Follow us

TNI AL Lakukan Latihan Perang Hingga ke Perairan Natuna Selatan

TNI mengatakan latihan “paling kompleks” tersebut sebagai hal rutin.
Ronna Nirmala
Jakarta
2020-07-22
Email
Komentar
Share
Kapal penjaga pantai Cina terlihat dari kapal TNI AL saat melakukan patrol di Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia di perairan Natuna Utara di Provinsi Kepulauan Riau, 11 Januari 2020.
Kapal penjaga pantai Cina terlihat dari kapal TNI AL saat melakukan patrol di Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia di perairan Natuna Utara di Provinsi Kepulauan Riau, 11 Januari 2020.
Antara via Reuters.

Tentara Angkatan Laut Indonesia pada Rabu (22/7), melakukan latihan tempur di sekitar perairan Laut Jawa yang direncakan hingga wilayah Natuna Selatan di Kepulauan Riau sebagai bagian dari kegiatan meningkatkan keterampilan pasukan “paling kompleks” selama seminggu, demikian juru bicara Komando Armada I TNI AL.

Latihan yang dimulai pada 18 Juli 2020 tersebut akan berakhir pada Minggu, 26 Juli 2020, dengan manuver wilayah latihan dimulai dari Laut Jawa, Tanjung Uban hingga ke Natuna Selatan, sebut Kadispen Koarmada I TNI AL, Letkol Laut Fajar Tri Rohadi.

“Dalam tingkat armada, ini latihan yang paling kompleks, karena nanti ada lagi latihan yang levelnya Angkatan Laut keseluruhan,” kata Fajar kepada BenarNews.

Fajar mengatakan latihan ini melibatkan 2.000 personel, 26 kapal perang (KRI), 15 pesawat tempur TNI AL, dua pesawat tempur milik TNI AU, dan 18 kendaraan tempur maritim. Adapun unsur yang terlibat antara lain Koarmada I, Kolinlamil (Komando Lintas Laut Militer), Marinir dan Puspenerbal (Pusat Penerbangan Angkatan Laut).

“Ini dalam rangka latihan perang, sesuai program kita, dan ini latihan rutin bertingkat dari latihan perorangan, kelompok, (dan) satuan,” kata Fajar.

Pada agenda hari ini, Fajar menyebut pasukan melakukan sejumlah latihan pengendalian kerusakan, komunikasi, simulasi perang anti-kapal selam hingga perang di permukaan.

Sebuah skenario penyerangan KRI Semarang 594 oleh enam pesawat tempur asing dilakukan di sekitar perairan Laut Jawa.

Dalam latihan di Laut Jawa itu, pasukan melakukan simulasi serangan balasan dengan menembakkan enam pesawat tempur dengan senjata mesin amunisi 76 mm yang terdapat pada KRI, Viva.co.id melaporkan.

“Latihan didesain dalam skenario latihan layaknya pada operasi sesungguhnya, sehingga memungkinkan masing-masing Kotama memainkan peran sesuai tugas dan fungsinya dalam satu rangkaian tugas tempur,” kata Panglima Koarmada I, Laksamana Muda TNI Ahmadi Heri Purwono dari atas KRI Semarang 594, seperti dikutip Viva.co.id.

Dalam keterangan pers terpisah, Heri mengatakan latihan yang digelar seluruh unsur TNI AL ini dilakukan dengan beberapa doktrin peperangan meliputi peperangan anti-udara, anti-kapal selam, kapal permukaan, operasi pasukan khusus hingga pendaratan amfibi di daerah latihan TNI AL di Pantai Todak Dabo Singkep, Kepulauan Riau.

“Koarmada I menyelenggarakan Latihan Geladi Tugas Tempur Tingkat III (L-3) satuan-satuan Koarmada I dengan Geladi Posko di Jakarta dan Tanjung Uban serta Manuver Lapangan di Laut Jawa-Laut Natuna Selatan-Dabo Singkep guna meningkatkan kemampuan dan keandalan satuan,” tukasnya.

Pada pertengahan Juni 2020, TNI AL menyiagakan empat kapal perang di sepanjang perairan Natuna untuk mengantisipasi peningkatan ketegangan antara Cina dengan Amerika Serikat (AS) di Laut Cina Selatan.

Kadispen Koarmada I ketika itu mengatakan kehadiran empat KRI adalah sebagai bentuk bentuk kedaulatan dan melindungi kepentingan Indonesia di perairan yang jadi sengketa sejumlah negara tersebut.

“Dalam hal ini Koarmada I terus menyiagakan unsur KRI di Natuna serta sebagai langkah antisipasi meluasnya dampak memanasnya tensi di Laut Cina Selatan,” kata Fajar waktu itu.

Mengirim pesan

Pengamat Militer Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia, Beni Sukadis, menilai latihan perang yang dilakukan TNI AL di Laut Jawa hingga perairan Natuna Selatan ini merupakan upaya untuk menegaskan kedaulatan maritim Indonesia.

“Apakah nanti jadi memanaskan situasi? Saya kira tidak,” saat Beni ketika dihubungi, Rabu.

“Artinya kita menunjukkan bahwa kita punya kapal perang segini, kita pernah latihan. Meski masih ada kekurangan kapal perang, menunjukkan bahwa kita punya ketegasan ini adalah wilayah kami dan kami berdaulat,” tambahnya.

Terlepas dari situasi di Laut Cina Selatan, Beni menilai penting bagi TNI AL untuk rutin melakukan latihan penguatan komando serta keterampilan pasukan.

“Kalau dari sisi capacity building dan profesionalisme latihan rutin itu perlu. Bisa setahun sekali, bisa setahun dua kali. Itu juga bisa memberikan pesan bahwa kita berupaya meningkatkan kapasitas prajurit AL kita,” tukasnya.

Laporan Global Power Fire (GFP) 2019 melaporkan Indonesia memiliki 282 peralatan AL yang di antaranya terdiri dari tujuh kapal fregat, 24 kapal korvet, 5 kapal selam, dan 156 kapal patroli.

Laporan tersebut juga menyebut bahwa Indonesia hingga kini belum memiliki kapal perusak dan kapal induk yang mampu mengangkut pesawat tempur. Kendati demikian, armada TNI AL berada di peringkat ke-10 dari 138 negara di dunia yang masuk dalam survei tersebut.

Pada pertengahan 2019, TNI AL juga pernah melakukan latihan Armada Jaya ke-37 yang berlangsung selama satu bulan penuh di sekitar perairan Utara Jawa.

Latihan diikuti 8.493 personel yang berasal dari gabungan sejumlah komando tugas.

Sebanyak 18 KRI yang di antaranya terdiri dari kapal selam, kapal cepat rudal, kapal perusak rudal, angkut tank, kapal tanker, dan kapal bantu rumah sakit, juga dilibatkan dalam latihan tersebut.

Sementara itu di Jakarta, pada hari yang sama, Badan Keamanan Laut (Bakamla) meresmikan Pusat Informasi Maritim Indonesia (Indonesia Maritime Information Centre/IMIC) di Markas Besar Bakamla, demikian laporan Antara.

Kepala Bakamla Laksamana Madya TNI Aan Kurnia menjelaskan bahwa pembentukan IMIC merupakan amanat undang-undang terkait pertukaran data dan informasi dalam rangka penegakan hukum di laut. Informasi dari IMIC akan bisa diakses umum, demikian kata Aan.

Tampilan selengkapnya