pembuatan sekitar enam jam, Eugene harus menahan sakit, merasakan lelehan darah di punggung.

Begitu rintisan motif selesai, proses berikutnya “nujah” yakni memasukkan warna ke rintisan tadi dengan dua belas jarum logam yang disatukan. Tinta dawat atau disebut juga tinta cina sebagai pewarna, menghasilkan warna biru pudar.

“Pembuatan tato tradisional punya filosofi agar seseorang tahan rasa sakit. Saya hampir tidak sanggup menahannya saat itu, terlebih ketika melihat darah mengucur,” kenang Eugen.

Aneka motif dan sakralitas

Pada masa tradisi mengayau atau berburu kepala masih dilakukan, selalu ada tanda seseorang pernah berhasil membawa pulang kepala musuh, dengan tato “atai kelingai” bermotif ekor kalajengking yang dirajah di leher.

Selain itu, tato di leher juga bisa bermakna lain, sebagai penanda seseorang bijaksana dan perkataannya “berbisa”. Ini diperuntukkan bagi pembesar. Proses pembuatannya harus melalui upacara adat.

Tato juga menjadi penanda seseorang telah merantau jauh dari tanah kelahiran. Seperti “bilon” atau bunga tengkawang, bunga pohon yang memiliki sayap sehingga ketika jatuh akan berputar-putar dan mendarat jauh dari pokoknya.

Satu motif tato sangat sakral, yang kini sulit dijumpai, adalah motif “tali bendai”, bagian alat musik yang pertama kali dibunyikan setiap kali ada acara adat. Tato ini hanya boleh dimiliki para penghulu, pemimpin, dan temenggung adat. Setiap ada acara adat, mereka dengan tato ini selalu berada di depan.

Motif “mata kael” atau mata pancing, dipasang di kaki seorang jago silat atau pendekar. Motif ini juga dipasang pada tangan dukun, menandakan dia bisa menarik peyakit dari tubuh seseorang.

Hal yang sulit dipercaya akal sehat ialah motif kelabang atau lipan di lengan. Pemiliknya adalah orang berilmu tinggi, bisa “menghidupkan” kelabang dengan menggosok-gosok lengan sehingga hewan itu begerak, dan memberitahu jika ada bahaya.

Penembakan misterius

Nilai sakral tato Dayak sempat terusik oleh isu penembakan misterius. Alexander Mering (43), yang berdarah Dayak Iban menitis dari sang ibu, menuturkan, pamannya sampai menyeterika tangan untuk menghapus tato.

“Paman menyetrika lengannya untuk menghapus tato, karena khawatir dengan operasi Petrus. Juga stigma telah memandang tato sebagai sesuatu yang negatif, sehingga kakek saya menyembunyikan tatonya di balik pakaian,” kenang Mering.

Penembakan misterius yang disingkat Petrus adalah operasi rahasia zaman rezim Orde Baru era 1980-an, yaitu penangkapan dan pembunuhan terhadap orang-orang dianggap mengganggu keamanan. Mayat bergelimpangan dari operasi itu sering dikenali dengan tato di tubuh mereka.

Sebagai putra Iban, Mering merasa menyesal tidak punya secuil tato pun di tubuhnya. Namun, ia berharap suatu saat ada waktu yang tepat untuk merajah motif bunga terong di tubuhnya.

“Saya merasa belum pantas memiliki tato, mengingat sakralitasnya yang harus selaras dengan perilaku hidup,” ujar Mering kepada BeritaBenar.

“Saya yakini, menato tubuh bukan sekadar keinginan, tetapi juga kehendak Petara (Sang Kahlik). Tidak sekadar fashion seperti ditunjukkan kaum muda sekarang.”

170505-ID-tattooinside.jpg

Goresan-goresan motif khas tato Dayak yang merupakan abstraksi dari bentuk nyata. (Severianus Endi/BeritaBenar)

Seni yang mendunia

Orang Dayak mendiami tiga negara di Kalimantan. Bangsa serumpun ini dipisahkan garis batas negara, tanpa meninggalkan akar budaya. Satu di antaranya ialah Apai Keling (42), seorang Dayak Iban Malaysia, yang tinggal di Kota Miri, Sarawak.

Ia menjelaskan, pada masa lalu, merajah tubuh dengan aneka motif tato menjadi sarana bercerita tentang perjalanan hidup seseorang, semacam diari.

“Bagi saya, tato di tubuh menerangkan siapa saya, identitas saya sebagai orang Dayak dan apa saja achievement yang telah saya raih,” katanya, saat dihubungi BeritaBenar dari Pontianak melalui telepon.

Sejak tujuh tahun lalu, telah dibentuk organisasi ‘Persatuan Tato Sarawak’ di Miri untuk mengakomodir para pecinta tato tradisional. Mereka rutin mengikuti kegiatan-kegiatan yang menghadirkan para profesional tato artis dari seluruh dunia.

Tampilan selengkapnya