Follow us

TNI AL Latihan Perang Amfibi di Laut Cina Selatan

Pelatihan seminggu itu melibatkan 2.000 personel, 26 KRI, 17 pesawat tempur dan 18 kendaraan tempur militer.
Ronna Nirmala
Jakarta
2020-07-24
Email
Komentar
Share
Komando Armada I TNI Angkatan Laut RI melakukan latihan bersama operasi amfibi di perairan Singkep, Kepulauan Riau, Jumat, 24 Juli 2020.
Komando Armada I TNI Angkatan Laut RI melakukan latihan bersama operasi amfibi di perairan Singkep, Kepulauan Riau, Jumat, 24 Juli 2020.
Dok. Dinas Penerangan Koarmada I TNI AL

TNI Angkatan Laut melakukan simulasi perang amfibi di Laut Cina Selatan pada puncak latihan gabungan yang telah berlangsung satu pekan, di tengah ketegangan antara Cina dan Amerika Serikat di perairan yang menjadi sengketa di kawasan.

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Yudo Margono memimpin langsung pasukan untuk menyerbu sebuah pulau dekat Laut Cina Selatan yang diserang oleh musuh dalam di Kepulauan Riau, Jumat (24/7).

Latihan penyerbuan dilakukan melalui jalur laut dengan menurunkan pasukan di tengah laut dari tank amfibi LVT-7 dan menyusup ke dalam pantai Pulau Todak, Sabo Singkep, Kepri, jelang matahari terbit.

“Dalam wujud nyata pengabdian kepada bangsa dan negara, prajurit Marinir merupakan sosok ksatria AL yang senantiasa berdiri kokoh demi kedaulatan NKRI,” kata Yudo, merujuk rilis resmi TNI AL yang diterima BenarNews, Jumat.

Tiga kapal perang—KRI Semarang 594, KRI Teluk Sibolga 536, dan KRI Cirebon—bersama tank amfibi tipe BMP-3F, BTR 50, dan KAPA turut dilibatkan dalam latihan puncak hari ini.

“Korps Marinir selalu menunjukkan profesionalisme sebagai bagian dari komponen SSAT (Sistem Senjata Armada Terpadu) TNI Angkatan Laut dalam setiap penugasan untuk menjaga keutuhan, keselamatan dan kedaulatan NKRI,” kata Yudo.

Latihan perang seluruh unsur TNI AL dimulai pada 18 Juli dengan manuver wilayah dimulai dari Laut Jawa, Tanjung Uban, hingga ke Natuna Selatan, demikian keterangan Kadispen Koarmada I TNI AL, Letkol Fajar Tri Rohadi.

Sebanyak 2.000 personel, 26 kapal perang (KRI), 15 pesawat tempur TNI AL, dua pesawat tempur milik TNI AU, dan 18 kendaraan tempur maritim. Adapun unsur yang terlibat antara lain Koarmada I, Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil), Marinir dan Pusat Penerbangan Angkatan Laut.

“Ketika keamanan negara terancam, kami mengandalkan Korps Marinir. Ketika Ibu Pertiwi memerlukan, kami mengirim Korps Marinir,” kata Yudo.

Panglima Koarmada I, Laksamana Muda Ahmadi Heri Purwono menambahkan, seluruh rangkaian latihan perang digelar untuk menjaga dan meningkatkan kemampuan serta profesionalisme prajurit dalam melaksanakan operasi laut gabungan dan operasi amfibi.

“Saat ini seluruhnya diintegrasikan menjadi satu untuk melaksanakan latihan bersama dengan niat untuk menjaga profesionalisme prajurit di tengah pandemi COVID-19,” kata Heri dalam rilis yang dibagikan Kadispen Koarmada I, Jumat.

Latihan yang dilakukan selama sepekan terakhir berbarengan dengan gladi serupa yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Cina di perairan Laut Cina Selatan.

Pada Rabu (22/7), lima kapal perang Australia turut bergabung bersama armada marinir AS dan Jepang untuk melakukan latihan perang bersama di perairan lepas Filipina, demikian merujuk pernyataan yang dirilis Kementerian Pertahanan Australia.

Komando armada Australia, Michael Harris, menyebut latihan tersebut menjadi kesempatan bekerja sama dengan AS dan Jepang. “Latihan gabungan prajurit marinir kami ini menunjukkan tingkat interoperabilitas dan kemampuan yang tinggi antara Australia, Jepang, dan AS,” kata Harris dalam rilis tersebut.

Pada pekan sebelumnya, militer Cina juga menggelar latihan serangan maritim di Laut Cina Selatan dengan mengerahkan sejumlah pesawat perang ke salah satu pulau di perairan tersebut.

Surat kabar pemerintah Cina, Global Times, pada Senin (20/7) menyatakan latihan perang tersebut dilakukan lantaran ketegangan negara mereka dengan AS semakin memanas, terutama setelah Washington terus mengirim pesawat tempur dan kapal induk ke perairan yang menjadi sengketa tersebut.

Namun laporan lain menyebut bahwa Cina telah lebih dulu menempatkan sejumlah pesawat tempur di Pulau Woody, lokasi pangkalan dan instalasi militer terbesar Beijing di Kepulauan Paracel, Laut Cina Selatan.

Pada pertengahan Juni, TNI AL menyiagakan empat kapal perang di sepanjang perairan Kepulauan Natuna untuk mengantisipasi peningkatan ketegangan antara Cina dengan Amerika Serikat di Laut Cina Selatan.

Kadispen Koarmada I ketika itu mengatakan kehadiran empat KRI adalah sebagai bentuk bentuk kedaulatan dan melindungi kepentingan Indonesia di perairan yang jadi sengketa sejumlah negara tersebut.

Kerja sama militer

Pada pertemuan virtual Kamis (23/7), Panglima TNI Hadi Tjahjanto dengan Panglima Angkatan Bersenjata Singapura Jenderal Melvyn Ong menjajaki peluang untuk melakukan latihan militer dua negara.

“Untuk menghadapi ragam tantangan saat ini dan di masa depan, kerja sama dan saling percaya menjadi kunci keberhasilan. Sebagaimana telah menjadi perhatian pemimpin kedua negara, SAF dan TNI juga perlu meningkatkan kerja sama yang telah terjalin selama ini,” kata Hadi dalam keterangan pers TNI.

“Setelah pandemi COVID-19 berakhir, latihan dan kerja sama diharapkan tetap bisa dilaksanakan sesuai rencana,” kata Ong, seperti yang disampaikan dalam rilis Pusat Penerangan TNI.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Indonesia Prabowo Subianto dilaporkan tengah berada di Turki untuk menindaklanjuti kerja sama militer kedua negara yang telah terjalin satu dekade terakhir, demikian Duta Besar Indonesia untuk Turki, Lalu Muhammad Iqbal.

Iqbal mengatakan Prabowo berada di Ankara, Turki, dari hari Rabu hingga Jumat ini, dengan salah satu misinya adalah melakukan pertemuan dengan Ketua Presidensi Industri Pertahanan dan sejumlah pejabat lainnya.

“Kunjungan ini adalah untuk menindaklanjuti kunjungan Beliau sebelumnya. Tidak ada hal baru,” kata Iqbal kepada awak media, Jumat.

Tampilan selengkapnya