Tiga Pria Bersenjata Tewas dalam Kontak Senjata di Aceh

Oleh Nurdin Hasan
2015.05.21
Share on WhatsApp
Share on WhatsApp
150521_ID_NURDIN_PRIA_BERSENJATA_TEWAS_VG.jpg Mantan separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM) memegang senjata mereka untuk terakhir kalinya sebelum dihancurkan di Banda Aceh, 21 Desember 2005 setelah perjanjian damai dengan pemerintah.
AFP

Sedikitnya tiga pria bersenjata yang diklaim anggota kelompok pimpinan Din Minimi tewas di tempat dalam kontak senjata dengan pasukan gabungan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Polisi Republik Indonesia (Polri) di Provinsi Aceh, Kamis dinihari, 21 Mei.

Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Aceh, Inspektur Jenderal Polisi (Irjen Pol.) Husein Hamidi, mengatakan bahwa baku tembak selama hampir satu jam terjadi di kawasan rawa-rawa Desa Gintong, Pidie, jam 2 dini hari.

“Dari para korban tewas, aparat keamanan menyita sepucuk senjata otomatis laras panjang jenis AK-56 popor lipat, 106 butir amunisi AK dan magazen M-16,” katanya kepada wartawan di Banda Aceh, Kamis pagi.

Ketiga korban tewas adalah Ibrahim Yusuf (42), Subki (23) dan Yusliadi alias Mae Pong (27).

Mayat Subki dan Ibrahim ditemukan beberapa saat usai batu tembak. Sedangkan, jenazah Yusliadi ditemukan di rawa-rawa saat penyisiran, Kamis pagi.

Menurut Husein, kontak senjata itu berawal dari laporan masyarakat yang melihat belasan pria bersenjata berpakaian loreng dan hitam masuk ke Gintong, Rabu malam, dan warga segera melaporkan kepada aparat keamanan.

Menurut sumber intelijen, pasukan TNI/Polri berkekuatan 25 personel segera turun ke lokasi untuk menghadang jalur yang diperkirakan dilintasi kelompok bersenjata.

“Begitu tiba di kawasan rawa-rawa persimpangan Desa Gintung, pasukan gabungan melakukan pengendapan,” kata sumber intelijen yang menolak disebutkan namanya.

Menjelang Kamis dinihari, kelompok bersenjata berkekuatan 15 pria melintasi jalan yang telah dikepung. Tiga pria di depan menggunakan senter sebagai penerang jalan segera melepaskan tembakan ke arah TNI/Polri sehingga terjadi kontak tembak.

“Setelah baku tembak reda, aparat TNI dan Polri melakukan pembersihan lokasi dan menemukan dua mayat pria kelompok bersenjata. Dari para korban, aparat menyita sepucuk senjata AK-56,” kata sumber tersebut kepada BeritaBenar.

Kapolres Pidie, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Muhajir menyatakan pembersihan dan penyisiran di lokasi kembali dilanjutkan, Kamis pagi. Aparat kembali menemukan sesosok mayat anggota kelompok bersenjata.

“Pasukan TNI/Polri masih terus mengejar sisa-sisa anggota kelompok bersenjata itu. Jumlah mereka diperkirakan belasan orang,” kata Muhajir kepada BeritaBenar.

Kapolda Aceh menambahkan, polisi juga telah menangkap dua anak buah Din Minimi dalam penyergapan di Desa Paloh Gadeng, Kabupaten Aceh Utara, Minggu, 17 Mei.

“Dari kedua tersangka, polisi menyita dua pucuk senjata rakitan,” kata Husein, seraya menambahkan kedua pria tersebut ditembak di kaki sebelum ditangkap.

Anak Buah Din Minimi

Dia menyebutkan, sejak dua bulan terakhir, polisi telah menangkap 17 anak buah Din Minimi dan menyita 12 pucuk senjata plus 20 ribu amunisi.

“Saat ini masih ada 20 orang lagi yang masih kita kejar,” katanya.

Tetapi, Din Minimi dalam wawancara khusus dengan BeritaBenar, pertengahan April lalu, membantah mereka yang telah ditangkap polisi sebagai anak buahnya.

Menurut pria bernama asli Nurdin bin Ismail Amat, dia memilih mengangkat senjata karena Pemerintah Aceh belum mampu menyejahterakan masyarakat Aceh.

Din Minimi adalah seorang mantan gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang masih mengangkat senjata untuk melawan ketidakadilan pemerintah Aceh pimpinan Gubernur Zaini Abdullah dan Wakil Gubernur Muzakir Manaf.

Dia pertama kali muncul dengan menenteng senjata dengan mengundang sejumlah wartawan lokal, pada Oktober 2014.

Zaini adalah bekas Menteri Luar Negeri Pemerintahan GAM di pengasingan, Swedia, sebelum terwujud perdamaian dengan pemerintah Indonesia. Sedangkan, Muzakir adalah mantan Panglima Tentara Negara Aceh.

Pemerintah Indonesia dan gerilyawan GAM menandatangani perjanjian perdamaian di Helsinki, ibukota Finlandia pada 15 Agustus 2005, untuk mengakhiri konflik hampir 30 tahun yang diperkirakan menewaskan lebih dari 25.000 orang, kebanyakan warga sipil.

Komentar

Silakan memberikan komentar Anda dalam bentuk teks. Komentar akan mendapat persetujuan Moderator dan mungkin akan diedit disesuaikan dengan Ketentuan Penggunaan. BeritaBenar. Komentar tidak akan terlihat langsung pada waktu yang sama. BeritaBenar tidak bertanggung jawab terhadap isi komentar Anda. Dalam menulis komentar harap menghargai pandangan orang lain dan berdasarkan pada fakta.